Sembilan belas

3.3K 152 16
                                        


Yang pasti terimakasih buat kalian semua para pembaca 🙏

Selamat membaca

"Cik, gak bakalan paham kau walau di jelas kan juga." cibir Ghea sinis pada Agra udah lah gak tau banyak tanya lagi, "repot ngejelasin ke orang purba mah." Keluh Ghea dalam hati.

"Ya karna tak tau lah, makanya orang nanyak, bocah."

"Bocah bocah, gue lebih tua dari elo ogep." Umpat hati Ghea kesal.

"Au ah gelap."

"Apa?"

"Gak, lo eh kau jelek." pleset Ghea kembali menggunakan bahasa dari dunia nya.

"Aneh." respon Agra pada Ghea. "Jadi mau apa kau malam malam keluar? sendirian lagi, tak takut kah?!"

"Takut kenapa, biasa aja kali." dah lah malas mau saring kata kata, tau sendiri kalo udah kebiasaan susah buat ngerubah nya, lidah nya tu udah terlalu lentik dan terbiasa dengan kata kata yang sering ia gunakan di dunia nyatanya dulu makanya ia jadi sering keceplosan maklumi aja lah.

"Gak sadar diri, gak nyadar kah kau, kalau kau itu masih anak anak." komentar Agra yang kembali mengingat kan Ghea pada kenyataan atas apa yang terjadi pada dirinya.

"Ngapain takut, ini kan di istana, penjagaan juga ketat, prajurit dan pelayanan di mana mana, masa iya di dalam istana pun gak aman." sahut Ghea beralasan tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya kalau ia tak takut karena ia sudah dewasa kan.

"Ya kau benar juga, jadi mau apa kau, keluar sendirian di malam hari?".

"Mau makan, lapar banget ni, siapin makanan sana, aku kan tamu, bayar sewa juga mana mahal lagi, tapi pelayanan yang aku dapatkan tak sesuai dengan yang aku bayar kan, namanya aja istana tapi realita nya gak sesuai ekspektasi." Jawab Ghea berujar panjang lebar di sertai keluhan dan keritikan yang cukup berdampak pada harga diri Agra sebagai pemilik istana.

"Kan ada pelayan kenapa gak minta kemereka?" tanya Agra mengabaikan keritikan pedas Ghea

"Males dan gak bisa, maksud nya, kau gak nyadar atau lupa kalau sedari awal gak ada pelayan yang kau siap kan untuk melayani aku, yang notabenenya adalah tamu atau penyewa disini." jawab Ghea menyampaikan keluhannya.

"Maaf aku lupa." sahut Agra merasa sedikit bersalah karena melupakan hal penting itu.

"Santai aja kali, gak jatuh kah harga diri tu, sebagai putra mahkota meminta maaf ke aku yang hanya seorang rakyat jelata."

"Meminta maaf bukan berarti merendah hanya menyadari kesalahan." jelas Agra.

"Ya ya... apa kata mu lah dek, buruan ambilkan makanannya aku udah kelaparan banget ni." suruh Ghea kembali pada Agra, yang segera di lakukan oleh nya, bukan menyiapkan sendiri ia hanya menyuruh kepala pelayan untuk melakukan nya sesuai permintaan Ghea.

"Yang enak ye, awas kalo hambar gak bakal aku makan." seru Ghea keras karena jarak Agra yang sudah agak jauh dari nya.

"cik, mau makan aja ribet kalo disini mah, kalo di dunia gue dulu mah enak tinggal beli, toleh kanan kiri depan belakang orang jualan semua, beragam makanan di jual orang tinggal duit aja lah pokoknya ada uang beli gak ada uang gigit jari aja, mentok mentok mie gelas pun jadi alternatif kalo pas lagi terdesak mah, kalo lagi malas juga tinggal delivery serba praktis pokoknya dah." keluh Ghea sambil berceloteh sendirian mengeluhkan perbedaan dunia nya yang dulu dan sekarang.

_________

"Siapkan makanan terbaik segera,   bila perlu tugas kan semua pelayan dapur untuk membantu menyediakan nya, pastikan menu yang kalian masak enak dan terbaik, jangan mempermalukan ku dengan hasil yang mengecewakan, nama ku dan istana ini yang akan di pertaruhkan." titah Agra pada kepala pelayan, tak lupa mengultima mereka agar tak melakukan kesalahan yang akan kembali berdampak pada nya kelak.

"baik putra mahkota, akan kami siapkan sesuai perintah anda."

"Berapa sebenarnya usia anak itu, sehingga begitu mudahnya ia menyentil harga diri ku." keluh Agra sedikit frustasi atas ucapan dan sikap Ghea pada nya.

__________

"Oh astaga, lama nya mereka hanya sekedar menyiapkan sepiring makanan pun, padahal permintaan ku tak neko neko, hanya makanan untuk diriku sendiri saja, tapi mereka membutuhkan waktu hampir sejam lebih itu pun belum ada tanda-tanda makanan itu sudah siap." gerutu Ghea kesal sudah sangat  lelah menunggu lama hanya untuk sepiring makanan.

"Makan lah, semua ini aku siapkan khusus  untuk mu, tamu kehormatan." ujar Agra pongah, sekaligus menyindir Ghea yang menatap cengo pada meja makan di hadapannya yang menyajikan begitu banyak ragam menu, yang entah apa bisa sanggup ia menghabiskan nya seorang diri.

"Padahal cukup ceplokan telur mata sapi saja sudah cukup, seperaktis itu tapi mereka membuat nya begitu rumit." komentar Ghea tak habis pikir dengan Agra yang bersikap berlebihan menurut nya.

"Mau pamer hu, tau kau punya banyak uang, tapi tak seharusnya kau bersikap berlebihan seperti ini, siapa yang akan menghabiskan semua ini, kau pikir aku raksasa yang bisa menghabiskan semua makanan ini." cerca Ghea kesal pada Agra.

"Salah lagi?! Kau ini bagaimana sih, dikasi makan salah gak di kasi makan juga salah." Komentar Agra tidak terima.

"Kau memang salah, sadari itu, dari pada kau menyiapkan makanan sebanyak ini hanya untuk satu orang dan berakhir mubazir karena tidak habis, lebih baik kau berikan semua makanan ini pada para rakyat mu yang kelaparan di luar sana, banyak dari mereka yang mengemis hanya untuk sepotong roti, dan kau sebagai calon pemimpin mereka malah menyia nyiakan hal yang bagi mereka sangat berharga." cerca Ghea pada Agra agar ia bisa lebih bijak lagi sebagai calon pemimpin.

"Tapi____"

"Dah lah cukup sampai disini, cukup kau pahami dan tak kau ulangi lagi, aku sudah sangat lapar tak ingin kembali berdebat dengan mu." potong Ghea cepat pada kalimat selanjutnya yang akan Agra ucapkan sebagai upaya nya membela diri untuk membenarkan tindakan nya.

"Kalian tak ada yang pandai memasak ya, masa iya ayam kalian masak rebus putih begini, mana rasanya aneh lagi, tak kalian kasi bumbu kah, aku juga biasa makan ayam masak putih begini tapi rasanya sangat enak, dengan tambahan sayuran serta taburan daun seledri dan bawang goreng tak seperti ini sangat sangat tidak enak, selapar lapar nya aku rasanya masih menolak jika harus memakan ini, untungnya ada ikan bakar disini walau terlihat biasa saja setidaknya rasanya normal dari pada menu lainnya yang kalian siapa kan." komentar Ghea pada para pelayan Agra, bukan nya ia bersikap cerewet atau apa, tapi ini makan benar benar aneh rasanya.

"Lain kali lebih baik kalian goreng saja ayam nya, mungkin itu lebih bisa diterima rasanya dari pada kalian memasak nya tanpa bumbu seperti ini." komentar Ghea lagi pada masakan para pelayan.









Maaf jika tak sesuai ekspektasi kalian ya, terimakasih buat dukungan kalian semua.

Bay bay jumpa lagi.

8 may 2025

"

GheaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang