dua puluh

3.1K 141 7
                                        

Tidak seperti tiga hari terakhir dirinya yang dapat bersantai ria setelah pelarian nya dari kediaman Ziander sang ayah durhaka, kini ketenangan Ghea kembali terusik dengan kemunculan Ziander yang tiba-tiba, entah karena kesialan atau apa tapi hal yang paling tidak ia harapkan itu benar terjadi, dan kini orang yang paling tidak aku harapkan kehadirannya itu telah berada di hadapan ku saat ini, menatap tajam diri ku mencoba mengintimidasi diri ku berharap aku akan takut padanya, hey jangan berharap ya jiwa ku bukan lah jiwa anak mu yang bisa kau tindas sesuka hati mu.

"Apa?" tanya Ghea menantang pada Ziander. "Kau tak lelah dan tak malu kah terus memburu ku di mana pun, sudah jelas aku tak ingin berada di sekitar mu, maka nya aku pergi tapi dengan tak tau dirinya kau terus memaksaku untuk menetap di sisi mu, maksud mu apa? kau ingin hancurkan kehidupan ku seburuk apa lagi, masih belum cukupkah semua derita yang aku alami selama ini?" cerca Ghea geram menatap Ziander penuh permusuhan, baginya tak ada kata hormat lagi untuk ayah pemilik tubuh ini karena rasa hormat itu mahal, hanya orang yang pantas yang berhak mendapatkan nya, dan Ziander sama sekali tidak layak.

Ziander bergeming, tak merespon apapun cercaan Ghea pada nya, sikap nya yang datar tak tertebak sehingga siapapun tak ada yang bisa menebak isi pikirannya.

"Dah lah malas meladeni orang kurang se ons, intinya jangan ganggu aku lagi oke, gue maksud nya aku bahagia dengan keadaan aku saat ini tanpa kau dan keturunan mu tentunya, dan jangan katakan pada siapa pun walau pada lalat sekali pun, kalau fakta bahwa aku ada hubungan dengan mu, karena aku sudah memutuskan ikatan itu sejak lama bukan lebih tepatnya memang seharusnya tak ada hubungan dan status di antara kita adalah orang asing jadi jaga batasan mu mulai saat ini tuan Ziander." tekan Ghea di akhir menatap benci pada sosok Ziander lalu segera pergi meninggalkan Ziander yang masih bergeming di tempat tanpa respon apapun.

Jangan sampai ada orang yang tau kalau ia adalah keturunan si bajingan Ziander, ia malu sungguh ia sangat malu. PT

Lokasi mereka bertemu adalah di taman luas penuh bunga kediaman Agra jadi pertemuan mereka sangat minim untuk di lihat oleh orang lain.

Ziander menatap tanpa ekspresi kepergian Ghea yang semakin menjauh lalu bergumam.
"Aku membencinya sangat tapi kenapa aku selalu ingin mengejar nya dan menahannya berada disisi ku, lucu sebenarnya apa yang terjadi pada diri ku, kenapa aku bersikeras melakukan semua ini?" tanya nya pada keheningan tanpa jawaban, bahkan dirinya sendiri pun tak tau jawabannya.

__________

"Kau kenapa?" tanya Agra heran pada raut wajah Ghea yang terlihat kelam seperti menahan amarah.

"Tidak ada, dan tak usah tanya." jawab Ghea ketus, Agra sendiri mengernyit heran, kenapa ia jadi pelampiasan sekarang, dia kan gak tau apa apa.

"Bohong kan, kasi tau lah aku penasaran ini." ujar Agra tak menyerah ia ingin tahu penyebab Ghea yang tiba tiba tampak kesal dan emosi.

"Di bilang gak ada juga, kenapa sih kepo banget heran, bikin orang tambah kesal tau gak."

"Ya kesal nya karena apa?" tanya Agra tengil masih ingin menyulut kemarahan Ghea, baginya itu kesenangan kapan lagi kan.

"cik .., pergi sana! ganggu aja , gak ada kerjaan kah? aku baru tau kalo seorang putra mahkota sepengangguran ini, tak sesuai dengan nama jabatan nya yang begitu mengagumkan." sinis Ghea mengejek, sengaja bersikap demikian untuk membuat Agra kesal dan segera pergi meninggalkan nya sendiri, sungguh ia benar-benar ingin sendiri saat ini.

"Karena aku seorang putra mahkota lah, makanya aku sesantai seperti sekarang, aku punya banyak bawahan tinggal perintah maka semua orang akan menuruti perintah ku." jawab Agra pongah sama sekali tak merasa tersinggung dengan kritik an Ghea pada nya.

"Wih anjir gak ada jaim jaim nya ni anak, sebegitu bangga nya dengan sikap buruk nya itu, sangat tidak bertanggung jawab." sindir Ghea keras sengaja agar Agra bisa mendengar nya.

"Di wilayah ini aku lah penguasa ny___

"Calon, kau belum tentu menduduki tahta dengan sikap mu yang seperti itu." potong Ghea pada ucapan sombong yang akan Agra katakan.

"Kenapa tidak, aku keturunan sah kaisar dan putra satu-satunya, tak ada yang bisa menghalangi ku menduduki tahta." ujarnya penuh keyakinan.

"Kau lupa, rakyat yang kau pimpinan dan kau anggap remeh itu lah yang bisa menjatuhkan posisi mu, mereka akan memberontak suatu saat nanti, jika kau tetap bersikeras mempertahankan sikap buruk mu itu,  penjelasan kasar nya 'pemimpin gak berguna buat apa di pertahankan, lebih baik gantikan saja.' ets jangan marah aku hanya menyampaikan pendapat ku." ujar Ghea menjelaskan saat melihat Agra yang bereaksi marah akan ucapan nya.

"Sebagai seorang pemimpin harus siap menerima keritikan, demi kebaikan mu juga kedepannya." nasehat Ghea bijak dan setelah nya berlalu pergi meninggalkan Agra yang diam merenungi semua perkataan nya.

Ghea berpikir dirinya juga buruk, sangat buruk malah, ia menyadari itu, tapi ia dan Agra berbeda, ia hanya orang biasa tak punya tanggung jawab sementara Agra dia adalah seorang putra mahkota calon pemimpin sebuah kekaisaran, dia punya tanggung jawab besar di pundaknya untuk memimpin sebuah wilayah besar dengan rakyat yang mengharapkan pemimpin yang baik bagi mereka, jadi sudah seharusnya Agra merubah sikap buruk nya itu dan mulai serius untuk menyiapkan diri menjadi seorang pemimpin.

_____________

"Salam yang mulai kaisar." sapa Ziander hormat pada seorang yang berstatus sebagai kaisar dihadapan nya, kaisar.

Kaisar yang duduk angkuh di singgasana nya mengangguk, menanggapi salam basa basi dari Ziander.

"Tak biasanya, ada hal apa yang membuat mu datang ke istana ku tanpa diperintah dan pemberitahuan, kehadiran tiba tiba mu ini membuat ku sedikit penasaran." tembak Kaisar langsung pada Ziander yang berdiri dengan sikap angkuh dihadapan nya.

"Aku ingin menjemput seseorang." jawab Ziander jujur, membuat Kaisar penasaran menjemput siapa yang Ziander maksud.

"Menjemput siapa?"

"...................

Selasa 13 may 2025

GheaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang