30.0

1.4K 88 10
                                        

Hujan deras mengguyur kota. Hawa dingin yang dibawanya bercampur dengan angin malam. Membawa perasaan dingin pada mereka yang merasa sendiri.

Azura kini berada di bawah jembatan, tempat dirinya pertama kali membuka mata di dunia ini. Dengan masih memakai kaos kebesaran tanpa bra, dan celana pendek diatas lutut.  Setelah selesai menyusui kedua pacarnya juga memasak makan malam, Azura pergi meninggalkan apartemen tanpa berpamitan.

Ding!
[Sebenarnya, apa yang tuan lakukan disini?]

Hening. Tak ada jawaban.

Azura hanya terus termenung memandang ke depan. Bibirnya terkatup rapat. Dengan pandangan kosong yang seolah telah menyerah dengan dunia.

"Sebenernya ngapain sih gue disini? gue udah seneng pas tau kalo bakal mati, kenapa malah dihidupin lagi?"

"Gue capek..."

Sistem terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Karna sejujurnya dirinya juga tak mengerti alasan atasannya tentang penghidupan kembali jiwa-jiwa yang telah mati.

"Gue harus ngapain disini? Nikmatin hidup? Terus nanti kalo ada butterfly effect nya gimana?"

"Gue harus apa?"

Suaranya semakin melemah. Kepalanya tertunduk diatas lutut yang dipeluknya. Tak ada isakan tangis, yang ada hanya helaan nafas penuh rasa lelah.

Dirinya takut. Bagaimana jika saat dirinya sudah terlalu terlena dengan kehidupan di dunia ini, sesuatu yang mengejutkan akan muncul. Seperti kematian tragis yang menyakitkan. Atau bahkan luka hati yang tak kunjung padam.

Ding!
[Apapun yang akan terjadi kedepannya tuan, saya akan selalu disini. Saya akan selalu mengusahakan apapun yang tuan inginkan.

Tuan berhak bahagia. Lakukan saja apapun yang tuan mau. Sesuatu yang belum pernah tuan coba lakukan, atau bahkan belum pernah tuan pikirkan.

Saya tidak akan melarang. Tugas saya disini adalah memastikan tuan hidup dengan nyaman dan mencari kebahagiaan. Maka lakukan apapun yang tuan mau, sekalipun itu merusak tatanan dunia.]

*****

Setelah merasa cukup tenang Azura memilih untuk bangkit. Membiarkan tubuhnya basah terguyur hujan. Menampilkan lekuk tubuh rampingnya, dengan dada bulat yang tercetak jelas.

Langkah kakinya entah membawa kemana. Dirinya hanya terus berjalan tak tentu arah. Membiarkan kaki telanjangnya basah dan kotor terkena genangan air.

Berhenti sejenak ditengah jalan, Azura mendongakkan kepalanya kearah langit. Sorot matanya masih kosong, tapi isi kepalanya begitu berisik.

Melangkahkan kakinya menuju halte bus, Azura memutuskan untuk berteduh di sana. Menghiraukan tubuhnya yang mulai menggigil, Azura hanya kembali memeluk lututnya.

Sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti didepannya. Pintunya terbuka, menandakan sang pemilik yang keluar dari mobilnya. Dapat dirasakan Azura sebuah jas yang melingkupi tubuh ringkihnya. Azura tetap tak merespon.

Dibiarkannya tubuhnya diangkat ala bridal style oleh sang pemilik jas. Membawanya masuk kedalam mobil. Menjadikan kursi penumpang basah oleh air hujan.

Azura tak peduli. Karna dirinya tau, sedari dia meninggalkan jembatan mobil ini terus mengikutinya.

"Apa yang ada di otak kecilmu sweetie? Mengapa membiarkan tubuhmu kedinginan?"

*****

kasih aku rekomen sesuatu dong. entah rekomen novel atau rekomen kegiatan. kalo novel yg ada plus plus nya yaaaww...

doain author biar ga galau lagi. biar bisa balik jadi cegil kek dulu. author kangen godain kakel kakel disekul.

bye byeee...

penuh cinta, dari orang yang pernah kau janjikan sesuatu yang manis... tapi berujung pahit.

Transmigrasi jadi NerdTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang