19

8.2K 635 16
                                        

Carmelyn's POV

Kupikir, mimpi buruk itu akan usai saat aku memutuskan pernikahan kami. Namun, rupanya itu salah. Seperti saat ini, lagi-lagi aku bermimpi buruk. Tak seperti mimpi-mimpi sebelumnya di mana aku yang menderita. Kali ini, hal yang tak biasa.

"Bagaimana bisa kau mati seperti ini? Jawab aku, Carmelyn! Jawab!" teriak Thunder begitu kacau, memandang penuh kebencian pada tubuhku. Iya, tubuhku yang terbujur kaku dan sudah membiru dengan sisa luka yang diperban di kepala.

Thunder mengeram, meraung sambil memukul brangkat. Mungkin, berharap aku akan terkejut atau terganggu sehingga akhirnya mau bangun. Namun, itu 'kan tidak mungkin. Tubuhku yang itu, jelas sudah mati. Yang kuyakini penyebabnya adalah dalam kecelakaan truk di salah satu mimpiku yang lalu.

Saking tidak terimanya, Thunder bahkan sampai jatuh ke lantai. Dia menangis, meraung, suaranya keras dan membuatku terenyuh. Namun, saat segalanya perlahan memburam, tiba-tiba ketika mengerjapkan mata, aku sudah berada di tengah pemakaman.

Keadaan yang sebelumnya terang, mendadak menjadi gelap dan dipenuhi hujan petir. Seharusnya, aku takut karena mendadak berada di tengah pemakaman yang menyeramkan. Namun, keberadaan Thunder yang hanya diam sambil memeluk gundukan tanah, membuat hatiku teriris.

"Kenapa kau meninggalkanku? Siapa yang menyuruhmu mati, hah?! Kau pikir kau siapa? Nyawamu, hanya milikku. Brengsek! Kau akan membusuk di dalam sana!"

Meski hatiku begitu rapuh untuk Thunder, tetapi aku tahu jelas itu bukan cinta yang tulus. Itu adalah dendam yang perlahan membungkus diri dalam obsesi gila. Mataku bergetar, sesaat melihat Thunder tertawa menyeramkan sembari menggali gundukan tanah itu dengan kedua tangannya.

Tubuhnya kotor, basah, tetapi masih tak peduli. Hujan semakin deras, kilat silau mengancam, sementara guntur semakin menggelegar. Namun, Thunder seperti orang kesetanan menggali tanah becek itu.

Begitu 'lah akhirnya aku terbangun perlahan. Keadaan gelap, tetapi mataku beradaptasi dengan cepat, membuatku segera menyadari aku masih berada di dalam tenda. Mendudukkan diri, hatiku jadi begitu sesak. Aku berusaha mencamkan pada diri sendiri untuk tidak akan bersama Thunder lagi. Namun, entah mengapa aku tetap menangis. Aku tahu betul, bersama Thunder bukan pilihan, melainkan kutukan.

Hanya saja, sampai kapan mimpi-mimpi buruk itu akan terus menghantuiku? Sebenarnya, ini ada apa?

Menghela napas panjang, aku merangkak keluar dari tenda. Di luar masih tampak gelap, aku memilih duduk di luar tenda. Membiarkan dinginnya embusan angin menyapa kulitku yang membuatku menggigil. Kupeluk diri sendiri, berusaha menghangatkan dan menenangkan perasaanku yang tak karuan.

 Kupeluk diri sendiri, berusaha menghangatkan dan menenangkan perasaanku yang tak karuan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***

"Carmel! Kita sampai!" teriak Viona sambil mengatur napas, berdiri begitu gagah dengan tubuh rampingnya yang menawan.

Villain's Dirty Scandal Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang