Selesai mandi aku keringkan butiran air di tubuhku menggunakan handuk yang memang sudah tersedia di kamar mandi, setelah dirasa cukup kering aku lilitkan handuk dipinggang untuk menutupi tubuh bagian bawah lantas aku keluar dari kamar mandi. Ketika ku buka pintu aku dapati Astri sudah berada diatas ranjang dengan posisi terlentang sambil menatap langit-langit kamar, aku biarkan dia termenung tanpa memerhatikan atau menyapanya, yang aku lakukan hanya memilih celana dalam di lemari pakaian untuk ku pakai tidur malam ini. Usai memakai celana dalam aku kembali masuk kamar mandi untuk menyimpan handuk sekalian mengambil hp ku yang tadi tertinggal, setelah itu aku naik keatas ranjang lalu berbaring disamping Astri yang masih melamun.
Aku buka aplikasi game ringan di hp ku dan mulai memainkannya dengan harapan rasa kantuk akan segera datang, disela kesibukan tak berfaedah itu aku buka percakapan karena Astri hanya berdiam diri sejak aku keluar kamar mandi hingga berbaring disampingnya.
"Kamu kenapa ayy?" tanyaku dengan nada lembut.
"Gak apa-apa a, aku cuma kepikiran sama ucapan aa tadi" sahutnya."Ucapan aa yang mana?" tanyaku pura-pura lupa.
"Tentang Nisa" jawabnya singkat."Ohh aa kira apa. ... Aa kan udah bilang tadi tuh cuma becanda sayang" jelasku meredakan kegelisahan Astri.
"Bukan tentang Nisa nya a, tadi kita ngobrol pas aa masuk kamar" terang Astri."Ngobrol apaan?" selidikku penasaran.
"Viona dan Sonia minta aku ceritain kisah aa sama Nisa terus aku ceritain semua yang aku tau, dari situ Viona nanya apa aa sama Nisa sempat berhubungan badan? Aku jawab aja gak tau karena selama ini aa nyangkal semua itu kan!" terang Astri."Terus" ucapku meminta Astri melanjutkan.
"Viona bilang, kalo ngeliat dari kasus aa sama Nisa ada kemungkinan kalian pernah ngelakuin itu, andaikata Nisa hamil dan anak pertamanya adalah anak aa gimana?" tutur Astri."Gimana gimana maksudnya?" kataku pura-pura tak mengerti. "Koq Viona bisa punya prasangka gitu?" tambahku.
"Seenggaknya aa punya kewajiban dong buat ngerawat anak aa, masa dibiarin gitu aja!" ketus Astri seolah tak menerima jika aku menelantarkan Devia. "Tadi tuh kita jujur-jujuran, Viona nanya sama aku dan Sonia, apa aku dan Sonia pernah ngelakuin hubungan intim diluar nikah sama aa? Mau gak mau aku dan Sonia harus jujur kalo kita emang pernah ngelakuin itu diluar nikah sama aa karena Viona sendiri juga mengakuinya kalo waktu itu kalian berhubungan intim beberapa kali. Atas dasar itulah Viona punya dugaan kalo dulu aa pernah ngelakuinnya juga sama Nisa" sambung Astri menceritakan kejadian setelah aku berlalu meninggalkan mereka untuk mandi.Penuturan Astri membuatku merasa bingung harus berkata apa walau sebenarnya hal itu bisa kujadikan celah untuk mengatakan kebenaran. Belum mereda kegelisahan hatiku yang disebabkan oleh perbuatan anak pertamaku, sekarang aku makin gelisah setelah mendengar penuturan Astri. Apakah harus ku katakan bahwa aku sudah dipertemukan kembali bersama Nisa dan aku memang mempunyai anak darinya?
"Aa koq malah diem?" tanya Astri. "Jujur aja a!" sambungnya mendesakku.
"Iya" jawabku singkat."Iya apa?" ucap Astri makin mendesakku sampai-sampai dia bangkit terduduk.
"Iya aa emang pernah ngelakuinnya juga sama Nisa" ujarku jujur."Tuhhh kan, jujur aja deh selain sama Rani dan Nisa aa pernah ngewe siapa aja sebelum sama aku?" pinta Astri agar aku mengungkapkan semuanya.
"Kamu pernah baca cerita Petualang kan?" tanyaku."Koq aa tau aku pernah baca cerita itu?" tanya Astri heran.
"Apa kamu gak nyadar ya kalo kamu juga ada di cerita itu?" ucapku mengingatkan Astri pada cerita dewasa yang pernah dibacanya."Jadi yang nulis cerita itu tuh aa?" ujar Astri kaget. "Aku gak tau karena yang aku baca baru nyampe part 45, pas mau baca lagi threadnya udah gak ada." terang Astri.
"Ohh pantesan, aa kira kamu udah baca sampe tamat". balasku datar tanpa peduli apa yang akan terjadi setelah aku memberitau kebenaran masa laluku.
