24 › Cerita.

857 100 29
                                        

11.30 CETㅡRoma, Italia.

"Gimana..?"

Eunseok menghela nafas samar sebelum berbalik menghadap Woobin yang duduk di sofa ruang baca kediaman Song, "Tidak diangkat, Bina-a.. nomor Sohee tiba-tiba tidak aktif." Jelasnya meletakkan handphonenya di atas meja kerja, ia berjalan mendekati Woobin yang terlihat gelisah.

"Tapi, sekarang di Korea kan masih sore.. iya kan? Sohee tidak mungkin mematikan handphonenya."

"Ya, di Korea menjelang malam. Tapi, mungkin Lee Sohee ada urusan, mungkin juga handphonenya mati dan sedang di charge." Pemikiran positif Eunseok yang padahal sebenarnya ia juga mempertanyakan kenapa siang ini nomor Lee Sohee tiba-tiba tidak aktif? Padahal, pagi tadi ia menghubungi nomor Lee Sohee dan masih tertera tulisan berdering namun sayangnya dimatikan.

"Eunseok.."

Eunseok mengangkat satu alisnya sebagai respon atas panggilan Woobin.

"Ayo kembali ke Korea.. kemarin Lee Sohee sudah mengatakan jika Rénjùn sudah sadar kan? Ayo, jenguk Rénjùn.. aku ingin bertemu dengannya." Ujar Woobin memelas, berharap Song Eunseok menyetujui perkataannya.

"Tidak bisa, Bina-a.." Eunseok menyusun kata-kata penolakan dengan baik, "Kita harus tahu situasi di sana dari Lee Sohee, kita juga harus tahu tentang Jung Sungchan saat ini karena aku tidak ingin terjadi sesuatu pada kitaㅡTerutama kamu jika kita tiba-tiba datang ke sana."

"Eunseok, aku hanya ingin bertemu dan meminta maaf pada Rénjùn.. secara langsung, apa salahnya?" Bujuk Woobin yang kekeh ingin kembali ke Korea dengan tujuan bertemu Rénjùn, "Sungchan tidak mungkin akan melakukan hal berbahaya jika aku sudah ada di hadapan Rénjùnㅡ"

"Bina-a.. kumohon dengarkan aku," Sela Eunseok pelan, "Kita akan bertemu dengan Rénjùn tetapi tidak sekarang, mengerti?"

Tok.. Tok.. Tok..

Eunseok dan Woobin menoleh ke arah pintu ruangan yang perlahan dibuka dari luar, oleh Tuan Suho SongㅡAyah Eunseok, memasuki ruangan.

"Ayahmu meninggal."

"Ha?" Eunseok speechless, "Ayah berbicara apa? Itu, Ayah kan baik-baik saja."

Suho berdecak kagum, "Ayahmu kan ada dua."

Sontak Eunseok ber-oh-ria menanggapi perkataan Suho, "Ayah Lee?"

"Siapa lagi?" Suho menaikkan satu alisnya, "Apa ibumu akan menikah lagi?"

"Tch, entahlah," Tanggapan malas Eunseok membuat Suho tertawa, "Tapi, bagaimana ayah tahu kalau ayah Lee meninggalㅡEh, maksudku, bagaimana bisa ayah Lee meninggal? Kapan?" Jujur, Eunseok tidak tahu apa-apa karena akhir-akhir ini fokus pada penyembuhan Park Woobin dan masalah Sungchan, ia bahkan tidak memberitahu ibunya jika ia pergi ke Italia.

"Ayahmu itu salah satu Korean Minister, ayah baru saja membaca berita kematiannya tadi di Internet." Jelas Suho santai, "Jasadnya ditemukan di hotel pada jam sebelas siang waktu di Korea Selatan yang berarti jam empat pagi waktu di Italia." Lebih rinci, beliau mencerna artikel dengan sangat baik.

"Oh, lalu?"

"Kamu tidak sedih? Dia ayahmu, sudah bersamamu selama empat belas tahun, Eunseok."

Eunseok merotasikan bola matanya, malas menanggapi.

"Berdasarkan hasil otopsi, ayahmu itu dibunuh."

Eunseok hanya mengangguk.

"Tapi, setelah diselidiki lebih lanjut.. tidak ada bukti yang lebih akurat, CCTV hotel mati dan ya, buktinya hanya ada bekas tikam pada tubuh ayahmu."

18. How To Comply?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang