Bab 7

76 0 0
                                    

Dalam penantian akan kedatangan Devia aku mencari tau sifat, karakter, tabi'at, dan kebiasaan Devia. Hal itu tentu saja aku tanyakan kepada Nisa sebagai ibu kandung dan yang telah membesarkan Devia. Nisa mengatakan secara keseluruhan Devia hampir sama sepertiku terutama karakter dan kebiasaan. Untuk lebih meyakinkanku pada ucapannya, Nisa menyuruhku melihat kamar Devia, tanpa menunda aku pun beranjak menuju kamarnya dan benar saja ketika ku buka pintu aku melihat ruangan kamar yang sangat berantakan untuk ukuran kamar seorang cewe remaja.

"Wew ,, gak salah nih kamar cewe berantakan gini?" kagetku melihat kondisi kamar Devia yang seperti kapal pecah.
"Ya begitulah anakmu, aku sering nasehatin tapi Via gak pernah nurut. Kalo aku beresin kamarnya dia pasti marah" sambut Nisa.

"Aku kan gak gini banget Nis, kalo udah ngerasa gak nyaman pasti aku beresin semua".
"Ya sama Ka, Via juga gitu. Kalo udah ngerasa gak nyaman sama suasana kamarnya pasti dia beresin nyampe semua ditata rapi dan simetris."

"Tapi rajin mandi kan gak kaya aku yang mandi pagi doang? Hehehe"
"Sama aja kaya kamu kalo libur gak mandi sama sekali"

"Heeemm kirain bakal sama kaya kamu" harapku Devia memiliki kebiasaan sama seperti Nisa yang resik dan senang beberes.
"Itu tandanya Devia bener-bener anak kamu! Cara berpenampilannya juga mirip kamu, dia cuma pake apa yang dia anggap nyaman" ucap Nisa sambil jalan kembali menuju sofa ruang tv untuk duduk dan melanjutkan obrolan disana.

"Tapi mudah-mudahan aja dia gak sangean kaya aku"
"Ngasal aja kalo ngomong" sentak Nisa seraya mencubit pinggangku.

"Aaawwww sakit tau!"
"Kamu sih ngomong asal-asalan!"

"Asal-asalan gimana? Aku kan bilang mudah-mudahan dia gak sangean kaya aku. Apa salah?"
"Jangan nyampe lah Ka, jangan nyampe Via terjerumus kaya kita dulu bertahun-tahun melakukan hubungan intim diluar nikah"

"Iya Nis maksud aku juga gitu. Jangan nyampe perbuatan bejat kita dialamin sama Devia. Bukan cuma Devia sih, tapi Farul, Haifa, Arta, dan Tania jangan nyampe ngelakuin hubungan intim diluar nikah"
"Untung dulu aku gak nyampe hamil, kalo hamil pas SMA gak tau gimana jadinya".

"Aku kan pro, cuma pemain amatir yang nyampe buntingin cewe hahahahahha"
"Kamu ini lagi serius malah becanda" tegur Nisa.

"Tapi andaikata kamu bilang dari dulu kalo kamu udah dijodoin aku pasti hamilin kamu setelah lulus SMA"
"Iya sih Ka, aku juga gak kepikiran nyampe situ. Mungkin karena terlalu takut sama papa"

Sekitar jam 4 sore Devia datang, dia menggunakan jasa ojol untuk membawa dirinya dari sekolah menuju rumah. Aku dan Nisa yang sedang berpelukan kontan terperanjat kaget dan melepaskan pelukan ketika Devia membuka pintu. Setelah masuk dan menutup pintu dia menghampiri kami kemudian menyodorkan tangan kepada Nisa untuk salim, usai mencium tangan ibunya dia juga menyodorkan tangannya kepadaku. Aku meraihnya yang kemudian Devia menundukkan badan untuk mencium tanganku. Sikap dan perilakunya berbalik 180° dibanding tadi pagi, entah apa yang terjadi di sekolahnya sampai Devia mau mencium tanganku.

Perlakuannya membuatku tersentuh hingga hatiku bergetar haru yang secara spontan merangsang kelenjar di mataku mengeluarkan air mata sampai menetes di pipi. Aku memeluknya dan Devia membalas pelukanku, kita sama-sama menguraikan air mata disertai isak tangis haru bahagia.
"Maafin sikapku tadi pagi pah!" ucap Devia lirih disela isak tangisnya.
"Gak apa-apa Dev, papah ngerti koq!" balasku.

Bukan cuma aku dan Devia yang menangis, Nisa juga turut menangis melihat aku dan Devia berpelukan. "Syukurlah nak kamu udah bisa nerima papah" ucap Nisa sambil membelai kepala Devia.

"Kamu udah makan?" tanyaku pada Devia yang sedang menyeka air mata setelah kita merenggangkan pelukan.
"Udah tadi siang di kantin pah" sambut Devia.

"Buat makan malam kamu mau makan apa? Biar papah beliin sekarang"
"Gak usah pah, aku biasa makan masakan mama"

Sonia Keponakan Istriku 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang