29.

2.3K 161 12
                                        

Carmelyn duduk termenung di atas sofa, menyandarkan tubuhnya ke bantalan empuk di sana

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Carmelyn duduk termenung di atas sofa, menyandarkan tubuhnya ke bantalan empuk di sana. Memandang kosong meski pikirannya dipenuhi kebisingan yang begitu mengganggu. Carmelyn yakin seratus persen dia telah berhasil membunuh Thunder. Namun, bukankah terlalu tidak masuk akal ia malah kembali di titik sebelum kematian pria itu?

"Ini benar-benar tidak masuk akal," gumamnya lirih sembari mengetuk-ngetuk ujung kukunya di kulit sofa.

Setidak masuk akal Carmelyn kembali ke masa lalu. Sesaat ia baru tersadar, bahkan sosoknya sendiri yang dari masa depan kembali ke masa lalu juga tidak masuk akal sama sekali. Tidak, bukan hanya kembali dari masa depan, tetapi berebut tubuh seolah ada dua jiwa Carmelyn di dunia ini.

Menegakkan badan, Carmelyn menatap tajam jam dinding. Jarum pendeknya menunjuk ke angka tujuh, sementara jarum detik terus menciptakan bunyi detak yang teratur. Carmelyn tidak ingat tepat waktu kepulangan Thunder, tetapi seharusnya sebentar lagi pria itu pulang.

"Apakah aku harus meracuninya lagi?"

Masih sibuk berpikir keputusan apa yang akan ia ambil, suara kenop pintu diputar membuat pandangan Carmelyn teralihkan ke asal suara. Di balik pintu putih itu, sosok pria dengan tinggi menjulang muncul masih lengkap dengan setelan formal.

"Sayang, aku pulang!" ucap Thunder melangkah mendekat.

Carmelyn memandang datar kedatangan Thunder, ia memandang dalam saat pria itu berlutut di hadapannya. Tidak ada senyum, tetapi tatapan pria itu terasa asing. Tidak, pria itu tidak sedang menatapnya dingin. Masih tidak memiliki ekspresi berarti, memang. Namun, tatapannya lebih lunak, itu mengusik sudut hatinya yang lain. Menciptakan pertanyaan penuh keraguan.

Apakah dia membunuh orang yang sama? Apakah Thunder ini adalah Thunder yang begitu dingin memperlakukannya? Apakah Thunder yang ini tidak pantas dihukum atas dosanya di masa depan? Apakah Carmelyn bahkan tidak punya hak untuk membalas dendam?

Kedua alis Carmelyn yang sampai bertautan memandang begitu dalam ke wajah Thunder membuat pria itu heran. "Apa yang sedang kau pikirkan hingga alismu mengkerut, hah?"

Thunder mengetuk lembut kening Carmelyn, membuat wanita itu tersadar. Mengalihkan pandangan sekilas, Carmelyn menghela napas panjang.

"Sepertinya kau sedang memiliki masalah berat?" tebak Thunder. Pria itu duduk di sebelah Carmelyn, lalu tangannya memeluk pinggang ramping wanita itu. "Berceritalah!"

Carmelyn menggigit bibirnya sejenak, lalu memandang Thunder. Sedetik kemudian, wajah yang mula dipenuhi awan mendung itu berubah menjadi mentari yang baru terbit. Cerah dan hangat dengan lengkungan senyum di bibirnya.

"Aku sudah menunggumu lama."

Carmelyn bangkit, berjalan ke arah dapur. "Aku buatkan kopi, ya?"

"Boleh."

Tak berselang lama, Carmelyn kembali datang dengan segelas kopi. Thunder menerimanya, meniupnya sebentar lalu menyesapnya sedikit. Karena masih panas, ia menaruhnya di atas meja.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 26, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Villain's Dirty Scandal Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang