"Aku akan membunuhmu, Delilah!" teriak Carmelyn yang 'itu' lagi.
Delilah dengan gaun merah yang sengaja dipakainya untuk menantang berjalan anggun. Di sisi lain, Carmelyn memakai gaun hitam, yang kontras membuat kulit putihnya tampak begitu berkilau, juga berlari mendekati Delilah. Delilah, wanita itu membiarkan begitu saja ketika Carmelyn menerjang tubuhnya hingga keduanya ambruk ke lantai.
Carmelyn jatuh di atas tubuh Delilah, menjambak rambut Delilah dengan kencang, tetapi dibalas kontan dengan jambakan yang tak kalah kuat. Carmelyn sempat memekik, kekuatan cengkeramannya berkurang, begitu ia kembali hendak membeli pelajaran Delilah, satu tamparan keras mendarat di wajahnya.
Pikirannya kosong sepersekian detik, sehingga dengan mudahnya Delilah membalikkan keadaan. Wanita itu menduduki tubuh Carmelyn, lalu menampar wajah Carmelyn. Tidak sekali dua kali, tetapi berkali-kali dengan suara nyaring hingga kedua pipi Carmelyn merah dan bengkak.
"Aku akan membunuhmu, Delilah!"
"Aku yang akan memastikan kau mati mengenaskan lebih dulu, Carmelyn."
Suara langkah beberapa orang terdengar mendekat, membuat pertengkaran kedua wanita itu terinterupsi. Saat itu, Delilah sengaja mundur. Carmelyn segera bangkit, ia hendak menyerang balik Delilah.
Namun, dengan hebatnya, Delilah sengaja menampar wajahnya berkali-kali pula, bahkan, sampai di sudut bibirnya berdarah. Terlebih, dia menambah lukanya dengan sengaja membantingkan kepalanya sendiri ke dinding. Tiga kali hingga rembesan darah mengalir di pelipisnya.
Jelas Carmelyn hanya bisa dibuat terdiam melongo melihat apa yang wanita licik itu lakukan. Bahkan, meski wajah Delilah babak belur, wanita itu malah menyeringai. Seolah pipi bengkak dan rembesan darah dari luka di kepalanya tidak terasa sakit sedikit pun.
Menggelengkan kepala tidak habis pikir, hanya satu kalimat yang bisa keluar di mulut Carmelyn karena tenggorokannya terlalu kering untuk berkata-kata.
"Delilah, kau benar-benar gila."
Delilah hanya tersenyum miring penuh kemenangan. Hanya beberapa detik, karena setelahnya Thunder datang bersama beberapa orangnya. Delilah langsung bersujud memohon ampun di hadapan Carmelyn, membuat wanita itu kembali disulut amarah.
"Ampun, Nyonya. Tolong jangan menyakiti diri Anda sendiri. Saya tidak akan sanggup menahan hukuman dari Tuan."
Ucapan yang sangat jenius karena kalimat itu memang sengaja digunakan untuk memantik pertengkaran antara Carmelyn dan Thunder. Tampak jelas kedua alis Thunder mencuram, terpengaruh oleh kata-kata Delilah. Carmelyn yang merasa tertuduh, segera menggelengkan kepala panik karena tatapan tajam Thunder seolah bersiap menerkamnya.
"Tidak, Thunder! Jangan percaya wanita ular itu! Dia menghajarku sampai seperti ini lalu memukul dirinya sendiri."
"Diam, Carmelyn!" Thunder melirik orangnya. "Bawa dan obati Nona Delilah!"
"Baik, Tuan."
Delilah pun diangkat oleh kedua orang Thunder. Carmelyn melihat itu dengan tatapan membelalak. Saat ia beradu tatap dengan Thunder, pria itu sedang mendelik padanya. Melihat kenyataan sang suami tidak mempercayainya, air mata Carmelyn tak kuasa dibendung.
"Thunder, sungguh, aku tidak berbohong."
Kemudian, Thunder berlutut, dilepasnya jas hitam yang dipakainya lalu dibalutkannya ke tubuh sang istri.
"Lain kali, jangan menyakiti dirimu sendiri seperti ini. Dan tolong, berhenti menyiksa orang lain juga."
"Thunder, kau tidak mempercayaiku?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Villain's Dirty Scandal
RomansaBos Besar langsung panik saat calon istri yang bakal jadi objek balas dendam atas kematian ortunya mendadak tantrum ingin membatalkan pernikahan di H-3 pernikahan. Carmelyn, mendadak dapat ingatan dari kehidupan sebelumnya. Ternyata selama ini Carm...
