Dua belas

5K 252 4
                                        

Dua jam pencarian tanpa hasil, akhir nya cara terakhir digunakan, yaitu meminta bantuan Yesaza, jika pencarian sebelum nya menggunakan darah maka kali ini tidak lagi diperlukan karena Yesaza sudah bisa sendiri menemukan nya, karena sudah tau detai rupa dan ciri fisik orang yang di cari.

"Ku akui dia gadia kecil yang pintar." ucap Yesaza setelah mengetahui keberadaan Ghea.

"Maksud mu?" tanya Xender lebih jelas, ia penasaran kemana pergi nya Ghea hingga bisa semudah itu lepas dari pantauan para prajurit serta pelayan yang berada di kediaman nya.

"Untuk bersembunyi dari musuh tempat teraman adalah sarang musuh itu sendiri, karena musuh tak akan menyangka kan hal itu." jelas Yesaza, sementara Xender hanya menatap bingung masih belum paham, sementara yang lain hanya menyimak. "Kau tau saat ini dia tengah tertidur lelap di dalam ruang rahasia milik mu." beritahu Yesaza pada Xender, yang kini menampilkan raut wajah terkejut serta tak menyangka bahwa Ghea yang seorang asing menurut nya karena baru pertama kali menginjakan kaki di tempat nya sudah bisa menerobos masuk ke ruang rahasia milik nya yang tidak bisa sembarang orang masuki selama ini.

"Bagaimana bisa?" tanya Xender heran masih tidak percaya rasa nya, dengan apa yang di kata kan oleh Yesaza

"tentu saja bisa, untuk bagaimana nya ya kau tanyakan langsung ke orang nya lah, masa tanya aku." jawab Yesaza acuh.

"Coba kau cek saja kak." sahut Dikra yang sama penasaran nya.

"Apa dia masih di tempat itu?" tanya Xender yang berniat mengecek nya untuk membuktikan.

"Ya coba saja kau periksa jika kau tak percaya."

tanpa menjawab segera Xender bergegas menuju kamar nya untuk membuktikan perkataan Yesaza, dan diikuti oleh kedua adik, ayahnya serta Yesaza, dan benar saja begitu ia sampai di kamar dan memasuki ruang rahasia milik nya disana ia menemukan Ghea tengah tertidur pulas di ranjang khusus milik nya.

ingin tidak percaya tapi fakta menamparnya, apa ruang rahasia milik nya semudah itu dirancang hingga bahkan orang yang di kenal asing pun bisa mengetahui keberadaan,letak serta akses masuk pun bisa dengan mudah dilakukan, seperti yang di lakukan Ghea saat ini.

merasakan pergerakan serta suara brisik yang tiba tiba membuat Ghea tersadar dari tidur lelap nya, begitu membuka mata hal pertama yang ia lihat adalah tatap berbeda beda dari beberapa orang yang kini menatap nya.

dengan canggung serta nyawa yang belum terkumpul sepenuh nya Ghea mencoba menyapa mereka. " Oh hay, kau akhirnya berhasil menemukan ku ya?" sapa Ghea di sertai pertanyaan. "Jam berapa ini, aku sampai ketiduran menunggu kau menemukan ku." ejek Ghea pada Xender yang kini menatap kesal dirinya.

sementara Ziander serta kedua putra nya yang lain hanya menyimak dengan tatapan datar pada mereka berdua, ada pun Yesaza ia menatap lurus pada sosok Ghea yang menurutnya unik karena dirinya bisa merasakan hal berbeda ada pada diri Ghea, walau ia belum tau pastinya apa itu.

"Bagaimana kau bisa tau dan memasuki ruangan ini." tanya Xender menuntut pada Ghea, mengabaikan pertanyaan Ghea sebelum nya.

"Apa? tempat ini, oh mudah saja aku mencari tempat sembunyi dan mememukan tempat ini dan aku memasuki nya." jawab Ghea santai, sementara Xender masih tidak terima dan kembali bertanya lebih detail.

"Aku tidak percaya semudah itu, kata kan siapa yang membocorkan keberadaan ruangan ini pada mu?" paksa Xender yakin pasti ada orang yang memberitahukan pada Ghea tentang ruang rahasia milik nya.

"Siapa? tidak ada tu, aku tau sendiri, lagian orang bodoh mana yang mendesain ruang rahasia semudah itu bahkan aku yang seorang anak kecil pun bisa dengan mudah menemukan nya." jawab Ghea di sertai ejekan pada Xender, yang kini menatap tidak suka pada dirinya.

"Kau bocah sampah, cih .. hanya menyusahkan saja bisa nya." maki Toris.

"Sampah ya, tapi kenpa harus bersusah payah kau cari dan kau pungut, tidak kah otak bodoh mu itu berfikir bahwa sejati nya sampah itu tidak berguna dan layak tapi kenapa masih juga kalian pertahankan." sahut Ghea acuh tidak merasa sakit hati sama sekali karena ia tak merasa seperti itu.

"Seperti layak nya sanpah, kau dipungut untuk di musnahkan, jadi jangan berbangga diri, sampah." sinis Toris.

"iya kah, tapi yang aku lihat tidak seperti itu tu." sahut Ghea mengejek.

"Maksud mu?" tanya Dikra ikut dalam perdebatan mereka.

"Ya apa perlu waktu selama ini untuk memusnahkan sampah ini, padahal jika kalian begitu ingin, di saat pertemuan pertama pun kalian bisa langsung memusnahkan ku di tempat, tapi kalian tidak melakukan nya dan malah membawa ku kesini, sebenar nya apa tujuan kalian menyekap ku disini? tidak mungkin kan kalian menyesal,  berniat meminta maaf dan mengatakan akan memulai segala nya dari awal dan melupakan masa lalu, haha... lucu sebelum terjadi aku katakan bahwa itu tidak akan mungkin." ucap Ghea pada mereka, dengan tatapan mencemooh pada mereka.

"Cih percaya diri sekali diri mu, kau tak sebeharga itu bahkan tidak layak untuk kami sesali, derita mu selama ini adalah hal yang layak kau dapatkan, anak haram." cemooh Toris membalas perkataan Ghea, yang membuat Ghea seketika  menatap nyalang pada dirinya.

"Anak haram ya? coba kau tanya kan pada sumber haram itu yaitu ayah mu sendiri! yang membuat aku hadir di dunia ini, apakah kelakuan nya di sebut halal atau hina layak nya binatang, karena hanya hewan yang kawin bebas tanpa adanya hubungan." maki Ghea kesal. "lagian bukan aku yang haram tapi kelakuan orang yang menghadirkan diri ku yang haram." jelas Ghea lagi mentapa benci pada Ziander yang kini menatap tajam dirinya, yang secara terang terangan menghina karakter nya.

"Apa kau ingin marah, pada fakta yang aku katakan?" tantang Ghea pada Ziander, tanpa takut sama sekali malah  menatap berani dan menantang pada Ziander.

"Cukup, hentikan perdebatan , dan kau Ghea akan mendapatkan hukuman kembali setelah ini." putus Ziander menghindar dari pembahasan tentang dirinya.

"Pecundang, ingin lari dari pembahasan he." ejek Ghea pada sikap Ziander.

"Sangat tidak sopan." seru Dikra pada ucapan Ghea.

"Kalian bukan orang yang layak untuk mendapatkan kesopanan dari diriku." jawab Ghea acuh, dengan gaya songong menatap angkuh lawannya.

"Dan kau pak tua selain Bajingan sebagai orang tua, juga bodoh dalam memimpin, menghukum diri ku yang jelas tidak bersalah." hujat Ghea pada Ziander, merasa tidak terima selalu mendapatkan hukuman padahal jelas diri nya tidak bersalah.

sementara Yesaza semakin merasa tertarik dengan perdebatan serta konflik hubungan di antara mereka. "Wow ... menakjubkan, tidak ada orang luar yang tau tentang keburukan  ini selain diri ku sendiri, di balik sikap baik yang di tunjukan nya selama ini pada dunia luar, cik luar biasa pencitraan yang ia tunjukan pada rakyat." puji Yesaza pada Ziander beserta ketiga putra nya, ia merasa tersanjung mengetahui rahasia yang tidak orang lain ketahui.

GheaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang