Bab 24

53 0 0
                                    

Sekitar jam 18.07 aku mengantarnya pulang sekalian menemui Ayu sebelum akad nikah esok hari, aku keluarkan mobil dari garasi sementara Ratna mengunci pintu dan gerbang. Setelah pintu dan gerbang terkunci dengan baik Ratna pun membuka pintu mobil lalu masuk dan duduk. .. Bluggg .. suara pintu mobil tertutup.

"Kamu pikir saya ini supir pribadi kamu?" ujarku.

"Hah, maksudnya pak?" tanya Ratna tak pengerti dengan ucapanku.

"Kamu pikir saya ini supir kamu?" kataku mengulagi.

"Nggak pak, saya gak anggap bapak supir!" tegas Ratna.

"Terus kenapa kamu duduk di belakang?"

"Saya gak berani pak duduk di depan"

"Gak berani gimana? Cepet pindah sini!" perintahku agar Ratna duduk di sampingku.

"Gak apa-apa pak saya duduk disitu?" tanya Ratna ragu.

"Iya cepet pindah! Emangnya saya ini supir kamu" ucapku sedikit ketus.

"Maaf pak!" sahut Ratna seraya membuka pintu kemudian dia berpindah ke sisiku.

"Nah gitu dong!" ujarku walau tak mendapat respon apapun dari Ratna.

Aku mulai melepas pedal rem, bersamaan dengan itu mobil pun melaju perlahan menyusuri jalan perumahan yang diterangi cahaya lampu. Setibanya di jalan utama Ratna membuka pembicaraan.

"Tadi ibu nya koq pulang duluan pak?" kata Ratna menanyakan Vannisa.

"Tadi udah saya ajak tapi dia gak mau, alasannya gak kenal sama Ayu"

"Loh koq, katanya mba Ayu kenal sama istri-istri bapak"

"Ayu emang kenal sama istri saya, tapi sama dia (Vannisa) gak kenal"

"Maaf pak, emang yang tadi siapa?"

"Itu kakak ipar yang ngerangkap jadi sekretaris saya"

"Tapi tadi kan ....." ucap Ratna dengan nada kaget seraya menoleh ke arahku namun dia tak meneruskan ucapannya.

"Kenapa?" desakku seraya menoleh kearahnya agar Ratna meneruskan.

"Nggak pak, maaf!" kata Ratna sambil memalingkan wajah ke arah depan lalu menundukkan kepala.

"Kamu denger ya?" tanyaku mengkonfirmasi apa yang aku harapkan. Ratna hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa. "Jangan cerita sama si mbok dan Ayu ya Na!" tambahku meminta Ratna tutup mulut.

"Iya pak, maaf tadi saya gak sengaja lewat kamar bapak" sesal Ratna.

"Kamu punya pacar?" tanyaku mulai melancarkan sepik sepik iblis.

"Nggak pak" jawab Ratna singkat.

"Tapi pernah?" selidikku.

"Pernah sih dua kali, tapi ya gitu lah pak"

"Gitu gimana?"

"Ya gitu pak biasa aja"

"Maksud saya pernah ngapain aja sama pacarnya? Hanya sebatas ngobrol, pegangan tangan, pelukan, ciuman, atau sampe ....?" selidikku lagi.

"Ya gitu pak, saya malu ceritanya" jawab Ratna.

"Terus terang aja gak perlu malu" desakku.

"Gak pernah nyampe gituan sih pak, paling sebatas saling raba, itu juga masih pake pakaian lengkap" jelas Ratna.

"Oohhh ,, bagus lah kalo gitu, pertahankan kesucian kamu, berikan pada laki-laki yang memang berhak menerimanya. Ngerti kan maksud saya!" kataku menasehati.

Sonia Keponakan Istriku 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang