18.

9.2K 552 24
                                        

"Toxic positivity?"

"Iya. Dan kamu udah masuk ke rencana dia."

Carmelyn tersenyum meledek Viona. Disenggolnya lengan Viona, tetapi malah dibalas delikan tajam. Ah, sepupunya ini memang sulit diajak bercanda.

Berdeham sejenak karena suasana mendadak akward, Carmelyn menggumam. "Ini terlalu jauh, nggak, sih?" Mulut Carmelyn mengerucut. "Gini, dulu kenapa kamu ngambek sampai bertahun-tahun ke aku? Hm ... kalau aku nggak salah ingat, itu gara-gara pacar kamu, nggak, sih? Pacarmu dipukul Thunder?"

Baru Viona memutar bola mata malas dan menjawab dengan benar.

"Iya. Dan tahu, nggak, pacarku dipukul Thunder perkara aku aduin kelakuan dia ke kamu." Viona berdecih. "Dia itu bisa ngelakuin semuanya demi bisa kelihatan baik di depan kamu. Kalau dibilang tulus, ini kebangetan. Firasatku dia ada sesuatu."

"Cinta maksudnya?"

Seketika kepala Carmelyn langsung ditempeleng oleh Viona. Kesal sekali wanita itu jika berbicara dengan Carmelyn. Otaknya itu, loh! Katanya buat healing buat move on, kenyataannya? Thunder saja yang dipikirkan!

Bukan merasa bersalah, Carmelyn meringis. "Eh, tapi kamu sama pacarmu yang itu masih langgeng sampai sekarang?"

"Nggak, sih. Kita putus karena beda prinsip." Viona memandang Carmelyn dalam. "Kalau dipikir-pikir, selama ini kamu bergaulnya emang sama Thunder terus, sih. Pas di sekolah, kamu ngapa-ngapain sama dia terus. Kamu harus tahu kalau Thunder itu nggak segan mukul anak laki-laki yang berani deketin kamu."

"Bagus, dong!" Carmelyn memiringkan wajah, karena berpikir itu hal yang wajar karena Thunder adalah kekasihnya. "Justru aku ngerasa dilindungi banget sama Thunder."

Sabar .... Andai bukan karena kesabaran seluas samudera Viona, maka bukan tidak mungkin wanita itu melempar Carmelyn ke jurang di sampingnya.

"Kadang baik sama bodoh itu beda tipis," cibir Viona telak membuat Carmelyn kicep.

"Nggak cuma anak laki-laki," tambah Viona sambil memutar bola mata ketika harus mengingat kembali kenangannya yang selalu didominasi keburukan jika menyangkut tentang Thunder.

"Dia juga nggak segan buat ngancam sampai hajar anak perempuan yang berani deketin kamu. Sekalipun itu cuma ngajak masuk organisasi. Dia tuh udah berandal sejak di bangku sekolah, tahu! Cemburuannya gila! Aku nggak tahu, kamu tahu atau enggak, tapi dia pernah matahin kaki salah satu anak OSIS perkara dia mau ngajak kamu masuk organisasi."

Viona mengepalkan tangan, lalu memukulkannya di telapak tangan yang lain dengan kesal. "Yang lebih brengsek, dia pernah sengaja njulurin kaki sampai aku tersandung dan jatuh dari tangga."

Kali ini kening Carmelyn mengernyit. Terlebih, saat Viona menyibak Ponorogo tipis yang menutupi keningnya. Ditunjukkannya bekas luka kecil yang nyaris pudar. "Ini bekas luka aku jatuh dari tangga."

Termenung, Carmelyn dibuat tak habis pikir. Benarkah Thunder yang didefinisikan Viona adalah Thunder yang sama dengan pacarnya selama ini? Rasanya tidak mungkin, orang Thunder sangat pendiam dan giat belajar. Memang benar, Carmelyn tahu jika sesekali Thunder ikut kompetisi tinju ilegal untuk mencari uang. Namun, itu 'kan hanya di area tinju.

Jangankan memukul orang, yang membuat Carmelyn makin jatuh hati karena Thunder rutin memberikan makan kucing yang ada di gang sebelah sekolah. Thunder sepenyayang itu pada hewan. Itu membuatnya teringat saat Thunder berlari ke klinik hewan menggendong kucing yang kakinya patah akibat ditabrak motor.

Carmelyn melihat dengan kedua mata sendiri kejadian yang sempat menjadi tontonan itu. Bahkan, ia mengikuti langkah Thunder hingga ia memilih berhenti di luar klinik, menyaksikan sendiri bagaimana Thunder yang setia menunggu si kucing diobati sampai membawanya pulang. Seingat Carmelyn, itu adalah awal-awal pertemuan kecil mereka saat Thunder masih berstatus sebagai murid pindahan.

Villain's Dirty Scandal Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang