tiga belas

5K 264 8
                                        

"Lepasin gak!! aku bilang lepas, jangan pegang pegang kalian menjijikan tau, lepas aku gak mau!!" seru Ghea berontak tidak suka saat diri nya di pegang serta di seret paksa untuk menghadap Ziander, entah apa yang di ingin kan pria bajingan itu Ghea pun tak tau.

"Anda harus ikut kami nona, ini perintah." sahut salah satu prajurit.

"Perintah apa? untuk mu saja tapi tidak dengan ku yang tak ada hubungan apa pun dengan nya, kalian kan kacung nya sementara aku bukan." seru Ghea tidak terima.

"Ikuti saja nona, menurut dan patuh akan mempermudah segala nya." sahut prajurit itu memaksa.

"Tidak mau, aku tak sudi."seru Ghea masih berusaha memberontak untuk melepaskan diri.

tapi semua sia sia seberapa kuat pun Ghea berusaha tetap tak akan menang  jika lawan nya adalah beberapa prajurit terlatih dengan tenaga yang kuat, semua terasa sia sia, bagi dirinya yang hanya seorang gadis kecil.

" Anjir lah, aku gak terima di gini in."
Batin Ghea kesal setengah mati rasanya, didalam otaknya seketika langsung merangkai berbagai macam rencana untuk membalas dendam pada mereka yang terlibat.

_______

"Masih sangat liar ternyata?" pertanyaan yang merujuk pada pernyataan sepihak itu, menyambut kedatangan Ghea begitu ia tiba di ruangan Ziander setelah diseret paksa oleh para prajurit, Toris seseorang yang mencetuskan pertanyaan itu menatap Ghea dengan tatapan hina .

"Menilai diri ku sembarangan, tak sadar diri kah?! kau bahkan terlihat seperti sampah." sahut Ghea balas menghina lebih pedas, Toris menatap murka Ghea tidak Terima atas hinaan Ghea pada dirinya.

"Apa kau ingin marah, ingin memukul ku, lakukan jika kau memang pecundang sejati, berani memukul seorang wanita terlebih aku hanyalah seorang anak kecil." tantang Ghea berani semakin menantang untuk memanasi Toris agar semakin murka pada nya, yang membuat Ghea senang adalah Toris atau siapa pun itu tidak akan berani menindas nya secara terang terangan, mengingat citra baik mereka di masyarakat yang mereka bangun susah payah selama ini.

"Hentikan perdebatan kalian,  dan kau Ghea kenapa kau tak pernah bisa bersikap tenang?" lerai Ziander pada perdebatan kedua anak nya.

"kalian yang memulainya jadi jangan tanya kan pada ku, tanya kan pada diri kalian kenapa mengusik ku lagi, sudah bagus dulu kalian mengabaikan  dan tak menganggap ku, dunia ku terasa tenang dan damai karena itu, tak seperti sekarang serasa menjengkelkan dan aku tak suka." marah Ghea tidak Terima, hidup bebas nya terkekang setelah bertemu dengan mereka para manusia bajingan.

"Jadi apa mau mu?" tanya Ziander.

"lepaskan aku, biarkan aku pergi, aku ingin kembali kerumah ku, aku tak suka disini, terlebih bersama dengan kalian, nafas ku terasa sesak harus berbagi udara dengan kalain para sampah." jawab Ghea menatap benci pada mereka.

"Bagus, karena itu yang aku ingin kan, jika  bisa berhenti lah bernafas, itu lebih baik untuk mengurangi hama seperti mu." sahut Toris pada ucapan Ghea.

"kau siapa?! tuhan! bisa mengatur kehidupan ku termasuk kematian ku." cerca Ghea pada Toris.

"lagian yang seharusnya mati itu kalian, calon penghuni neraka." lanjut nya sinis.

"Hey kau!!" Seru Dikra tidak Terima.

"Apa?! tidak Terima kenyataan, makanya bertobat sebelum terlambat, merasa tinggi diri itu boleh tapi juga harus sadar diri." jawab acuh Ghea.

"Sudah lah, malas aku meladeni kalian buang buang waktu beharga ku, dan kau pak tua katakan apa maksud mu menyeret paksa diri ku kesini? jika tidak penting awas saja habis kau dengan ku." ancam Ghea kesal masih dia tu, diseret paksa seperti tahanan.

Ziander hanya merespon datar ancaman yang Ghea ucapkan pada nya, lagian apa yang bisa anak sekecil Ghea lakukan untuk membalasnya pikir nya remeh.

"Tidak ada hanya, menyampaikan hukuman yang harus kau Terima karena perilaku mu sebelum nya." jawab Ziander santai. "dan hukuman mu adalah kau akan di kurung di penjara bawah tanah selama seminggu."

BRAK

Entah sejak kapan kotak kayu kecil di meja di raih oleh Ghea dan melemparnya langsung ke muka Ziander dengan kuat dan lemparan itu tepat sasaran, mengakibatkan pendarahan hebat di wajah Ziander karena hantam keras dari kotak kayu yang Ghea lempar.

"Ahkkh."

"Hey kau."

"Apa yang kau lakukan?!"

"Kurang ajar." ____ berbagai seruan protes terlontar atas aksi berani yang Ghea lakukan.

"kau pikir aku bercanda dengan ucapan ku sebelum nya, sudah aku katakan jika tidak penting habis kau dengan ku, lagian apa hak mu menghukum ku, kau tidak berhak tuan, karena kau bukan siapa-siapa." Cerca Ghea menatap puas pada wajah Ziander yang mengalir kan darah karena ulah nya. walaupun kedua tangan nya kini di tahan kembali dengan lebih erat oleh para pengawal Ziander, takut dirinya kabur.

"Kau terlalu berani bocah kecil, tidak kah kau tau dengan siapa kau berurusan,?! " ucap Xender dingin menatap nyalang pada Ghea.

"Berani tentu saja, buat apa takut, didunia ini aku hanya mengandalkan diri ku sendiri jika bukan aku sendiri yang bertindak tidak akan ada siapapun yang akan melindungi ku, jelas aku tau dengan siapa aku berurusan, dengan para manusia bajingan berkedok bangsawan." jawab Ghea berani, tidak ada kata takut dalam kamus nya, takut hanya untuk orang yang bersalah sementara dirinya tidak, walaupun dirinya salah dirinya pun tetap tak akan takut.

"Kau sekurang ajar ini ternyata, melukai ayah mu sendiri dan bereaksi tanpa beban seperti ini setelah nya." ucap Ziander pada Ghea.

"ya itu lah diri ku, dan sekarang kau sudah tau kan?! ku akui aku memang kurang ajar, salah lebih tepat nya tak terajar, kau coba ingat dan gali isi otak mu itu tuan, pernah kah kau mengajari ku sebelum nya, hingga dengan tak tau dirinya kau menanyakan tentang pengajaran ku, dan apa kata mu tadi ayah, kau menyebut dirimu ayah, sejak kapan kau menjadi ayah ku, yang aku tau aku yatim piatu sejak lahir, jadi jangan coba kau membual disini." jawab Ghea sinis.

"Ayah, sudah sangat terlambat anak ini sudah tak bisa kita kendalikan, terlalu liar." ucap Xender pada Ziander.

"Untuk apa repot repot mengendalikan ku, tidak ada untung nya untuk kalian kan, maka dari itu lepas kan aku, aku muak berada di sekitar kalian." sahut Ghea pada ucapan Xender. "lagian katanya kalain ingin memusnah kan ku kan, tapi apa sampai sekarang tak juga terjadi." tantang Ghea. "Apa  kalian tidak mampu?! " tanya Ghea remeh diakhir dengan tampang mengejek serta gaya pongah andalan nya..

Semua diam menanggapi ucapan Ghea, entah lah tujuan awal mereka musnah begitu saja, dan mereka pun tak tau apa yang sebenarnya mereka inginkan.








GheaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang