25

774 37 4
                                        

"PLAK"

Saras memegangi pipinya yang memerah dan berdenyut nyeri, tapi rasa sakit itu tak sebanding dengan rasa sakit di hatinya.

Ternyata Saras tidak ada kerjaan, tapi dia menemui Paris ke rumah yang di beli lelaki itu untuk dia tinggali bersama istri keduanya dan anak tiri.

Dia meminta antar Yayan, karna malas menyetir, sekalian sengaja ingin membuat El menunggu. Bahkan dia berharap anak lumpuh itu tidak pulang kembali ke rumah nya.

"Jangan kurang ajar pada istri saya SARAS! Dia sedang HAMILL!"Bentak Paris kejam pada Saras yang baru saja dia tampar.

Saras memandang Gina yang berderai air mata, entah lah itu air mata sungguhan atau hanya tipuan ular. Wanita dewasa itu lalu memandang Paris yang dengan tega menamparnya begitu keras.

"Mas! Kamu belain pelakor ini? HAH!"

"Ya, karna dia ISTRIKU,"

"ISTRI? KAMU BILANG DIA ISTRI?"Menunjuk tepat di wajah Gina,"CIH!"sambil meludah.

"Aku"menunjuk dadanya sendiri" Aku istri kamu mas! 20 tahun kita menikah, tapi kamu malah tega nikahin dia! Perempuan yang bahkan bisa di beli oleh lelaki manapun dengan segepok uang,"

Saras meneliti penampilan Gina dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu matanya berhenti di perut wanita itu yang sedikit membuncit.

"Bayi? Kamu yakin itu anak kamu mas?"terkekeh menertawakan"Aku gak nyangka selera kamu menjadi murahan seperti ini,"

"Jaga bicaramu Saras! Jelas itu anakku karna aku suaminya,"

"Hikss m-ass, hikss ini anak k-ita mas,"ucap Gina sesegukan berderai air mata, membuat Saras semakin muak saja melihatnya.

"Iya sayang jangan di dengerin mas tau ini anak kita,"ucap Paris sambil memeluk pundak Gina mencoba menenangkan.

"Waww! Kingg dramatis"Saras bertepuk tangan di sela-sela rasa nyeri di hatinya, ingin sekali dia menangis tapi itu tidak boleh. Seorang Saras tidak boleh menangis.

"SARAS PERGI DARI SINI!"bentak Paris sekali lagi.

"GAK! Kamu harus ikut pulang sama aku mas, ke rumah kita bukan di sini,"

"Rumah kita? Rumah di mana anak lumpuh mu itu berada? Kamu urus saja anak lumpuh mu itu sendiri, aku akan mengurus calon anak ku yang akan menjadi pewaris ku di masa depan. Yang akan membuat perusahaan ku semakin maju dan jaya,"

"Dulu El juga pernah sempurna mas! Dia pintar dia berprestasi! Kamu? Kita? Dulu juga bangga padanya. Dulu kamu sangat menyayangi anak itu,"

"Ingat itu DULU! Ya memang dulu dia sempurna, tapi dulu bukan sekarang. Apa yang bisa aku harapkan dari anak lumpuh itu? Punya anak lumpuh kok bangga,"ucapnya kejam.

"Mas! Dia juga anak mu!"

"Ya dia memang anak ku wajah ku juga mirip dengan dia, tapi dia sudah tidak cocok lagi menjadi anak yang harus di banggakan. Sudah lah Saras kamu pergi sajah, mulut, kupingku sudah muak, mendengar dan membahas anak tidak berguna itu,"

***

"Shhhttt"

"Hahhh! Haha! Hahahh!"

El memegangi dadanya yang tiba-tiba saja berdenyut nyeri, keringat dingin bercucuran di dahinya. Pemuda itu terbaring di atas kasur.

Dia sudah pulang ke rumah, di antar kan oleh Arjuna. Napas pemuda itu tersengal-sengal, engap entah apa yang membuatnya bisa merasakan seperti ini.

Nadi Tanpa Benua (Berlanjut)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang