28

465 21 7
                                        






Hari sabtu sudah tiba dan  menyore, suana yang tadinya cerah benderang sekarang murai redup. Tanda jika waktu semakin berjalan.

"Wah den El mau kemana? Wangi udah mandi juga rapi,"ucap Bi Ratih yang menyembulkan kepalanya di ambang pintu kamar El.

El yang sedang melihat dirinya di pantulan cermin, menoleh ke arah Bi Ratih,"Mau ke rumah Kia bi, El mau kerja jadi temen let's nya,"

"Kerja?"mengernyit bingung sambil masuk ke dalam kamar.

"Iya bi, om Arjun yang nyuruh El buat jadi temen let's nya Kia. Kata om Arjun nanti El di gaji, lumayan lah bi buat tambah-tambah tabungan El. Bentar lagi kan El lulus sekolah, El mau kuliah juga buat modal nanti,"ucap El menjelaskan itulah tujuannya tak ada hal lain.

"Ya ampun den, kan ada nyonya sama tuan. Kenapa Aden mikir sejauh itu membiayai kuliah sendiri?,"

El mengambil beberapa buku yang berada di mejanya lelaki itu menatap bukunya dalam-dalam,"El gak yakin bi. Mamah sama papah mau biayain El kuliah, sekolah juga El gak di biayai apalagi kuliah,"

"El gak mau berharap lebih pada orang bi. Mending persiapan dari sekarang kan,"pikirnya matang.

Tanpa keduanya sadari sedari tadi Saras menguping pembicaraan El dan BI Ratih. Wanita itu berdiri di dekat pintu masuk kamar.

"Apapun yang den El lakuin inginkan. Bibi mah bakal selalu dukung aja den Bibi doain semoga Aden sukses nantinya,"

"Makasih Bi atas doanya,"

"Ya sudah tadi bibi buat kue, ini buat Aden,"ucap Bi Ratih sambil memberikan potongan cake di atas piring.

"Ya sudah tadi bibi buat kue, ini buat Aden,"ucap Bi Ratih sambil memberikan potongan cake di atas piring

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Makasih Bi,"

"Sekalian aja den, nanti bawa kue buatan Bibi buat neng Kia,"

El berpikir sejenak sebelum mengangguk mengiyakan,"em tapi Bibi, bikin banyak gak? Gak enak sama orang tuanya Kia kalo bawa cuman buat Kia doang,"

"Tenang aja den banyak ko. Yauda Bibi ke dapur mau nyiapin dulu kuenya,"ucap Bi Ratih pamit.

"Iya Bi,"

Bi Ratih langsung pergi dari kamar El. Tapi di kagetkan dengan adanya Saras yang berada di ambang pintu.

"Loh nyonya ngapain di sini?"

Saras ikut kaget wanita itu gelagapan pura-pura merapihkan rambutnya, tadi dia sedang menguping.

"Ya terserah saya mau di sini ke! Mau di sana ke! Apa urusannya denganmu? Minggir sana,"mendorong bahu Bi Ratih sambil berjalan pergi. Karna terlanjur ketauan Saras bersikap ketus agar tidak di curigai menguping.

Bi Ratih mengelus dadanya mencoba sabar," Kalo bisa mah. Sudah dari dulu nyoya Saras saya pecat sebagai majikan,"

"Kamu ini Bi, mana ada istilah babu mecat majikannya,"ucap mang Yayan yang tadi habis dari dapur menyeduh kopi.

Nadi Tanpa Benua (Berlanjut)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang