43 › Saling mengikat.

519 47 9
                                        

17:30 KST in Seoul, South Korea

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

17:30 KST in Seoul, South Korea.

Gedung bergaya neoklasik itu berdiri megah di tengah kota, dengan pilar-pilar marmer menjulang dan lampu gantung kristal yang menggantung anggun di langit-langit tinggi gedung. Sore menjelang malam hari ini, seluruh ruangan dipenuhi dengan nuansa putih mutiara dan emas champagneㅡKelopak bunga mawar berserakan di sepanjang lorong, dan musik klasik mengalun lembut dari orkestra di sudut ruangan, semua itu diatur sesuai dengan pilihan Bubu dan nenek Lee.

Tamu-tamu hadir dalam balutan pakaian terbaik mereka, namun mereka tak hanya datang untuk melihat gaun, makanan, atau kemegahan. Mereka datang untuk menyaksikan kisah dua hati yang telah melalui banyak hal-Luka dan tawa-Yang hari ini akan berjanji untuk saling memeluk seumur hidup.

Di balik pintu ruang ganti, Huáng Rénjùn duduk diam di depan cermin dengan jantung berdetak kencang, gugup. Setelan putih gadingnya terlihat sempurna, ia menatap refleksinya dengan napas yang pelan, dan tanpa sadar menggenggam kalung kecil berliontin rubah yang ia kenakanㅡPemberian dari Jung Sungchan, tahun lalu.

"Rénjùn-a? Sudah selesai?"

Pintu ruangan terbuka tanpa suara berisik, Kim Doyoung dan Dong Sicheng masuk menghampiri Rénjùn yang tampaknya hanyut dalam lamunan. Lantas Sicheng menepuk pelan bahu Rénjùn hingga membuat keponakannya itu tersentak kecil.

Rénjùn menatap Doyoung dan Sicheng bergantian melalui pantulan cermin, "Uhm, sudah.."

"Kakek Lee dan kakek Huáng sudah menunggu di luar."

Ya, sudah Rénjùn putuskan jika yang mengantarkannya ke altar pernikahan adalah kakek Huáng dan kakek Lee, adil, Rénjùn menghargai dan menghormati kedua kakeknyaㅡMeski dirinya merasa tidak begitu dekat dengan kakek Lee, tetapi setelah obrolan berdua seminggu lalu, permintaan maaf yang membuatnya semakin bisa menerima kakek Lee, tidak ada alasan menolak.

Di lain sisi, Jung Sungchan yang sudah rapi dengan jas hitamnya berdiri gagah di atas altar menunggu kedatangan cintanyaㅡIa tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan, terlalu bahagia sampai membuat Jung Jaehyun yang berdiri tidak jauh dari altar menggeleng heran melihat gerak-gerik putra bungsunya, bahagia tetapi juga gugup.

"Akhirnya setelah penantian lama.." Celetuk Taeyong dengan tatapan bahagianya terarah pada putra bungsunya, "Aku harap setelah ini dia selalu berbahagia bersama Rénjùn.." Banyak harapan dan doa yang Taeyong panjatkan untuk putra bungsunya yang selama ini sudah cukup banyak perjuangannya, entah berjuang melindungi keluarga, melindungi cintanya dan yang terakhir melindungi diri sendiri, "Jangan kau ganggu lagi mereka, Jaehyun."

Jaehyun mendengus geli, "Aku sudah berdamai dengannya, jangan berburuk sangka padaku."

Taeyong tetap menatap curiga Jaehyun yang acuh tidak acuh, "Tidak ada yang tahu jalan pikiran Jung, yang selalu berubah untuk kepentingan sendiri."

18. How To Comply?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang