"Jangan pergi tanpa izin, hubungin aku kalau kamu butuh sesuatu, mengerti?"
Apa yang bisa dilakukan Rénjùn selain mematuhi perkataan Sungchan? Tentunya tidak ada. "Ya, aku mengerti." Rénjùn mengikuti Sungchan keluar rumah menuju terasㅡTentunya dominan Jung itu akan pergi berangkat ke kantor firma, "Tidak ada yang ketinggalan kan? Dokumen? Sudah kamu pastikan ada di dalam tas?"
"Sudah semuanya." Sungchan membuka pintu mobil untuk meletakkan tas kantornya, lalu berbalik menghadap Rénjùn. "Kamu tidak perlu ikut memikirkan urusan kantorku, nanti kamu ikut lelah." Pintanya.
Rénjùn melipat kedua tangan di depan dada. "Kalau aku tidak ikut memikirkan, siapa yang akan mengingatkan kamu nantinya?" Menyinggung sedikit, beberapa hari lalu Sungchan sering pulang di tengah jam kerja hanya untuk mengambil beberapa dokumen yang tertinggal, "Dasar ceroboh."
Banyak pikiran adalah faktor utama yang membuat Sungchan akhir-akhir ini mudah melupakan sesuatu, "Iya ceroboh, terima kasih sudah mengingatkan." Balasnya mengakui kecerobohannya.
"Ya sudah, kamu kapan berangkat?" Rénjùn melirik jam tangan yang terpasang pada pergelangan tangan Sungchan, "Sudah jam tujuh lebih."
Persetan dengan jam disiplin kantor, Sungchan sebenarnya masih ingin berada di rumah bersama Rénjùn, enggan meninggalkan walau hanya beberapa jam.
"Sungchan?" Panggil Rénjùn sebab Sungchan tidak menggubris perkataan sebelumnya, "Kamu bisa makin terlambat kalau terus-terusan berdiri diam di situ." Tegurnya tanpa sadar membuat Sungchan tersentak.
"Oh, ya." Gumam Sungchan pelan setelah melihat jam tangannya yang sesuai dengan apa yang dikatakan Rénjùn, "Aku berangkat."
Rénjùn mengangguk singkat, memperhatikan Sungchan masuk ke dalam mobil sampai melaju keluar dari halaman rumah. Setelah pintu gerbang ditutup oleh Satpam yang baru beberapa hari ini dipekerjakan oleh Sungchan, Rénjùn segera kembali masuk ke dalam rumah.
"Tuan Jung sudah berangkat?"
"Ya." Balas Rénjùn mendekati Sohee yang sedang membereskan ruang makan dan dapur, "Aku ingin bertanya.."
"Tentang Tuan Jung?"
Rénjùn terdiam mendengar balasan tebakan Sohee, "Bukan.." Sanggahnya.
Sohee mencuci tangannya setelah cucian alat makan terselesaikan, ia berbalik menghadap Rénjùn sembari mengeringkan tangannya menggunakan kain lap. "Lalu, tentang apa?" Tanyanya menanggapi serius pertanyaan yang ingin dipertanyakan Rénjùn, "Apa yang sedang mengganggu pikiranmu?"
"Menurut kamu, apa yang harus aku lakukan agar hubungan Sungchan dengan papanya membaik?" Tanya Rénjùn mengingat situasi kemarin saat ia berkunjung ke kediaman Jung, melihat interaksi dingin antara Jung Sungchan dan Jung Jaehyun. "Aku sudah bertanya pada Sungchan dan dia hanya memintaku untuk tidak perlu memikirkan, tapi aku tidak bisa.. Sohee, aku merasa bersalah karena telah merusak hubungan Sungchan dan Tuan Jaehyun." Ungkap Rénjùn lebih lanjut.
Lee Sohee menghela nafas samar mendengar keluhan Rénjùn, "Aku tahu apa yang kamu maksud, RénjùnㅡTapi aku pikir yang dikatakan Tuan Sungchan itu benar, kamu tidak perlu memikirkan.. sebab Tuan Sungchan sendiri pastinya sudah memiliki rencana sendiri. Jadi, aku mohon dengarkan apa yang dikatakan Tuan Sungchan ya?" Jelas Sohee pelan, "Hubungan Tuan Sungchan dan Tuan Jaehyun pasti membaik."
"Mereka berdua keras, Sohee.." Pendapat Rénjùn walau baru dua kali melihat dan mendengar perdebatan antara Jung Sungchan dan Jung Jaehyun, "Masalah ini tidak akan membaik dengan mudah kecuali salah satu dari mereka mengalah."
Lee Sohee beranjak dari kursi makan lalu mendekati Rénjùn yang terlihat amat gelisah, "Tenanglah, kita tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya, Rénjùn.." Sohee mengelus bahu Rénjùn, "Semoga saja Tuan Jaehyun sadar dan segera menerima apa yang sudah diputuskan Tuan Sungchan."
KAMU SEDANG MEMBACA
18. How To Comply?
Fanfiction[ S1 & S2 ] "Aku tidak akan pernah memohon atau bahkan menuruti keinginanmu, Jung."
