Selamat malam!
Jangan lupa vote dan komen yaa
Happy reading😊
___________________________
Selama Seth pergi, yang dilakukan Isabella adalah berleha-leha di istana. Wanita itu lebih banyak menghabiskan waktunya di taman, kamar dan ruang baca. Bahkan ia tidak pernah lagi menginjakan kakinya ke ruang kerja yang beberapa waktu lalu sering ia kunjungi, terlebih Ansel datang ke Baeru setelah Isabella mengirim surat kepada pria itu untuk menyuruhnya datang sehingga membuat Isabella tidak memperdulikan tugas dan tanggung jawabnya sebagai permaisuri.
Pagi yang indah bersama sang kekasih membuat Isabella merasakan kembali ketenangannya. Punggungnya yang bersentuhan dengan dada bidang milik prianya terasa hangat dan nyaman kala Isabella bersandar di sana. Taman istana menjadi saksi bagaimana sepasang kekasih itu menghabiskan waktu di sana.
"Apa yang kau katakan kepada Yang Mulia sehingga beliau mengizinkan ku menginjakan kaki lagi ke Baeru?" tanya Ansel penasaran. Pasalnya terakhir kali berada di Baeru, Ansel harus mengalami luka-luka di wajahnya karena dipukuli oleh ajudan sang raja, setelah itu diusir paksa dan dilarang keras kembali menginjakan kaki ke Baeru. Namun entah mengapa sekarang Isabella justru menyuruhnya datang di saat sang raja sedang pergi.
"Tidak perlu tahu. Yang jelas kau bisa datang kapan pun lagi ke istana, dia tidak akan melarangmu lagi atau mengusirmu." Jujur saja Isabella tidak berniat menceritakan kesepakatannya dengan Seth, bahwa ia harus mematuhi perintah pria itu agar Seth mengizinkannya bertemu dengan Ansel.
"Jika Yang Mulia sudah tahu tentang hubungan kita, bukankah aneh jika dia mengizinkan kita bertemu? Seharusnya Yang Mulia marah kepadamu dan melarangmu menemuiku lagi," ucap Ansel. Begitu heran dengan keadaan ini. "Apa Yang Mulia menyakitimu? Apa dia melukaimu karena tahu kau berselingkuh?" tanya Ansel khawatir.
Isabella menggeleng seraya bangkit dari posisi sebelumnya, menatap Ansel sambil menjawab. "Dia tidak akan bisa melukai ku. Sebelum itu terjadi aku sudah membunuhnya terlebih dahulu." Isabella lalu melanjutkan bersamaan dengan kerutan halus di keningnya. "Aku juga bertanya-tanya kenapa dia membiarkan ku bertemu denganmu, bukankah dengan cara memamerkan hubungan kita kepadanya membuatnya merasa dikhianati dan dinodai kehormatannya? Seharusnya pria itu membenciku karena aku berselingkuh dan menceraikanku lalu mengusirku dari istana ini."
Ansel mengangguk setuju. "Ini membingungkan. Apa Yang Mulia berpikir bahwa setelah ini kau tidak akan bertindak diluar batas lagi sehingga dia memaafkanmu,"
Isabella tertawa remeh. "Memaafkan ku? Aku tidak butuh maafnya. Malah jika dia memukul ku itu sebenarnya lebih bagus lagi agar aku punya alasan untuk berpisah dengannya." Isabella kemudian berpikir sejenak, terbesit sesuatu yang menurutnya perlu ia lakukan. "Sepertinya aku punya cara untuk."
"Tidak akan kudengar jika caramu itu membahayakan dirimu ataupun Yang Mulia," sela Ansel.
"Kau terkesan membelanya, Ansel."
"Kau tahu bukan itu maksudku. Aku tidak akan pernah setuju jika rencanamu itu bisa membahayakan dirimu. Aku akan mengikuti dan mendukung rencanamu tapi tidak jika melibatkan nyawa seseorang harus menjadi taruhannya," jelas Ansel. Pria itu tidak mau membuat Isabella terlibat hal kriminal yang akan membawa petaka bagi wanita itu. "Kita sudah membicarakan hal ini sebelumnya. Jadi ku mohon tetap direncana awal yang telah kita sepakati. Tidak ada yang boleh terluka, kau hanya perlu mendistraksi nya agar dia muak dan bosan denganmu sampai dia menyerah dan menceraikanmu."
"Itu tidak akan berhasil hanya dengan mengganggunya. Pria itu malah senang jika aku berkeliaran di sekitarnya asal kau tahu. Kita perlu cara yang lain Ansel,"
YOU ARE READING
After Life
FantasiaHidup Isabella berjalan dengan sempurna seperti apa yang selama ini ia impikan, hidup sederhana bersama sang suami di sisinya. Namun belum genap satu tahun pernikahan mereka, tiba-tiba gerombolan prajurit istana mengepung rumahnya dan menghabisi nya...
