Dua hari pasca operasi tidak kunjung sadarkan diri meskipun hasil pemeriksaan glasgow coma scale terbaru tidak serendah sebelumnyaㅡTiga belas, Rénjùn resmi dinyatakan koma oleh Dokter Kang.
"Bagaimana, Dokter Kang?"
Kang Seulgi sontak berdiri dari kursi kerjanya karena kedatangan Jung Jaemin, "Belum.. tapi, kondisi Rénjùn sudah mulai membaik.. hanya tinggal menunggu dia sadarkan diri." Jelasnya.
"Kapan?" Untuk pertama kalinya Jaemin merasa hopeless menangani pasien, padahal terhitung baru empat hari ia membantu Kang Seulgi menangani Huáng Rénjùn, "Kapan Rénjùn sadar?"
Kang Seulgi menunduk, "Maafkan saya, Dokter Jung.. untuk pertanyaan itu, saya tidak bisa memberikan jawaban yang pasti.. karena luka yang dialami Tuan Rénjùn ada pada bagian kepala yang berarti sangat fatal.."
Jaemin menghela nafas kasar, "Benar, kapala adalah bagian yang sangat berbahaya jika terluka." Setelah mengucapkan itu, Jaemin berbalik pergi keluar dari ruangan Dokter Kang yang merupakan Dokter spesialis saraf, Jaemin melangkah menuju ruang inap Rénjùn. Namun, belum sempat membuka pintu ruangan, ia melihat asisten Sungchan melangkah mendekatinya lalu menyapanya.
"Selamat pagi, Dokter Jung."
"Pagi, Lee Sohee.." Jaemin menaikkan satu alisnya saat mendapati asisten bungsu Jung membawa gelas kopi, "Kau membeli kopi untuk? Sungchan?"
Lee Sohee mengangguk seadanya, "Beliauㅡ"
"Anak itu padahal sama sekali tidak tidur dan nyaris tidak makan tapi justru memesan kopi? Gila!" Hardik Jaemin sebelum memasuki ruangan dan mendapati Jung Sungchan sepertinya hari laluㅡDuduk di kursi samping bangkar Rénjùn, "Kau gila?" Tanyanya sembari melirik rantang makanan untuk sarapan yang di atas meja masih tertutup rapi seperti belum disentuh, "Kenapa memesan kopi? Kau ingin sakit ya? Sama sekali tidak menyentuh makanan berat dan tidur hanya jika ketiduran?"
Sungchan sama sekali tidak merespon amarah Jaemin terhadapnya, padahal biasanya ia akan mengelak bahkan berbalik memarahi JaeminㅡBiasanya.
"Hei, Jung Sungchanㅡ? Kau mendengarkan aku tidak sih?" Jaemin berkacak pinggang melihat Sungchan yang tidak bergerak bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arahnya, "Kalau kau seperti ini, aku akan menyeretmu keluar dari rumah sakit dan melarangmu datang ke rumah sakit untuk menemani Rénjùn!" Ancamnya tegas masih tidak menghasilkan respon, lantas ia menghela nafas kesal.
"Keluarlah, Hyung."
Dua kata dapat didengarkan Jaemin sebagai jawaban atas cercaannya, "Kau jangan seperti ini, berapa kali aku dan bubu bahkan Jeno harus memperingatkan kau?"
"Seperti apa? Mayat hidup?"
Jaemin menarik nafas, "Jung Sungchan."
"Aku baik-baik saja." Balas Sungchan menyugar asal surainya yang masih berwarna kecoklatan, lalu menoleh pada Jaemin dan Lee Sohee, "Tidak perlu ada yang mengkhawatirkan aku."
"Orang gila, kau ini sehat sekali dan akan berbahaya jika kau tiba-tiba jatuh sakitㅡ" Depresi.
"Lima tahun lalu aku pernah dalam kondisi seperti ini, Hyung.. dan nyatanya aku bisa bertahan sampai detik ini."
"Kesempatan tidak datang dua kali, Sungchan, jangan sampai kau depresi untuk yang kedua kalinya." Peringat Jaemin lalu melirik Lee Sohee yang ternyata ikut masuk membawa kopi pesanan Sungchan, "Lee Sohee, kau bawa kopi itu ke ruanganku dan jangan pernah menuruti perintah Sungchan jika ia meminta kopiㅡJika kau takut menolak, segera pergi lapor padaku."
Lee Sohee sempat melirik Jung Sungchan yang hanya diam dengan tatapan mata kosong, "Baik.. Tuan," Ia lantas segera pergi ke ruangan Dokter Jung untuk meletakkan kopi pesanan Jung Sungchan, meninggalkan ruangan Rénjùn.
KAMU SEDANG MEMBACA
18. How To Comply?
Fiksi Penggemar[ S1 & S2 ] "Aku tidak akan pernah memohon atau bahkan menuruti keinginanmu, Jung."
