23 › Jung.

1.1K 117 13
                                        

Jika bukan karena pengaruh obat, mungkin semalam Rénjùn tidak akan bisa tidur karena memikirkan penjelasan Sungchan mengenai orang tuanya.

"Orang tuamu sudah tiada, nanti jika kamu sudah pulih.. kita pergi menjenguk mereka."

Bagaimana bisa? Bagaimana bisa Rénjùn melupakan ingatan tentang kedua orang tuanya yang sudah tiada? Rénjùn benar-benar clueless, ia merasa kosong dan linglung, banyak sekali pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada SungchanㅡTapi, setelah melihat samar-samar tatapan tulus juga lelah, Rénjùn tahu jika pria Jung itu membutuhkan waktu istirahat setelah menunggunya tidak sadarkan diri selama beberapa hari.

"Kenapa melamun?"

Suara familiar memecah lamunan Rénjùn yang spontan menoleh ke arah pintu kamar mandiㅡSungchan terlihat segar setelah selesai mandi, "Nggak, kata siapa aku melamun? Aku hanya sedang berpikir." Elaknya.

"Tidak baik jika memaksakan ingatan, kepalamu bisa sakit." Sungchan menasihati lalu mendekati bangkar Rénjùn untuk membenarkan bantalan kepala Rénjùn, "Lagipula tidak akan ada yang marah jika kamu melupakan sesuatu, Rénjùn."

"Mn, ya.. terima kasih."

Sungchan melirik jam dinding yang sudah menunjukkan jam setengah sembilan pagi, yang seharusnya sarapan sudah diantarkan Suster dan Dokter Kang datang untuk memeriksa kondisi Rénjùn. Tanpa menunggu, Sungchan meraih handphonenya dan mengirimkan pesan pada nomor Dokter Kang yang ia dapatkan dari Jaemin, setelah itu, ia duduk di kursi dan memusatkan perhatiannya pada Rénjùn. "Apa yang sedang kamu pikirkan tadi? Ada yang ingin kamu tanyakan padaku?" Ujar Sungchan guna mengurangi beban pikiran Rénjùn.

"Ada banyak sekali," Rénjùn berbicara pelan bahkan seperti bergumam, "Tapi, aku ngga tega,"

"Kenapa bisa tidak tega? Hanya pertanyaan kan? Aku bisa jawab." Balas Sungchan lembut, "Ayo, bertanyalah."

"Baiklah," Rénjùn berdehem, "Aku kan dipukul orang gila sampai seperti ini.. saat kejadian itu terjadi, kamu ada di mana? Kenapa aku bisa pergi sendiri?"

Wah, pertanyaan di luar dugaan SungchanㅡSepele sih jika dijawab secara jujur, "Aku ke Jepang karena ada urusan penting, kamu pergi sendiri karena kamu yang meminta izin pergi sendiri padaku." Tidak ada kebohongan kan?

Rénjùn ber-oh-ria, "Memang saat itu aku izin pergi ke mana? Di mana kejadian itu terjadi padaku?" Berlanjut penasaran.

Menyusun kebohongan, "Ke restoran tempat kamu bekerja dulu, kamu ingin bertemu dengan temanmuㅡ"

"Oh, aku dipukul di restoran itu? Oleh temanku ya?"

Sungchan tertawa pelan mendengar tebakan asal Rénjùn, "Bukan temanmu."

"Lalu, siapa orang yang kamu sebut gila itu?"

Mempertimbangkan sebaik mungkin, "Pemilik baru restoran itu."

"Huh?" Rénjùn mengrenyit, "Berarti mantan atasanku ya? Kenapa dia tega memukulku? Apa salahku? Padahal kan aku sudah tidak bekerja di sana.."

"Bukan kamu yang salah," Sungchan mengelus jemari Rénjùn, "Tetapi pemilik restoran itu yang gila, restoran itu juga sudah tutup."

"Tutup? Kapan buka?" Tanya Rénjùn lugu.

Sungchan menggeleng, "Tidak akan pernah buka lagi."

"Kenapa?"

"Aku menutup restoran itu selamanya, izin operasional restoran itu sudah dicabut."

Pengakuan Sungchan membuat Rénjùn speechless sampai-sampai mulut submissive itu membulat, "Kamu menutup restoran itu hanya karena kejadian yang aku alami?" Tanya Rénjùn.

18. How To Comply?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang