Bab 13

60 0 0
                                    

Sesampainya aku di depan gerbang perumahan tempat tinggal Ricky bertepatan dengan tibanya taksi online yang ku pesan. Mobil itu menghampiriku lalu supir membuka kaca depan sisi penumpang kemudian bertanya "Maaf, mba Sonia?" tanya nya mengkonfirmasi. Aku hanya mengatakan "Iya" membenarkan pertanyaannya lalu membuka pintu belakang mobil dan masuk kedalamnya, "Sesuai map aja mas" ucapku setelah duduk di bangku belakang dan menutup pintu, sopir pun mulai menjalankan mobilnya untuk mengantarku pulang.

Beberapa menit ku tempuh perjalanan dengan menundukkan kepala disertai isak tangis dan derai air mata penyesalan yang membasahi pipiku namun aku sendiri tak mengerti apakah ini penyesalan karena aku membiarkan Ricky menjamah tubuhku atau karena hasratku tak tertuntaskan. Tangisku mereda ketika supir menyebut namaku secara langsung "Kamu kenapa Sonia?" tanya supir taksol yang suaranya sangat familiar di telingku. Kontan aku mengangkat kepala lalu melihat spion tengah dan nampaklah wajah orang yang berada di belakang steer.

"Asep!" seruku menyebut nama sopir taksol. "Aku kira siapa" tambahku.

"Kamu kenapa nangis?" tanya Asep menyelidiki.

"Gak apa-apa Sep cuma lagi sedih aja" balasku menutupi.

"Iya sedih kenapa, apa ada orang yang nyakitin kamu?" desaknya.

"Gak apa-apa koq, makasih ya kamu udah peduli sama aku"

"Aku selalu peduli sama kamu, andai kamu ngasih kesempatan aku mau balik sama kamu" ungkapnya.

"Udah lah Sep itu masa lalu, lagian sekarang aku udah nikah dan punya anak" tepisku.

"Iya aku tau koq, kamu nikah sama suami tante kamu kan?" ujar Asep yang membuatku diam membisu.

Diamku bukan tanpa alasan, aku bingung harus berkata apa ketika Asep mengemukakan pernyataannya. Asep adalah pacar pertamaku dimasa SMA, dia aku jadikan pelampiasan atas cintaku pada om Dika karena aku beranggapan tak mungkin cintaku terbalaskan olehnya, Asep juga orang yang pertama kali mencium bibirku dan mengajarkanku berciuman. Dengan hadirnya Asep dalam hidupku mampu mengalihkan rasa cintaku pada om Dika saat itu walau pada akhirnya cinta terlarang ini benar-benar terwujud dengan dipersuntingnya aku menjadi istri om Dika.

"Koq malah diem? ... Maaf ya kalo ucapanku nyinggung perasaan kamu" ujar Asep kembali memecah keheningan.

"Gak apa-apa koq, suamiku emang suami tante aku dan aku jadi istri keduanya" balasku.

"Hebat ya bisa nikahin tante sama keponakannya" ucap Asep memuji namun terkesan meledek dan membuatku sedikit tersinggung.

"Maksud kamu apa ngomong kaya gitu?" kataku dengan nada agak tinggi.

"Nggak koq aku gak ada maksud apa-apa cuma salut aja sama om kamu" ucapnya.

"Udah ah berenti" pintaku tegas.

"Maaf Sonia, aku gak ada maksud apa-apa koq sumpah"

"Gue bilang berenti!" tegasku sedikit membentak tapi Asep tak menggubrisku.

"Tujuan kamu kan masih jauh Sonia!"

"Gue bilang berenti, lu denger gak?" Bentak ku lagi hingga Asep pun memperlambat mobilnya lalu menyalakan sein kiri untuk menepi kemudian berhenti.

"Udah gue bayar pake aplikasi" ucapku ketus seraya membuka pintu mobil lalu turun tanpa berkata apa-apa lagi.

Setelah pintu tertutup aku berjalan mundur menjauhi mobil Asep dan bersiap untuk memberhentikan angkutan kota yang melewati komplek tempat tinggalku. Tanpa aku kira ternyata Asep juga turun dari mobilnya kemudian menghampiriku.

"Sonia aku mohon maafin aku kalo ucapanku nyinggung perasaan kamu, aku bener-bener gak ada maksud apapun" ungkap Asep memohon tapi aku tak mempedulikannya sama sekali.

Sonia Keponakan Istriku 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang