Sepeninggalnya Adnan ku lihat jarum jam dinding hampir menunjuk angka 5 dan jarum menit menunjuk angka 11, aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri terutama liang vaginaku yang beberapa saat lalu disirami peju. Ku semprotkan air kedalam liang vaginaku agar tak ada peju yang tersisa didalam sana, aku khawatir nanti malam suamiku meminta jatah padaku.
Usai membersihkan liang vagina ketika sedang asik mengguyur tubuhku dengan air yang keluar dari shower aku mendengar suara mobil suamiku. Seketika itu juga jantungku berdebar agak kencang, (Tumben papah pulang cepet) gumamku dalam hati. Aku benar-benar panik hingga aku mengulang kembali apa yang ku lakukan sebelumnya, ku masukkan dua jari kedalam liang vaginaku agar terbuka lebih lebar lalu aku menyemprotkan air kedalamnya sampai kurasakan air yang memancar dari jet shower menyentuh mulut rahimku. Setelah dirasa cukup bersih aku segera mengeringkan butiran air yang masih menempel di tubuhku dengan menggunakan handuk. Setelah kering aku segera keluar dari kamar mandi menuju kamarku lantas mengenakan daster tanpa menggunakan dalaman terlebih dahulu.
Setelah menggunakan pakaian aku bergegas turun dari kamar menuju ruang tv tapi suasana masih sepi sama seperti sebelumnya. (Loh koq gak ada, papah kemana?) tanyaku dalam hati. Aku lanjut melangkahkan kaki menuju ruang tamu lalu membuka pintu utama untuk memastikan apakah benar yang ku dengar beberapa waktu lalu adalah suara mobil suamiku? Ketika pintu terbuka benar saja aku melihat mobil suamiku terparkir didepan gerbang rumah namun dia tak langsung memasukkannya ke pelataran parkir. Aku melangkah keluar dan berhenti di teras rumah, dari situ aku dapat melihat suamiku sedang berbincang bersama tante Sella dan keduanya memasang wajah serius.
Panikku belum mereda, melihat mereka berbincang justru malah membuatku semakin gelisah. (Aduuhhh mereka lagi ngomongin apaan? Apa tante Sella ngeliat Adnan masuk rumah? Aduuhhh kalo bener tante Sella ngeliat Adnan aku mesti ngomong apa sama papah) risau batinku.
Aku menunggu suamiku sambil memikirkan alasan yang logis andaikata dia menanyakan Adnan. Beberapa saat kemudian tante Sella melihat ke arahku disusul suamiku yang ikut menoleh kearahku setelah tante Sella memberitaunya akan keberadaanku. Keduanya masih memasang wajah serius dan hal itu membuatku semakin gelisah dengan jantung yang berdebar semakin kencang.
Setelah perbincangan mereka berakhir tante Sella kembali melihat kearahku lalu melambaikan tangan sambil tersenyum dan aku membalasnya dengan senyuman. Suamiku berjalan menuju gerbang lalu membukanya lebar-lebar, setelah itu dia masuk kembali kedalam mobil untuk memarkirkannya di tempat parkir. Aku tetap berdiam diri menantinya hingga dia turun dari mobil, menutup gerbang, dan berjalan menghampiriku.
Diamnya aku justru malah menjadi pertanyaan bagi suamiku karena aku tak biasanya seperti ini, jika aku sedang berada di luar rumah lebih tepatnya berada di teras aku biasa membukakan dan menutup pintu gerbang untuknya.
"Tumben diem aja gak kaya biasanya bukain gerbang buat papah" ujar suamiku dengan ekspresi wajah serius.
"Hehehe lupa pah, abis aku heran juga kenapa papah malah ngobrol dulu sama tante Sella gak langsung masuk" balasku tapi tak mendapat respon apapun dari suamiku.
Ku raih tangan suamiku lalu menciumnya kemudian aku mengecup bibirnya.
"Tumben pulang cepet pah" tanyaku.
"Papah gak enak hati makanya langsung pulang" jawab suamiku dengan ekspresi wajah yang sama kemudian dia berlalu masuk kedalam rumah tanpa mengajakku.
Sikap suamiku sore ini berbanding terbalik dengan kesehariannya dimana dia selalu usil, jika berpapasan atau berdekatan tangannya pasti menyentuh memek, pantat, atau payudara. Bagian sensitif tubuh kami para istri tak pernah luput dari tangan usilnya, tapi kali ini dia sama sekali tak menyentuhku, sikapnya benar-benar membuatku semakin gelisah. Apa benar tante Sella melihat aku dan Adnan masuk kedalam rumah?
