Bab 26

81 0 0
                                    

"Kamu koq ada disini?" tanyaku heran.

"Aku minta izin sama suami buat kerja sampai bapak pulang" ujar Ayu disertai senyuman manis.

Aku masuk rumah lalu menutup pintu. "Si mbok mana?" tanyaku pada Ayu. Dia menjawab pertanyaanku dengan cara merangkul tengkuk menggunakan kedua tangan kemudian Ayu berjinjit untuk mencium dan melumat bibirku dengan penuh nafsu, aku balas ciumannya tanpa ragu karena tak mungkin Ayu berbuat seperti itu jika ibunya belum tidur. Pikirku.

Kita berciuman saling memagut bibir dan memainkan lidah sambil berdiri di ruang tamu. Ku gerayangi tubuh Ayu mulai dari punggung sampai ke pantatnya yang bulat sambil remas-remas dan sesekali ku colok lubang belakang Ayu dari luar daster. "Aku kangen pak!" ucap Ayu lirih sambil menatapku dengan tatapan menggoda setelah melepaskan ciuman. "Sama Yu, saya juga kangen" balasku.

"Kamar yuk!" ajak Ayu padaku.

Kita berjalan menuju kamarku, sesampainya di kamar aku menutup dan mengunci pintu terlebih dahulu sementara Ayu melanjutkan langkah menuju tempat tidur lalu naik keatasnya. Usai mengunci pintu aku menghampiri Ayu yang sudah duduk bersimpuh diatas ranjang memamerkan setengah paha yang mulus tanpa cela.

Aku lantas duduk disamping Ayu menatap wajahnya yang berseri dan memancarkan sinar kebahagian. Perlahan ku sibak rambut yang menutupi pipi Ayu, ku selipkan rambut tersebut kebelakang daun telinga agar tak jatuh lagi menutupi pipi. Ku dekatkan wajahku ke wajah Ayu lalu mengecup keningnya, ketika aku sedikit menjauh ku lihat Ayu membuka mata perlahan dimana itu menjadi suatu pertanda bahwa dia meresapi kecupanku.

Kita berciuman lagi sambil ku bimbing Ayu untuk berbaring terlentang diatas ranjang lantas aku menindih tubuhnya. Semakin lama permainan bibir kita semakin liar tak terkendali berkat dorongan hawa nafsu birahi yang makin meningkat. Sambil berciuman Ayu melepas kancing kemejaku satu persatu kemudian berusaha melepas ikat pinggang dan kancing celana. Setelah kancing kemeja dan celana terlepas aku bangkit meninggalkan bibir Ayu untuk melepas kemeja dan celana hingga yang tersisa hanya celana dalam saja.

Aku menindih tubuh Ayu lagi namun hanya sebagian tubuhnya saja, hal itu sengaja ku lakukan agar tangan kananku terbebas dari beban tubuhku sehingga aku dapat menjamah tubuhnya dengan tangan kanan. Payudara Ayu lah yang menjadi target pertama jamahan tanganku, aku meremas lembut buah dada Ayu yang hanya terhalang kain daster, melalui sentuhan di payudara aku merasakan getaran nafsu menjalar dari telapak tangan sampai ke hati lalu memuncak ke ubun-ubun. Ciuman kami semakin liar, aku sudah tak mampu menahannya lagi dan ingin segera menuntaskan nafsuku.

Sebelum mengeluarkan tongkat mungil kebanggaanku, aku jamah selangkangan Ayu meraba vagina yang sudah lama ku idamkan. Ku tarik daster Ayu ke atas kemudian aku meraba belahan vagina yang tak terhalang kancut, ku rasakan lubang Ayu sudah basah dan licin dimana hal itu menjadi pertanda lubang tersebut sudah siap untuk dimasuki.

Tanpa berlama-lama lagi aku menurunkan cd sampai lolos dari kaki kemudian aku menindih Ayu seutuhnya memposisikan pinggulku tepat diantara kedua kaki Ayu. Aku hentikan ciuman lantas menatapnya seraya mengoles-oles belahan memek menggunakan kepala batang sampai ku rasakan lendir memek Ayu membasahi kepala batangku. "Sekarang boleh kan?" bisikku meminta izin kepada Ayu untuk memasukkan batang kedalam memeknya. Ayu hanya mengangguk sambil tersenyum tanda sentuju.

Ku bimbing burungku untuk memasuki sarang baru, setelah dirasa tepat aku mulai memberikan penetrasi pelan namun bertenaga .... "Eemmm ...." rintih Ayu meringis menahan sakit. (Anjir koq mentok) kagetku dalam hati. Aku terus memberikan tekanan sampai .. bleessss .. batangku berhasil masuk seutuhnya. Lubang memek Ayu terasa sangat sempit dan cengkramannya sangat kuat hingga aku merasa batangku seakan diperas erat.

Bersamaan dengan itu aku merasa ada yang ganjil, ketika batang ku paska masuk Ayu meringis dan mengerang disertai ekspresi wajah menahan sakit, matanya terpejam erat dan Ayu menggigit bibir bawahnya. Aku tak langsung menggenjotnya, ku biarkan lubang memek Ayu terbiasa dengan keberadaan batangku.

Sonia Keponakan Istriku 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang