dua puluh tiga

2.5K 121 19
                                        

"Hi..hihi .... Ya ampun kebayang banget gimana raut wajah nya tu si Toris, pasti merah berapi di sertai tanduk kayak iblis ngamuk." kikik Ghea pelan menahan tawa yang akan meledak, takut kelepasan tertawa ngakak malah dirinya akan di curigai nanti nya. Terkecuali untuk Toris pria itu pasti tetap menuduh dirinya dan tidak akan pernah percaya bahwa insiden tadi adalah ketidak sengaja an semata. Walaupun benar adanya tapi Ghea harus tetap mempertahankan image anak baik nya  di depan orang orang kan.

"Permisi nona muda, anda di minta untuk segera ke ruang belajar, karena guru etika anda madam Merry telah menunggu anda." beritahu pelayan itu yang datang untuk memberi tahu kan pada Ghea bahwa kelas etika pertama nya telah di mulai.

Hal itu jelas langsung membuat mood Ghea yang sebelumnya cerah maxsimal langsung terjun bebas menjadi redup tanpa semangat.

"Aku tidak mau." tolak Ghea langsung.

Membuat pelayan wanita itu panik, sebab ia telah di wanti wanti oleh tuannya Grand Duke Ziander untuk memastikan Ghea mengikuti kelas etika bagaimana pun caranya.

"Ta...tapi nona kelas etika ini, wajib untuk anda ikuti." jelas pelayan itu hati hati, berusaha untuk membujuk Ghea.

"Hal tidak penting seperti itu kau katakan wajib, kau waras? segala cara minum teh doank harus ada tata caranya tinggal tegug donk aja dibikin ribet, belum lagi cara jalan yang udah sedari balita bahkan sehari hari kita lakukan tetap aja masih harus di pelajari, cara bicara juga, cara duduk lah, cara makan pegang sendok nya gimana, apa lah yang lain nya yang bikin hidup simpel malah jadi ribet, kalian saja aku mah ogah dan gak guna juga." tolak Ghea lagi sarkas sampai kapan pun ia tak akan mau mengikuti kelas itu.

"Ta..tap---"

Ghea memotong cepat perkataan yang akan pelayan itu ucapkan.

"Apa lagi lo budek? 'cik pake keceplosan segala ni mulut' aku bilang enggak ya enggak, jangan maksa eh..eh apa ni?" kaget Ghea saat pelayan itu tiba-tiba saja bersujud di hadapannya.

"Saya mohon nona, jika anda tak menginginkan nya, hadir lah demi saya nona, saya tidak ingin di pecat karena tidak bisa memaksa anda mengikuti kelas etika itu nona. Kasihanilah saya nona saya masih sangat membutuhkan pekerjaan ini nona." mohon pelayan itu sambil bersujud  di hadapan Ghea, segera saja Ghea berjongkok untuk menghentikan aksi pelayan itu, apa apaan pelayan ini bersikap seakan dirinya menindas nya. Nama baik nya bisa tercoreng karena ini.

"Kenapa kau berlebihan sekali sih? cik  ya aku akan menghadiri kelas tak berguna itu, kau puas sekarang? 'Hanya hadir kan' batin Ghea licik. "Antar aku kesana cepat?"

"Baik nona, mari ikut saya."

"Lihat saja apa yang aku lakukan nanti, semoga kau tak akan menyesalinya pak tua.' batin Ghea penuh rencana balas dendam selanjutnya.

Begitu sampai di ruangan yang di maksud, seseorang yang di katakan bernama Merry seorang cauntes dan berstatus janda yang di cerai kan oleh suaminya karena berat badannya yang over di anggap mempermalukan oleh suaminya. Walau begitu pengetahuan nya tentang etika bangsawan sangat luas menjadikan dirinya selalu di tunjuk untuk menjadi guru anak anak bangsawan untuk belajar etika, salah satunya ya Ghea ini.

"Salam madam." sapa pelayan di sebelahnya memberi salam. Tapi tidak untuk Ghea dirinya hanya menatap datar lengkap dengan gaya pongah nya.

"Ya, kalian telah sampai, jadi kau yang akan menjadi murid ku?" jawab nya sambil memperhatikan Ghea lalu setelah nya ia menggeleng kan kepala tak habis pikir benar benar tak beretika pikir nya.

"Kenapa kau merespon seperti itu setelah melihat ku?" tanya Ghea sinis, seperti yang sempurna saja." cibir nya pedas.
'badan kelebihan lemak itu tidak kah dia berfikir untuk menurunkan berat badannya saja ketimbang mengajar pelajaran etika yang tak berguna ini.' julid Ghea dalam hati.

"Tidak, aku rasa kau benar-benar membutuhkan pelajaran etika ini, maka dari itu segera saja kita memulai pelajaran nya." sahut madam Merry pura pura ramah. Tapi dalam hati ia mencaci seolah berkata 'jadi anak seperti ini yang harus aku ajar kan etika?'

Ghea tau sangat tau malah apa yang madam Merry itu pikir kan tentang nya, tapi Ghea tak ambil pusing toh ini adalah dirinya apa adanya dan semu orang siapa pun itu berhak menilai nya karena tak ada yang sempurna diri kita di mata orang lain mau sebaik apapun dirimu.

"Siapa bilang aku datang kesini untuk belajar etika yang kau maksud?" ujar Ghea kalem, membuat madam Merry kaget mendengar ucapannya.

Sebelum melanjutkan lebih jelas perkataan nya Ghea melirik pada pelayan yang tadi mengantar nya lalu berujar. "Pergi kau sana siapkan minuman ke apa kek malah bengong kaya patung disini." usir nya pada pelayan itu yang segera di setujui oleh nya.

Setelah pelayan itu pergi segera saja Ghea melancarkan aksinya.

"Ehem..." dehem Ghea mencoba mengambil atensi madam Merry pada nya, raut wajahnya pun yang sebelumnya terlihat pongah ia seting seolah ia adalah anak kecil yang baik dan polos.

Madam Merry hanya menatapnya dengan kening berkerut serta mata yang menyipit.

"Madam ...." Panggil Ghea belaga canggung. "Madam singgel kah?" tanya nya pelan seolah berhati-hati takut madam Merry tersinggung.

"Maksudnya?" sahut madam Merry bingung, kenapa tiba-tiba menanyakan status dirinya.

"Emm.... Apa ya gimana ngomong nya ya?! Aku bingung." ucap Ghea belaga gugup. Tapi dalam hati rasanya ingin tertawan ngakak, sumpah ia sudah sangat totalitas menahan diri untuk kelepasan tertawa. Padahal idealnya belum terucap oleh nya tapi khayalan dirinya tentang yang akan terjadi selanjutnya membuat dirinya sulit untuk menahan diri untuk tertawa.

"Kata kan saja, tak perlu merasa sungkan nona." sahut madam Merry pengertian.

"Emm... anu, ayah saya  Grand Duke Ziander kan sudah lama menduda,  sejak istrinya nya Grand Duchhes meninggal, beliau tak pernah terlihat dekat dengan wanita manapun, aku kasian padanya, dia terlihat tak terurus dan kesepian, walau banyak pelayan yang bisa melayani segala keperluannya, tapi itu berbeda dengan seseorang yang bisa di sebut istri." jelas Ghea akan maksudnya.

"Iya kau benar beliau memang sudah lama sendiri, tak sekali pun terdengar kabar beliau dekat dengan wanita manapun." sahut madam Merry menyambut perkataan Ghea, tak sadar boom waktu telah mengincar nya untuk di jadikan batu loncatan.

"Benar kan, apa kata ku, maka nya aku kasian pada ayah. Dia selalu terlihat kesepian apalagi anak anaknya sekarang sudah pada dewasa terkecuali aku yang masih anak-anak." papar Ghea lagi. Melanjutkan dramanya.

"Tapi mau bagaimana lagi, Mungkin beliau masih belum bisa melupakan mending Duchhes." sahut Madam Merry berpendapat.

"Bukan karena itu, aku tau benar penyebab ayah masih sendiri hingga sekarang itu karena tak ada wanita yang berani mendekati nya, tau sendiri ayah ku itu terkenal dingin dan kejam padahal tak semua orang tau sebenernya ayah ku itu sosok yang hangat dan baik 'preet baik kata ku, hoak sekali ' hanya di permukaan saja ia seperti itu, untuk menjaga wibawanya sebagai Grand Duke kekaisaran ini." jelas Ghea lagi melancarkan kebohongan akan sosok Ziander yang jelas berbanding terbalik dari apa yang ia kata kan pada madam Merry.

"Benar kah?" sahut Madam Merry tidak yakin.

"Benar aku berani bertaruh akan itu."

"Makanya aku berinisiatif ingin mencarikan ayah ku itu wanita untuk di jadikan istri serta seseorang yang bisa mendampingi nya, dan aku rasa madam Merry cocok untuk di jadikan kandidat calon istri baru ayah ku sekaligus calon Duchhes." Tembak Ghea melempar kan pembahasan utama dari rencananya, menjodohkan Ziander dengan wanita gemuk di hadapannya, yakin sekali hal ini akan mengacaukan hari hari Ziander yang damai dan tenang. Dan itu memang lah tujuan Ghea sebagai salah satu balas dendam nya pada mereka.

"A...aapa kau bilang." sahut madam Merry terbata, tak percaya dengan apa yang baru saja Ghea katakan, dirinya menjadi calon istri Grand Duke Ziander yang benar saja.

"Iya benar, kau tak salah dengar dan aku serius tentang itu, mau kah kau menjadi ibu Baru ku, madam?!" ucap Ghea meyakinkan.




Minggu .1 Juni 2025


GheaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang