Bab 23

63 0 0
                                    

Pukul 12.05 ketika aku hendak memesan makan siang di kantin via line telephone handphone ku berbunyi tanda pesan masuk ke nomor pribadiku, segera ku raih handphone untuk melihat pesan tersebut karena aku mengira itu adalah pesan dari Devia, namun ketika ku lihat dari bar notifikasi ternyata pesan itu dari Ayu. Aku lantas membacanya,

*Pak, kenapa gak kesini, bukannya minggu ini jadwal bapak bertugas disini?
Semalaman aku nungguin bapak nyampe aku ketiduran di sofa ruang tamu* kata Ayu lewat pesan yang dia kirim.

*Maaf Yu saya gak ngabarin kamu, saya datang sama Viona dan kita langsung ke rumah orang tuanya.
Sekarang saya di kantor, nanti pulang kesitu koq* balasku yang tak lebih dari 10 detik langsung Ayu baca.

*Aku sekarang di rumah pak, persiapan buat besok* balas Ayu.

*Kunci rumah kamu bawa?* tanyaku.

*Nggak pak, ada adik aku* jawab Ayu.

*Ohh ya udah.
Besok saya sama Viona datang ke nikahan kamu koq* tegasku.

*Sebelum akad nikah aku pengen ketemu bapak dulu!* balas Ayu.

*Iya Yu, saya usahakan besok datang lebih awal biar bisa ketemu sebelum akad nikah* kataku menyanggupi.

*Aku mau hari ini pak!* tegas Ayu.

Aku tak lekas membalasnya .. (Hah, maksudnya apa?) tanyaku dalam hati merasa aneh dengan permintaan Ayu. Ku baca ulang pesan dan semua balasan dari Ayu, dengan berbekal otak mesum aku menyimpulkan bahwa Ayu ingin bermesraan denganku terlebih dahulu sebelum dia resmi menjadi istri orang lain.

*Mohon maaf Yu, saya gak bisa kalo hari ini* balasku menolak permintaan Ayu.

*Hehehe iya pak gak apa-apa, aku cuma becanda koq!
Aku tunggu kedatangan bapak besok*

*Iya Yu, saya janji akan saksikan akad nikah kamu* balasku yang menjadi akhir dari chat kami siang itu.

"Siapa Ka?" tanya Vannisa.

"Ayu. Dia ngasih tau kalo sekarang lagi ada di rumahnya" jawabku.

"Rumah dinas kamu sepi dong!" ujar Vannisa.

"Nggak juga, ada adiknya yang nungguin aku buat ngambil kunci rumah." balasku. "Kamu besok mau dateng ke nikahannya gak?" sambungku bertanya pada Vannisa.

"Nikahan siapa?" tanya Vannisa heran.

"Ayu, dia besok nikah!" jelasku.

"Aku kan gak di undang Ka!" sesal Vannisa.

"Ohh" balasku singkat.

Aku lanjutkan niat untuk memesan makan siang, ku angkat line telephone lalu menekan nomor kantin. ... Tuuuttt .. tuuutttt .. tuuuttt .. berulang kali nada sambung berbunyi namun tak ada yang mengangkatnya. Aku akhiri panggilan dan mengulanginya lagi tapi hasilnya tetap sama saja.

"Koq gak ada yang angkat!" gerutuku sedikit kesal.

"Nelpon siapa?" tanya Vannisa.

"Orang kantin, aku mau pesan makan siang buat kita" jelasku yang sontak membuat Vannisa tertawa.

"Hahaha .. ya iya lah gak akan ada yang angkat, ini hari Sabtu Kaa, kantinnya libur" ujar Vannisa.

"Oh iya ya .. hehehe" sahutku.

"Aku udah pesen koq, tinggal nunggu aja" ucap Vannisa.

"Ohh syukur lah kalo gitu" ucapku.

Sambil menunggu pesanan datang aku dan Vannisa kembali bermesraan diatas sofa ruang kerjaku sampai security datang mengantar makanan yang Vannisa pesan. Setelah makan siang kita bermesraan lagi dan mengulangi persetubuhan untuk kedua kalinya sebelum melanjutkan pekerjaan.

Sonia Keponakan Istriku 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang