BAB 37

1.4K 87 1
                                        

Setelah beberapa hari dirawat akhirnya sang nenek  sudah sehat dan sembuh, mereka semua akan terbang Ke Amerika menghadiri pernikahan Faye dan Freen. Tapi sebelum itu, nyonya Chankimha datang kerumah atau kediaman keluarga Kwong dan keluarga Sonya untuk meminang mereka, entah apa yang neneknya itu katakan sehingga mereka tak bisa menolaknya. .

Tentu seperti yang dikatakan Orm kepada Lingling, tak ada yang bisa menolak perkataan seorang Nyonya Chankimha. Entah apa yang dikatakan Nyonya Chankimha kepada kedua keluarga besar yang cukup berpengaruh itu dan akhirnya mereka memberi restu.

Tadinya Nyonya Chankimha menginginkan pernikahan mereka semua cucunya dilakukan serentak tapi pihak keluarga Lingling dan Sonya tidak setuju, mereka menginginkan mereka menikah terpisah, apalagi rekan bisnis dan keluarga mereka banyak sehingga tidak bisa di nikahkan bersamaan, nyonya Chankimha akhirnya setuju.

Pernikahan Freen dan Faye di sambut antusias seluruh negeri karena mereka adalah orang berpengaruh di Thailand ditambah dengan Keluarga Yoko dan keluarga Smith.

"Hebat yah Nyonya Chankimha mendapatkan cucu menantu super power di negara ini?? Ucap mereka dengan bisik-bisik saat imut menyaksikan pernikahan cucu dan keluarga mega power negara ini.

" Kamu benar, kelima perusahaan raksasa negara kita bersatu dan diembat semua keluarga Chankimha". Ucap orang yang berada disebelahnya..

Percakapan itu terdengar saat pernikahan itu berlangsung, Nyonya Chankimha hanya tersenyum tipis mendengar percakapan itu, sebenarnya dia ingin menegur tapi dia urungkan. Mereka memang mengundang semua rekan bisnis dan kenalan mereka untuk ikut meramaikan pernikahan mereka.

Pernikahan itu pun terlaksana dengan sangat baik, kedua pasangan mempelai terlihat sangat cantik dan tampan.

Senyum bahagia terpancar dari mereka berempat, perjuangan cinta mereka akhirnya berlabuh pada sebagaimana mestinya.

"Selamat yah kakakku, akhirnya kalian memiliki pasangan hidup untuk kedepannya, jaga diri kalian karena kalian akan hidup terpisah dari kami, sering lah kerumah untuk menengok kami jika kalian senggang". Orm menundukkan kepalanya kemudian menangis, dia baru merasakan lengkapnya keluarganya, tapi sekarang harus berpisah kembali karena keduanya telah menikah.

"Kami akan sering berkunjung, jangan khawatir yah, kalian juga bisa berkunjung kerumah jika kamu ingin, rumah kami akan selalu terbuka untuk kalian". Faye mengelus kepala sang adik yang tengah menangis.

" Sudah sayang tidak apa-apa, nantinya juga kita akan sama jadi kita juga harus belajar ". Lingling berusaha menenangkan kekasihnya yang menangis segukan karena merasakan kehilangan kedua kakaknya.

" Iya babe". Orm menghapus air mata nya dibantu dengan Lingling.

"Lookmhe dan Faye akan tinggal dirumah kita nak". Ucap yang nenek yang berada dibelakang mereka.

Mereka menoleh begitu mendengar perkataan sang nenek. Mereka terkejut karena nenek mereka berada dibelakang.

" Benarkah apa yang nenek katakan?? Tanya Orm dengan mata berbinar.

"Benar nak, look mhe seorang dokter begitupun dengan Yoko, nenek sudah tua kapan saja bisa sakit jadi membutuhkan dokter secara pribadi, Faye dan Lookmhe tidak keberatan dan mereka menyanggupinya". Ucap sang nenek tersenyum.

" Syukurlah jika seperti itu, kami senang ada yang bisa tinggal dirumah untuk menemani dan menjaga nenek". Freen tersenyum lega mendengar penuturan sang nenek.

"Iya kami akan menjaga nenek dirumah, sering-sering lah pulang kerumah karena itu juga rumah kalian". Faye tersenyum sambil menggandeng Yoko.

" Benar kak jangan lupa pulang, kami keluargamu juga". Sindir look mhe kepada sang kakak Freen.

"Tenang saja, setiap pekan kami akan menginap disana, iyakan sayang?? ". Freen mengalihkan pandangannya kepada sang istri.

" Itu benar, kalian tenang saja, aku tak punya keluarga lain selain kalian jadi aku akan sering-sering berkunjung disana".

Mereka pun pulang ke hotel tempat mereka menginap setelah acara pernikahan keduanya selesai. Mereka akan tinggal selama seminggu untuk melakukan Honeymoon.

"Ayo kita masuk sayang, ini kamar kita selama disini". Ajak Freen.

Tidak jauh berbeda dengan dengan Freen, Faye juga menggandeng Yoko menuju kamar mereka untuk beristirahat dan melakukan ritual pengantin baru seperti yang mereka inginkan selama ini.

Keesokan harinya kedua pasangan itu terlelap dan terlambat bangun karena melakukan ritual malam pengantin mereka sedangkan kedua pasangan lainnya telah sampai di restoran hotel untuk sarapan bersama sang nenek.

"Yayaya pengantin baru memang beda, mereka pasti sangat asyik melakukan ritual malam mereka sampai sekarang belum bangun". Sonya menggelengkan kepalanya membayangkan bagaimana panasnya mereka.

Lingling yang berada disamping Sonya mendorong kepalanya dengan gemas. Dia sangat tahu apa yang dipikirkan sahabatnya itu.

"Tidak usah berpikir aneh-aneh, nanti kita juga akan melakukannya, toh tanggal pernikahan kita sudah ditentukan". Lingling menatap sahabatnya kesal.

" Sayang, lihat Lingling mendorong kepalaku ". Aduhnya pada lookmhe dengan manja.
Lingling melihat aksi sahabatnya bersikap ingin memuntahkan isi perutnya padahal tidak ada yang keluar.

Sedangkan Lookmhe yang ada didepan mereka hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah keduanya.

" Benar kata kekasihku kak, tidak usah membayangkan yang tidak-tidak kak, nanti juga kakak akan melakukannya jika sudah sah menikah, tunggu saja". Orm membela sang kekasih dan ikut membully Sonya.

"Aku hanya penasaran tahu, mereka bahkan belum bangun dan sarapan padahal ini sudah menjelang siang".

" Biarkan saja mereka, pengantin baru memang seperti itu, bagaimana dengan persiapan pernikahan kalian?? ". Ucap Nyonya Chankimha ketika dia sampai dihadapan cucunya dan juga calon cucu menantunya.

Percakapan mereka terhenti ketika mendengar suara Nyonya Chankimha yang berada di hadapan mereka.

" Silahkan duduk nek". Lingling membukakan kursi untuk calon neneknya itu.

"Terima kasih nak Lingling". Ucap Nyonya Chankimha tersenyum.

" Sama-sama nenek". Lingling membalas senyuman Nyonya Chankimha dengan senyuman tulus.
"Terus bagaimana persiapan pernikahan kalian berdua?? Tanyanya ulang.

" Sudah rampung nek, tinggal menunggu waktunya saja tiba, semua persiapannya sudah 90 persen dan 10 persen adalah pelaksanaannya". Sonya menjawab dengan nada sopan.

Dia berusaha menjaga tingkah lakunya dihadapan nenek sang kekasih.

"Baguslah jika seperti itu nak, nenek harap kalian semua bisa bersama-sama terus menerus seperti ini, perjuangan kalian kedepan akan sangat panjang dan berliku, jadi kalian harus saling menguatkan dan berbagi masalah kalian dengan pasangan masing-masing". Nyonya Chankimha memberi nasehat keempatnya untuk ke depannya.

"Terima kasih nasehatnya nek, kami akan berusaha semampu kami menjaga kedua cucu nenek kedepannya". Lingling tersenyum kembali sambil menggenggam tangan Orm dengan sayang.

" Lingling benar nek, kami mencintai cucu nenek sejak kami remaja sampai saat ini dan itu tak berubah malah semakin besar, aku tidak akan banyak berjanji tapi jika kelak aku membuatnya terluka dan pergi dari ku, aku tidak akan melawan jika kalian ingin membunuhku". Sonya menatap Nyonya Chankimha dengan senyuman dan penuh ketegasan.

"Nenek pegang kata-kata kalian, kalian tahu bagaimana nenek bukan??, aku tidak akan pernah memberi ampun pada orang yang melukai cucuku dengan alasan apapun". Nyonya Chankimha menatap Lingling dan Sonya dengan tatapan tajam dan penuh intimidasi.

" Ya nenek, kami sangat paham dan mengerti ". Ucap mereka berdua serempak.


Rumah Untuk Si KulkasCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang