"Di mana foto pernikahan kita?" tanya Carmelyn iseng, sembari mengelilingi rumah.
Thunder, pria itu sedang memasak sarapan di dapur. Hanya mengenakan boxer tanpa pakaian atas, rambutnya juga masih sedikit basah, sisa keramas. Pria itu menoleh, memandang Carmelyn yang kini duduk di meja makan sembari mengamati kegiatannya.
"Kita 'kan kawin lari. Tentu, belum punya foto resepsi."
Haha ..., batin Carmelyn tertawa. Betapa mudahnya Thunder mengarang alasan, membuat wanita itu tertawa terbahak-bahak dalam hati. Mengingat betapa bodohnya dirinya di masa lalu yang percaya begitu saja pada ucapan pria brengsek yang dengan mudahnya mengarang cerita.
"Memangnya, sejauh apa yang ada di ingatanmu?" balas Thunder sembari datang ke meja makan membawa dua piring sarapan.
Itu adalah omelet, tumis daging cincang, dan salad sayur. Carmelyn tidak langsung menjawab, berlagak berpikir. Ayo, coba lihat kelihaian Carmelyn mengarang cerita juga!
"Kupikir, kita sudah melakukan resepsi. Bahkan, kita sudah menikah selama sepuluh tahun, kan?"
Tidak, ini bukan karangan, tetapi kenyataan di mana Carmelyn dulu hidup. Namun, jelas perkataannya itu membuat Thunder termanggu. Ia tertawa kecil.
"Sepertinya, saat koma, kamu mengalami delusi."
"Delusi? Itu terasa sangat nyata, loh!" Carmelyn berlagak keras kepala.
"Iya, baiklah. Mati menikah untuk waktu yang lama."
***
Thunder pergi ke kantor. Kini, Carmelyn menelisik sekeliling ruangan di kamar. Ia memeriksa komputer Thunder, lalu mengambil beberapa flashdisk untuk menyalin file penting yang sekiranya bisa membantu menghancurkan Thunder.
Setelah selesai dengan kegiatannya, Carmelyn pulang ke rumah orang tuanya. Namun, jelas papa dan kakaknya sedang bekerja. Ada sesuatu yang ingin Carmelyn cari di dalam ruangan sang papa.
Jika tidak salah, di balik kesuksesan bisnis sang papa, pria paruh baya itu memiliki hubungan dengan kelompok penjahat. Lebih tepatnya, kelompok pembunuh bayaran yang digunakan untuk membunuh orang tua Thunder. Ia ingin menggali informasi tentang itu.
Selama beberapa jam, Carmelyn merenung tentang apa yang harus ia lakukan terlebih dulu untuk membalas dendam pada Thunder. Hingga sebuah ide terlintas di kepalanya.
"Bukankah dia sangat membenci Damian? Awal rencana pembalasan dendamnya juga saat dia bisa mendapatkan kelompok mafia itu, 'kan?"
Tanpa pikir panjang, Carmelyn langsung bergegas pergi ke tempat di mana ia bisa melangsungkan rencananya.
***
Carmelyn memesan satu gedung restoran hanya untuk pertemuan dengan Damian. Ia tak menyangka, pria itu langsung mengiyakan keinginannya bertemu. Beruntung. Seolah Dewi Fortuna sedang benar-benar menari di balik punggungnya.
Nomor Damian yang tertinggal di biodatanya yang ada di komputer Thunder membuat rencana Carmelyn berjalan mulus.
"Apa pun yang terjadi di sini, silakan tutup mata dan telinga kalian," pesan Carmelyn kepada manajer restoran itu.
Bukan restoran besar, itu restoran makanan biasa bergaya klasik dengan dekorasi kayu dan daun buatan. Tempat yang cukup nyaman untuk pertemuan keluarga. Bukan jenis restoran berkelas untuk konglomerat atau dating pasangan.
Bukan tanpa sebab Carmelyn berpesan demikian. Itu karena ia memiliki rencana jahat yang akan dibahas dengan Damian. Rencana jahat yang menyangkut nyawa seseorang.
Carmelyn pun memilih meja dan kursi di ujung ruangan yang cukup luas itu. Ia sengaja pergi ke tempat yang cukup jauh dari pandangan para pegawai yang tampak senang karena bisa leha-leha untuk waktu yang cukup lama.
Menit demi menit berlalu, bahkan sudah satu jam Carmelyn menunggu. Namun, orang yang ia nantikan tidak kunjung datang. Rasa bosan sudah mulai menggerogoti kesabarannya. Ia sudah bermain ponsel untuk waktu yang lama hingga ia tidak tahu lagi harus mencari sisi mana lagi dari benda pipih itu yang sanggup mengatasi kebosanannya.
Carmelyn benci menunggu.
"Kenapa kau ingin menemuiku?" tanya Raymond begitu tiba di restoran yang ditentukan.
Namun, kedatangannya itu tidak disambut baik oleh Carmelyn. Kedua alis wanita itu menukik, tatapannya menahan tak suka.
"Aku tidak ingin menemuimu, Brengsek. Aku ingin menemui pria bernama Damian."
Tanpa mengindahkan tatapan tajam yang kengekori pergerakannya, Raymond langsung menarik kursi di seberang Carmelyn lalu duduk menghadap wanita itu dengan cengiran khasnya yang menyebalkan. Sukses membuat Carmelyn makin menyipitkan mata, jengah.
"Kau pikir siapa dirimu sampai bermimpi bisa menemui Damian dengan cara seperti ini?"
Carmelyn berdecak. Ia langsung mengeluarkan sebuah amplop kepada Raymond. Meskipun dia sangat tidak puas karena yang menemuinya bukan Damian, melainkan cecunguk satu ini, untungnya Carmelyn sudah menyiapkan amplop pesannya. Ia sendiri sudah memiliki sedikit dugaan tentang hal ini.
"Sampaikan pesan ini pada Damian."
Raymond hendak mengambil amplop itu, tetapi dia sengaja menyentuh tangan Carmelyn dan mengusapnya lembut dengan pandangan nakal. Melihat itu, Carmelyn menyeringai. Justru, tangan kirinya bergerak mengelus balik punggung tangan Raymond, membuat pria itu agak tersentak. Namun, senyumannya jelas makin lebar bersemangat dan membalas elusan lembut Carmelyn.
Saat pandangan Raymond lalai, diam-diam tangan kanan Carmelyn mengambil garpu dan dengan hitungan detik ia mengangkat benda itu tinggi-tinggi dan menancapkan ujung runcingnya telah ke punggung tangan Raymond yang ia tahan dengan tangan kirinya. Suara teriakan Raymond terdengar memekakkan telinga. Menyita perhatian beberapa pegawai restoran.
Beberapa pegawai tampak panik, tetapi setelah beberapa saat berlalu, mereka memilih segera berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Mengingat pesan yang ditinggalkan Carmelyn, apa pun yang terjadi, mereka harus tutup mata dan telinga. Ya, meskipun niat Carmelyn mengatakannya bukan untuk peristiwa tusuk menusuk tangan seperti ini.
"Apa yang kau lakukan, Gila?!"
Dengan entengnya, Carmelyn mencabut garpu yang cukup kuat tertancap itu, membuat Raymond kembali memekik kesakitan. "Intinya, sampaikan pesan ini pada Damian."
Carmelyn bangkit, ia hendak pergi. Namun, Raymond tak mau tinggal diam. Ia ingin menyentuh Carmelyn, dalam artian melakukan kekerasan. Namun, mengingat bagaimana Thunder mengamuk sampai membuat beberapa harinya terputus, ia mengurungkan diri.
Matanya jatuh pada amplop yang terkena noda darah dari tangannya. Dengan kesal, ia mengambil dan membukanya. Meskipun itu pesan untuk Damian, tapi ia juga penasaran. Saat kertas itu terbuka, rentetan tulisan di atasnya membuat kedua bola mata Raymond membelalak hingga ia memelototi punggung Carmelyn yang makin mengecil ditelan jarak.
"Membunuh Thunder? Wanita itu? Apa dia gila?"
***
"Kau yakin ini dari Carmelyn tunangannya Thunder?" tanya Damian mengerutkan kening.
Pria bersurai kecokelatan itu tampak menyipitkan mata curiga. Ia memangku dagu di atas kedua punggung tangannya yang saling menyatu. Sikunya bertumpu pada meja kerja, seolah sedang menahan beban pikiran dalam kepalanya yang berisik.
"Kau juga merasa aneh, 'kan? Aku juga tidak percaya jika wanita itu meminta bekerja sama dengan kita untuk membunuh Thunder. Tidak, dia bahkan dengan jelas meminta pembunuh bayaran. Apa itu masuk akal?"
Rahang Damian mengeras. "Selidiki dulu wanita itu."
Salah satu sudut bibir Damian terangkat, menyeringai penuh kemenangan.
"Akan sangat bagus jika dia bersungguh-sungguh dengan tawarannya."
***
Huwaaa... Maaf banget baru up lagi. Seperti yang sudah-sudah, akun WP author sering eror + kemarin sempat susah login. Beberapa hari yang lalu Author baru up di lapak sebelah setelah Hiatus 1 tahun wkwkwk....
KAMU SEDANG MEMBACA
Villain's Dirty Scandal
RomanceBos Besar langsung panik saat calon istri yang bakal jadi objek balas dendam atas kematian ortunya mendadak tantrum ingin membatalkan pernikahan di H-3 pernikahan. Carmelyn, mendadak dapat ingatan dari kehidupan sebelumnya. Ternyata selama ini Carm...
