Pintu apartemen tertutup, Delilah segera melepas sepatu, menaruhnya di rak. Namun, saat ia menyalakan lampu, betapa terkejutnya ia saat mendapati sosok pria sedang duduk di sofa sembari menyilangkan kaki tepat di tengah ruangan apartemennya yang desainnya terbuka. Ruang tamu, dapur, dan meja makan yang ada dalam satu ruangan luas tanpa sekat.
"Cukup mengejutkan melihatmu masih hidup." Pria itu menegakkan tubuh, menumpu sikunya di atas paha sembari menyatukan telapak tangan. "Kupikir setelah si Demian bajingan itu kembali, kau juga akan segera mati."
Gigi Delilah bergemerutuk. "Saya hanya beruntung dan melakukan tugas seperti yang Anda minta."
Pria itu memiringkan wajah. Tersenyum. "Kau berhasil jadi anak kesayangan Cornelius?"
"Belum kesayangan, tetapi paling tidak dia membela saya." Delilah berjalan mendekat, tetap berdiri. "Tuan, tolong lindungi saya. Saya mengaku salah untuk yang waktu itu. Saya tidak akan mengulangi kesalahan, dan hanya akan menuruti perintah Anda."
Thunder, pria yang dipanggil tuan itu menyeringai. "Bagaimana, ya? Kalau dibilang lancang, sebenarnya kemarin-kemarin seharusnya aku sudah membunuhmu. Tapi melihat kemajuanmu, kau cukup pintar juga sampai bisa mengelabuhi Cornelius. Bagus! Jangan sampai ketahuan! Kalau ketahuan, kau 'kan mati sendiri."
Mendengar ucapan Thunder, Delilah pun membungkuk. "Terima kasih, atas kemurahan hati Tuan."
Thunder bergerak, mencari posisi duduk yang lebih nyaman. Pria itu melambaikan tangan, meminta Delilah mendekat. Wanita itu tampak ragu untuk mendekat. Berpikir, terlalu banyak kemungkinan buruk yang akan terjadi jika dia berada dalam jarak kurang dari tiga meter dari Thunder.
"Tidak mau mendekat?"
Tubuh Delilah menegang, berusaha tersenyum dan bersikap setenang mungkin. "Tidak berani. Saya akan mendengar perintah, Tuan."
Berdecih, Thunder manggut-manggut. "Kau cukup pintar. Tadi aku sempat berpikir untuk mematahkan lehermu."
Dalam hati Delilah sudah semakin mendidih dan siap meledak jika berhadapan dengan Thunder. Ingin rasanya ia mencabik-cabik pria itu hingga menjadi bubur. Hanya saja, kekuatannya belum cukup.
"Delilah, aku ingin kau menemukan surat kepemilikan tanah, perusahaan, saham, dan semua aset atas nama margaku, Maximilian, yang diklaim si tua Bangka itu."
"Baik, Tuan."
"Oh, dan aktingmu sangat bagus. Tadi aku hampir saja mencekikmu andai aku tidak ingat aku yang memintamu melakukannya. Kerja bagus. Aku akan mengirim hadiah untukmu dalam beberapa hari."
***
Carmelyn menangis, ia memilih mengungkapkan isi hatinya pada Charles melalui video call. Sayang sekali, sang kakak sedang sangat sibuk. Hari ini dia di negara A, setelah kemarin dari negara B, dan sebentar lagi bersiap take off ke negara C.
"Tenanglah, jangan khawatir. Dia tidak akan pernah menjadi bagian dari keluarga Mackenzie. Entahlah, kupikir Papa juga sedang merencanakan sesuatu."
"Papa? Papa merencanakan apa?"
"Eh, ya? Aku bilang apa tadi? Ah, ya, tentu saja merencanakan perluasan bisnis."
Kening Carmelyn mengerut. Apakah hanya perasaannya saja, tetapi bukankah suara Charles barusan terdengar seperti orang keceplosan. Dia panik. Keadaan hening sejenak.
"Apakah ucapan Kakak yang waktu itu bersungguh-sungguh?" tanya Carmelyn akhirnya mengalihkan topik saja.
Toh, dia tidak terlalu paham masalah bisnis. Yang jelas, ia bisa menangkap jelas ada sebuah rahasia yang tidak boleh diketahuinya. Ya, masa bodoh juga. Lagipula, mau ada dan tidak ada Carmelyn dalam bisnis keluarga, semua akan tetap sama. Saham naik, untuk banyak, bisnis meluas, dan Mackenzie semakin kaya raya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Villain's Dirty Scandal
RomanceBos Besar langsung panik saat calon istri yang bakal jadi objek balas dendam atas kematian ortunya mendadak tantrum ingin membatalkan pernikahan di H-3 pernikahan. Carmelyn, mendadak dapat ingatan dari kehidupan sebelumnya. Ternyata selama ini Carm...
