16

11.5K 722 18
                                        

Budayakan vote dan komen bukan hanya karena kamu menyukai babnya, tapi untuk support authornya sepenuh hati.

Thank you! 😘

***

"Ini rencanamu, 'kan?" tuduh Carmelyn begitu Thunder menyusulnya ke kamar.

Mendapat tuduhan demikian, Thunder lantas tersenyum. "Rencana seperti apa?"

"Aku sudah memikirkannya sejak tadi, rasanya terlalu tidak mungkin jika aku dan Delilah mendadak jadi saudara tiri. Kecuali ..." Carmelyn memandang tajam Thunder hingga wajahnya mendongak. "Kalau kau yang merencanakan semua ini."

"Ugh!" Thunder berlagak kesakitan sambil memegangi dadanya. "Rasanya aku seperti dituduh tanpa bukti. Tapi, Carmelyn, apa untungnya aku merencanakan persaudaraan antara dirimu dan Delilah jika kenyataannya bukan seperti itu?"

Kali ini Carmelyn terdiam. Apa untungnya?

"A-aku tidak tahu untungnya, tapi firasatku mengatakan kau sedikit aneh belakangan ini."

Tanpa permisi, tangan Thunder menyusup ke leher, mengusap lembut lalu menahan tengkuk Carmelyn. Mata legam itu menatap lurus pada Carmel, sesekali memiringkan wajah untuk mengamati si jelita ini lebih seksama. Jujur saja, dalam hati, Carmelyn cukup dibuat gentar.

"Kalau Thunder mau macam-macam, Ca-Carmel bakal teriak."

Carmelyn berusaha memundurkan wajah saat Thunder mendekatkan wajah. Namun, tangan Thunder di tengkuknya menahan, membuat Carmelyn mau tak mau berhadapan dalam jarak yang sangat tipis.

"Memangnya Carmel pikir Thunder mau ngelakuin apa?"

Tunggu, Carmelyn mengernyitkan kening. Ucapan Thunder barusan, entah mengapa seperti mengejek nada dan cara bicara Carmelyn.

"Tuh, kan, benar! Thunder belakangan ini jadi makin ngeselin, deh!"

"Carmel duluan yang bikin Thunder kesal."

"Nggak usah ikutin cara ngomong aku, ya!"

"Yang gimana, tuh?"

"Ih!"

Gedebuk!

Thunder terdorong, membuat tubuh besarnya otomatis menabrak Carmelyn. Namun, pria itu berusaha menahan tubuh Carmelyn agar tidak terjatuh. Pria itu mengeram saat kepalanya terbentur pintu cukup keras.

"Carmelyn, rapikan barang-barangmu, kita keluar dari rumah ini!" teriak Charles merengsek masuk kamar Carmelyn penuh luapan emosi.

Begitu memendarkan pandangan, emosi Charles lenyap seketika tidak mendapati Carmelyn di dalam kamar. Ia panik, tetapi begitu menoleh ke belakang pintu, ia nyaris terlonjak karena Thunder sedang memelototinya. Di sebelah Thunder, Carmelyn juga tampak terkejut. Yang jadi pusat perhatian Charles selanjutnya adalah letak tangan Thunder yang masih bertengger nyaman di pinggang Carmelyn. Membuat kedua mata kakak laki-laki itu menyipit tajam.

"Jangan pegang-pegang adekku!" sungut Charles layaknya induk singa melindungi anaknya.

Tak sampai di sana, Charles bahkan segera menarik tangan Carmelyn lalu mendorong tubuh Thunder hingga lagi-lagi kepalanya terbentur pintu. Tidak lantas membalas emosi, Thunder terdiam menahan emosi sampai giginya gemerutuk. Pandangan Thunder terangkat, memandang Charles kesal.

"Oh!" Charles menjentikkan jari. "Kau sudah berani menatapku terang-terangan seperti itu, ya, di depan Carmelyn? Bagus, lihat, Carmelyn, selama ini, Thunder itu cuma memakai topeng. Aslinya, dia, ya, liar kaya monyet di hutan!"

Villain's Dirty Scandal Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang