After Marriage 21

804 64 6
                                        

Selamat malam

Jangan lupa vote dan komen yaa

Happy reading! 

______________________________

"Selamat malam, Yang Mulia." Gaia menyapa dengan penuh kesopanan dan keanggunan. Ia baru saja kembali dari kastil mawar dan kini berpapasan dengan Seth.

Seth mengangguk menerima sapaan Gaia. "Apa kau baru saja kembali dari kastil mawar?" tanya Seth kemudian.

"Benar, Yang Mulia. Saya baru saja selesai menemani Ibu suri sebelum beliau istirahat. Beliau juga sempat menanyakan Anda dan permaisuri,"

Mendengar istrinya disinggung dalam percakapan ini, Seth kembali bertanya. "Apa yang kau katakan soal istriku?" ucapnya dengan nada yang cukup dingin, membuat Gaia harus menelan ludah sebelum memberikan jawabannya.

"Saya mengatakan sesuai dengan apa yang Anda perintahkan, Yang Mulia. Yang Mulia tidak perlu khawatir, Ibu suri nampaknya menyukai permaisuri dan beliau tidak sabar untuk bertemu dengan permaisuri Isabella."

"Bagus. Katakan saja secukupnya mengenai Isabella kepada ibuku, aku tidak menekanmu untuk membuat Isabella nampak sempurna di depan ibuku, tidak juga membuatnya menyukai Isabella. Buatlah ibuku berpikir bahwa Isabella adalah orang yang tepat untuk berada di sisiku," ucap Seth menekankan.

Tentu ia tidak mau pamor buruk sang menantu sampai di telinga ibunya, Seth tidak mau membuat ibunya khawatir dan memikirkan hal yang tidak penting yang akan berdampak pada kondisi kesehatan ibunya. Bagaimanapun, kondisi sang ibu suri juga menjadi prioritas utamanya selain Seth harus bertugas menjaga nama baik istrinya di hadapan sang ibu.

"Baik, Yang Mulia." Jawab Gaia menurut. Meski dirinya kebingungan dengan sikap Seth yang sampai saat ini belum membiarkan Ibu suri Ellaia bertemu dengan menantunya, Gaia tidak bisa bertanya secara gamblang kepada Seth, walaupun Gaia menebak bahwa Seth tidak ingin melakukannya karena pria itu tidak ingin Ibu suri Ellaia melihat sosok menantu yang pembangkang.

Merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Seth ingin berlalu dari sana namun suara Gaia menahannya dan ia pun kembali menatap wanita cantik itu.

"Besok adalah jadwal sosial Anda untuk mengunjungi masyarakat yang kurang mampu dan memberikan mereka bantuan. Besok saya akan menemani Anda seperti biasa, sampai jumpa besok pagi, Yang Mulia." Gaia tersenyum tipis di akhir kalimatnya, membayangkan mereka akan pergi bersama membuat Gaia senang.

"Oh untung kau mengatakannya sekarang, Gaia. Besok kau tak perlu lagi menemaniku dalam acara-acara sosial atau agenda diplomat yang lain. Isabella akan menemaniku sebagai bentuk tugas dan tanggung jawabnya sebagai permaisuri," jelas Seth yang tentu membuat goresan kecil di dalam hati Gaia. Meski begitu, wanita itu tetap tersenyum anggun layaknya seorang Lady.

"Baik, Yang Mulia. Saya mengerti." Gaia menunduk kala Seth pergi meninggalkannya. Setelah pria itu benar-benar pergi barulah ia menegakkan kembali tubuhnya.

"Lihat, sekarang posisi Anda pun sebagai teman Yang Mulia direbut olehnya. Dan bagaimana bisa Yang Mulia yakin bahwa besok istrinya itu mau menemaninya." Denna bersungut kesal lantaran melihat bagaimana majikannya diperlakukan seolah Gaia adalah benda yang sudah tidak berguna lalu dibuang begitu saja.

Gaia menghela nafas kasar lalu menatap pelayannya itu dengan tegas. "Harus ku cambuk berapa kali kau agar mulutmu itu tidak berucap sembarangan, Denna?"

"Maaf Lady, saya tidak bermaksud demikian."

"Sudahlah. Lagipula wajar Yang Mulia memintaku untuk berhenti menemaninya lagi karena sekarang sudah ada permaisuri Isabella, aku tidak berhak melawan ataupun protes atas keputusan beliau."

After LifeWhere stories live. Discover now