Lagi dan lagi, sudah kesekian kalinya Azura mengambil nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya. Setelah melontarkan pertanyaan kepada kedua pacarnya, Azura pun mengambil asal sebuah novel dari rak lalu duduk lesehan dan mulai membaca.
Sementara itu, Kevin dan Kenzo pun mengikuti Azura. Tapi mereka tidak ikut duduk, melainkan sama-sama merebahkan diri berbantalkan paha Azura dan mulai memejamkan mata.
"Kalian ngapain sih? Apa untungnya jadi pacar gue? Gaada." Suara Azura memecah keheningan setelah beberapa menit berlalu.
"Gue suka sama Lo!" Jawaban Kevin disetujui dengan anggukkan kepala Kenzo.
"Alasannya? Gaada untungnya jadi pacar gue."
"Gapeduli." Kalo ini Kenzo yang menyahut, pun disetujui oleh Kevin.
"Terserah lah." Pasrah. Azura malas berdebat, itu membuang-buang tenaganya. Berpikir akan mengabaikan mereka kedepannya, dengan begitu mungkin mereka akan jengah lalu meninggalkannya.
Ding!
[Kenapa tuan tidak menerima mereka dengan lapang saja? Kan lumayan dapat babu gratis. Juga sepertinya mereka ini berdompet tebal.]
'Iya sih, mereka keliatan orang kaya. Tapi gue males ribet. Males banget kalo denger mereka debat.'
Ding!
[Kalau begitu tuan bilang saja pada mereka, kalau ingin jadi pacar tuan mereka harus akur. Sudahlah tuan terima saja. Sejujurnya saya mulai bosan dengan cara hidup tuan yang monoton.]
'Dih.'
***
Kini mereka sedang berada dikantin, setelah melewati perdebatan singkat tentang siapa yang akan menemani Azura kekantin juga penegasan Azura yang mengatakan bahwa mereka harus akur bila ingin jadi pacarnya.
Dengan posisi duduk Azura berada ditengah, mereka tampak menikmati semangkuk mie ayam dan segelas es teh dengan tenang.
Ding!
[Tuan. Apa rencana tuan tentang bekerja itu jadi? Saya pikir tuan tidak perlu bekerja, tuan cukup minta uang saja pada saya.]
'Kalo terus-terusan minta uang ke Lo yang ada orang-orang bakal curiga. Darimana gue bisa dapet uang sementara gue ga kerja. Yang ada ntar dikira ngelonte gue.'
Ding!
[Iya juga, tapi kan tuan bisa beralasan tuan mendapat warisan.]
'Malah lebih aneh njirr. Kenyataanya kan gue miskin. Gini aja deh, cari aja cafe yang sekiranya udah mau bangkrut terus beli buat gue. Sekalian cariin juga karyawan yang kompeten buat ngerombak tuh cafe biar bisa jalan. Kalo gini kan gue gaperlu capek kerja, karna gue bakal jadi bosnya.'
Ding!
[Ide bagus tuan. Kalau begitu akan segera saya laksanakan. Tuan tunggu saja kabar baiknya.]
'Oke, makasih.'
"Zura, masih laper? Kok diliatin mulu mangkoknya? Kan udah kosong." Asik berbincang dengan sistemnya, Azura jadi tak sadar kalau sedari tadi kedua pacarnya memperhatikan dirinya yang melamun. Sampai pertanyaan dari Kevin menyadarkannya.
"Engga. Gue mau balik kelas." Usai berkata begitu Azura pun bangkit dari duduknya dan mulai berjalan menuju kelasnya. Dengan setia diikuti oleh Kevin serta Kenzo.
*****
Ngebosenin ya? menurut kalian mendingan aku kasih konflik yg gimana? saran dong!!
KAMU SEDANG MEMBACA
Transmigrasi jadi Nerd
Teen Fiction"Apa peran yang paling ga diinginkan?" Daripada pusing mikirin alur novel, Azura lebih memilih menjadi pemeran tidak penting. Tujuannya jelas supaya dia tidak perlu repot-repot. • Story of transmigration • Hanya fiktif belaka • Slow update (sesuai...
