40 › Bersimpuh, memohon.

736 74 20
                                        

09:25 CET, Italia.

"Yéyé!"

Rénjùn tersenyum sumringah setelah menyuarakan panggilan pada pria tuaㅡKakek Huáng yang memasuki rumah bersama Paman Sicheng dan Jung Sungchan. Ya, setengah jam lalu saat sedang sarapan Sungchan mendapatkan panggilan dari sang Paman yang mengatakan jika mereka sudah berada di hotel dekat bandara, padahal sudah landing sejak tengah malam tetapi enggan menghubungi dan memilih menginap di hotel hingga pagi ini.

"Cucuku.." Dengan penuh kasih sayang Kakek Huáng memeluk cucu satu-satunya, sudah lama sekali tidak bertemu secara langsung. "Maafkan Yéyé yang baru sekarang bisa menemuimu, maafkan Yéyé yang tidak tahu segala sesuatu yang menimpamu selama satu  tahun belakangan ini." Ujar beliau penuh penyesalan, "Seharusnya Yéyé memaksamu tetap tinggal di Jilin, melarangmu menetap di Korea Selatan walaupun agar kamu dekat dengan kedua orang tuamu."

"Aish, Yéyé.. hal itu sudah kita bicarakan melalui panggilan, jangan bahas lagi.. aku tidak suka." Balas Rénjùn yang sama sekali tidak menyukai permintaan maaf dari pria tua yang beberapa bulan lalu mengaku sebagai kakek dari pihak ayahnya, disertai dengan bukti foto dan cerita-cerita yang sayangnya tidak mampu Rénjùn ingat kembali tetapi Rénjùn bisa yakin setelah melihat foto-foto masa kecilnya bersama pria tua itu, "Yéyé jangan meminta maaf, apa yang sudah terjadi biarlah terlewatkan.. lagipula aku sudah baik-baik saja."

"Yéyé harap selamanya kamu baik-baik saja, selamanya berbahagia setelah banyak hal tidak mengenakkan kamu lalui." Ujar kakek Huáng sembari mengusap surai Rénjùn, beliau melepaskan pelukan mereka, "Jadi, kamu di sini bersama.."

"Nah, seperti yang sering aku ceritakan pada Yéyé.." Rénjùn beralih pada Kim Doyoung yang sejak tadi menemaninya menunggu di ruang utama, "Beliau adalah Madre, ibu kedua Sungchan.. beliau yang telah menemaniku selama berada di sini, di rumah ini.. rumah beliau."

Kim Doyoung tersenyum ramah pada kakek Huáng, "Saya Kim Doyoung, Tuan Huáng." Sudah beliau putuskan jika kakek Huáng dan Dong Sicheng akan menginap di rumahnya, dengan senang hati menerima tamu karena beliau menyukai suasana rumah yang ramai.

"Oh, senang bertamu di rumah anda.. Tuan Kim," Dong Sicheng membalas senyum ramah Kim Doyoung, "Maaf, karena kedatangan kami merepotkan anda.."

"Hei, sungguh tidak apa-apa.. saya justru  sangat senang jika ada banyak orang di rumah ini, terasa hangat." Ujar Kim Doyoung seadanya, "Anda bisa mengatakan pada saya atau pelayan rumah jika membutuhkan sesuatu, tidak perlu sungkan."

"Terima kasih banyak, Tuan Kim." Balas kakek Huáng.

"Mari kita duduk," Ajak Kim Doyoung mempersilakan kakek Huáng dan Dong Sicheng duduk, "Pasti kalian masih lelah setelah melakukan perjalanan panjang."

"Permisi, Tuan Kim.. kamar untuk Tuan Huáng dan Tuan Dong sudah siap, untuk koper-koper beliau.. apakah masih ada di bagasi mobil?"

Seorang pelayan datang menghampiri mereka yang sudah duduk di sofa ruang utama. "Ya, ada di mobil yang masih terparkir di halaman." Balas Sungchan selaku orang yang menjemput kakek Huáng dan Dong Sicheng.

"Baiklah, saya permisi."

Sepeninggal pelayan yang beranjak pergi keluar bersama beberapa pelayan lain, kakek Huáng berdehem singkat tanpa sengaja menyita perhatian yang lain.

"Jadi, anda adalah ibu kedua Sungchan, Tuan Kim?" Tanya kakek Huáng yang rupanya beberapa menit lalu menggaris bawahi pernyataan Huáng Rénjùn tentang Kim Doyoung.

"Ya, benar.." Dengan bangga Kim Doyoung mengakui, "Saya sudah menganggap Sungchan sebagai putra saya, Tuan Huáng."

"Lalu, ada di mana ibu pertama.. ibu kandung Sungchan?" Ujar kakek Huáng cukup dalam, "Sejak awal berhubungan, saya sudah mempertanyakan tentang Sungchan, akan tetapi tidak ada yang memberitahu saya tentang latar belakangnya." Celetuk beliau membicarakan langsung mengenai Jung Sungchan di hadapan orangnya langsung, yang mana tanpa sadar membuat mereka tertegun, "Apakah ada hal yang kalian sembunyikan dari saya?"

18. How To Comply?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang