27

263 17 8
                                        

Suara bel yang nyaring seakan menjadi semangat bagi seluruh siswa. Anak remaja-remaja itu langsung berhamburan keluar gerbang sekolah.

Seperti biasa Kia bersama El akan pulang bareng lagi. Keduanya berdiri di depan sekolah, menunggu Ayahnya Kia menjemput.

"El besok kan Sabtu libur, kamu besok main yah ke rumah Kia sambil jadi teman let's Kia kan," Ucap Kia dengan exsaited.

El mengangguk-anggukkan kepalanya,"Bilang dulu sama om Juna nya,"

"Udah ayah mah pasti setuju, besok kamu di jemput aja sama ayah ke rumah,"

"Gw tunggu,"

"Wahh permen kapas!"mata Kia langsung sumringah saat tiba-tiba penjual permen kapas lewat.

"Omm beli Ommm!!!"Gadis itu berteriak penjual permen kapas yang memang mengendarai motor.

Alih-alih berhenti penjualannya malah sudah pergi menjauh. Wajah Kia langsung murung, padahal tadi terlihat senang.

"Yah padahal Kia mau,"ucapnya sedih.

"Buat jualan gak sih itu. Udah jangan cemberut gitu besok gw beliin,"ucap El yang tak tau kenapa dirinya tiba-tiba mengucapkan kata kata itu. El langsung menutup mulutnya sendiri.

Mata Kia langsung senang kembali,"beneran?"

El mengernyitkan dahinya. Di pikirnya sudahlah tidak papa sekali-kali berbuat baik."Hmm besok gw beliin, berhubung Sabtu malming banyak yang jualan."

"Wahhh mau banget. Tapi...."wajah Kia kembali cemberut, malming berarti harus keluar pasti Arjuna tidak mengijinkannya.

"Kenapa?"

"Aku takut ayah gak ijinin, udah gapapa gak usa aja,"pasrah.

El berpikir sejenak,"nanti gw yang minta ijin,"

"ASIKKKK,"

***


Bi Ratih mendorong kursi roda El memasuki rumah. El pulang bareng bersama Kia di antar Arjuna.

Di ruang tamu Saras sedang melipatkan kedua tangannya di dada. Tadi dia sempat mengintip El yang di antarkan orang lain dengan mobil, bukan di jemput Yayan.

"Di antar siapa kamu?"ucapan sinis Saras menggema di seluruh ruang tamu.

Bi Ratih berhenti mendorong kursi roda El atas perintah remaja lelaki itu. Meskipun dengan berat hati Bi Ratih menurut.

"Temen mah,"

Saras berdiri dari kursi menghampiri El yang berhenti di dekat lemari." Temen? Hah emangnya ada yang mau temenan sama orang cacat?"

Kejam! Itulah kata yang paling cocok. Ibu yang begitu kejam perkataannya begitu menusuk, padahal El anak kandungnya sendiri.

El memejamkan matanya kuat-kuat mencoba menguatkan hatinya,"ada ko mah El punya temen buktinya tadi di anterin sama ayahnya,"

Plak!

Suara tamparan begitu nyaring Saras menampar pipi El sampai memerah bahkan memanas. Bi Ratih langsung memeluk kepala El, sambil menangis tidak tega.

"Nyonya!"ucap Bi Ratih meninggi ucapannya spontan karna kaget.

"Diam kamu,"Saras mendorong Bi Ratih sampai tersungkur di lantai, sedangkan El hanya meremas kedua kakinya sendiri.

"Dasar tidak punya malu! Minta orang lain untuk mengantar pulang,"ucap Saras penuh emosi.

"El gak minta mah mereka yang nawarin,"

Nadi Tanpa Benua (Berlanjut)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang