Survey lokasi yang kami lakukan rupanya lumayan menyita banyak waktu karena Nita yang bertugas sebagai surveyor dari perusahaan kontraktor benar-benar mencatat segala sesuatunya secara mendetail dan terperinci dengan baik, kita baru selesai melakukan analisis awal bertepatan dengan jam istirahat. Sambil jalan menuju gedung kantor Nita membuka pembicaraan dengan tema diluar pekerjaan.
"Eemmm makanan khas disini yang enak apa pak? Saya baru pertama kali ke Bandung, pengen nyobain makanan khas disini" ucapnya yang membuatku berpikir keras untuk menjawab pertanyaannya.
"Aduuhh saya kurang tau bu makanan khas sini" balasku.
"Loh koq, bapak orang Bandung asli kan?" tegasnya.
"Iya, saya emang orang Bandung, lahir dan tumbuh dewasa di Bandung, tapi saya kurang tau bu makanan khasnya apa, soalnya banyak banget dan saya jarang wisata kuliner" jelasku.
"Ohh kirain bapak tau. Aku hobi makan pak, begitu disuruh ke Bandung di otakku langsung kepikiran makanan khas Bandung" ujar Nita.
(He'em gak bilang juga gw udah tau dari fisik lu) kataku dalam hati. "Maaf bu kalo soal itu saya gak tau banyak"
"Bapak biasa makan siang dimana?"
"Biasanya di kantin kantor sih" jawabku jujur.
"Keberatan gak kalo saya minta anter bapak makan diluar? Terserah bapak aja mau makan dimana" pinta Nita yang membuatku berpikir menimbang-nimbang antara makan dikantin untuk ketemu Nisa atau nganter Nita sekalian PDKT. Hal itu menjadi pertimbanganku karena aku ngerasa janggal dengan permintaannya, tak mungkin Nita memintaku menemaninya jika tak ada maksud lain. "Gimana pak, koq malah diem?" tambahnya karena aku tak kunjung memberikan jawaban.
"Eeemmm boleh bu, kebetulan hari ini saya gak terlalu sibuk" sanggupku.
"mau pakai mobil bapak, atau mobil aku?" tanya Nita.
"mobil ibu matic atau manual?" aku bali bertanya.
"mobilku matic pak"
"ya udah pakai punya ibu aja, jam segini jalanan pasti macet bu. Saya males nyetir"
"masa cewe yang nyetir pak!" protes Nita.
"iya deh bu, saya yang nyetir" kataku menyanggupi walau sebenarnya aku merasa malas.
Sebelum pergi ke tempat makan kita menemui pak Dirut untuk melaporkan hasil survey sekalian aku minta izin untuk makan di luar. Pak Dirut merasa aneh dengan permintaanku itu karena makan siang di luar kantor baru pertama kali aku lakukan dan hal itu aku minta bertepatan dengan adanya Nita. Pak Dirut mengizinkanku untuk menemani Nita makan diluar namun beliau memasang ekspresi wajah senyum disertai tatapan mata penuh kecurigaan bahkan beliau menggodaku dengan mengatakan "gak sekalian mampir ke hotel pak?" bisiknya seraya menepuk pundakku.
"Akhhh bapak ini ada-ada aja" sambungku yang disambut tawa renyah beliau.
Aku dan Nita menuju parkiran, setibanya disana Nita membimbingku menuju mobilnya yang ternyata sebuah sitikar bertransmisi automatic, dia memberikan remot kepadaku untuk membuka kunci pintu dan aku pun menekan tombol unlock. Wik .. wik .. kunci pun terbuka. Aku berjalan menuju sisi pengemudi dan Nita ke sisi penumpang.
"Loh koq, bapak gak bukain pintu untuk aku?" Ucapnya yang membuat langkahku terhenti.
"Hah, bukain pintu?" Sahutku.
"Iya pak, bapak gak bukain pintu buat aku?"
"Ohh bentar bu" kataku seraya membuka pintu sisi pengemudi, aku masuk lalu membukakan pintu penumpang dari dalam.
"Ih bapak ini masa bukain pintu dari dalam sih?" Protes Nita setelah dia masuk kedalam mobil.
"Lah emang kenapa? Sama aja kan aku bukain pintu buat ibu"
