enam belas

4.9K 220 30
                                        

"Tinggal geratisan begitu maksud mu?" tanya pemuda itu dengan nada mengejek, Ghea yang mendengar nada ejekan tesebut merasa tidak terima, dipikirnya diri nya seorang rakyat jelata miskin apa.

"Aku bayar sewa lah! katakan saja berapa yang harus aku bayar!" sahut Ghea pongah penuh kesombongan diri.

"Kau yakin?" tanya pemudah itu ragu, tapi Ghea sendiri malah tetap menunjukan raut wajah pongah nya.

"Jelas lah, kau kira aku miskin apa, aku sanggup membayar nya asal kau tau, kau hanya perlu sebut kan saja nominal nya dan aku akan membayar nya."

"kau akan bayar pakai apa?" tanya nya remehremeh,  menilai penampilan Ghea.

"Pakai uang lah, memang nya kau menerima pembayaran dengan daun apa?"

"Aku ragu bocah sekecil diri mu punya uang?"

"Kau ingin bukti?" sinis Ghea, dan mengambil bungkusan milik nya di bawah ranjang dan melemparkan nya langsung ke hadapan pemuda itu tanpa takut, reflek pemuda tersebut menangkapnya. "Aku rasa itu lebih dari cukup." tunjuk Ghea pada bungkusan harta milik nya.

segera pemuda itu mengecek isi bungkusan itu dan terkejut melihat isi nya yang ternyata penuh dengan perhiasan dan koin emas "Kau, dapat dari mana kau harta sebanyak ini?!" tanya pemuda itu penuh rasa curiga.

"Harta milik ku lah, kau pikir aku merampok harta mu apa?" kesal Ghea sedari tadi selalu disudut kan.

Pemuda itu sebenar nya tak sekali pun tergiur dengan perhiasan serta uang milik Ghea, karena ia sendiri punya banyak,  tapi ia sedikit penasaran dengan nya, maka nya ia menyetujui keinginan Ghea untuk tinggal di tempat nya, dengan jaminan semua uang milik Ghea tentu nya.

"Ok , kau boleh tinggal disini tapi kau harus nurut apa pun yang bakal aku katakan pada orang orang diluar tentang mu dan asal usul mu, tak mungkin kan aku bilang kau  penyusup yang tiba tiba muncul di kamar ku dan meminta tempat untuk tinggal." beritahu pemuda itu pada Ghea tentang rencana kebohongan nya kelak.

"Gak masalah sih , asal masih di tahap wajar aja, dan untuk nama mu harus aku panggil apa kau, sedari awal kita belum berkenalan."

"Panggil aku putra mahkota Agra, dan untuk  mu, siapa namamu?"

"Ghea kau bisa panggil aku Ghea, kau seorang putra mahkota ternyata, pantas saja kau terlihat seperti ya kau tau lah susah untuk di jelas kan." nilai Ghea pada pemuda di hadapan nya, yang memang berpenampilan mencolok terlihat seperti orang kalangan atas serta penting.

"Aku terlihat tampan dan beribawa ya kan!!" narsis Agra memuji dirinya sendiri.

"Cih memuji diri sendiri dan untung nya sesuai ekspetasi, jika tidak kau hanya akan terlihat miris dengan kepercayaan dirimu itu." sinis Ghea jengah.

"ya nyatanya memang seperti ini, Tidak hanya diriku sendiri semua orang pun mengakui ke sempurna an ku ini." sahut Agra angkuh.

"Seterah kau saja lah, bukan urusan ku ini." acuh Ghea malas.

"Is kau ternyata bocah yang menyebal kan." grutu Agra kesal.

"Sebebas kau menilai diri ku apa, dan aku tak perduli. " acuh Ghea masa bodoh, seperti ini lah dirinya tak akan merubah sikap nya kepada siapa pun itu, sekali pun seseorang itu berpangkat lebih tinggi dari nya, bagi nya sesama manusia sama saja.

"Kapan aku akan mendapatkan kamar ku? atau kamar mewah ini saja yang menjadi kamar ku mulai sekarang, lagian uang yang aku berikan kurasa cukup untuk membayar sewa ruangan ini." tanya Ghea pada pembahasan utama yanga mereka sepakati sebelum nya.

"Enak saja, ini kamar ku tau, kau akan aku pilihkan kamar lain nanti." tolak Agra tidak setuju.

"oho... jika tidak sesuai ekspetasi ku kelak akan aku tolak, dan kamar ini yang akan menjadi pilihan ku." sahut Ghea sembari menilai keseluruhan ruangan kamar Agra yang terlihat mewah dan luas, dan ia menyukai nya sangat.

"Kau banyak mau, udah lah numpang ngelunjak lagi."

"Faktanya aku bayar, bukan gratisan tu." beber Ghea mengingat kan.

"Ya.. ya kau selalu saja mendebat. "

"Dan kau sangat menyebalkan." saut Ghea acuh. "Sana siapkan kamar ku, pastikan itu sesuai keinginan ku ya!" usir Ghea alus malas meladeni Agra dan diri nya ingin kembali melanjutkan tidur nya.

"Kau berani memerintah seorang putra mahkota?!" delik Agra tidak senang.

"Kenapa tidak,  bukan kejahatan ini kan, jangan terlalu berlebihan hanya karena kau berpangkat tinggi, faktanya raja dan keturunan nya itu melayani masyarakat dan memastikan semua rakyat nya mendapatkan yang terbaik, bukan  rakyat melayani raja, rakyat hanya memberikan rasa hormat dan segannya kepada raja karena kepemimpinan nya." pendapat Ghea menurut versi nya tidak tau kalo orang lain.

"lalu kenapa kau tidak menghormati dan segan pada ku." sahut Agra sinis.

"Karena aku tidak ingin." acuh Ghea. "Sana kau pergi cepat, aku ingin lanjut tidur kau mengganggu ku saja sedari tadi." lanjut Ghea kesal.

"Ini kamar ku jika kau lupa."

"Dan aku tak perduli."

kesal karena Agra tak kunjung pergi, segera Ghea beranjak bangun dan mendorong Agra untuk keluar dari kamar dan setelah nya segera ia mengunci pintu agar tak ada yang mengganggu nya kelak untuk melanjutkan tidur nya, sementara Agra sendiri hanya pasrah terusir dari kamar nya sendiri.

"Salam putra mahkota." Sapa prajurit yang berpas pasan dengan nya.

"Ya, kau suruh Kepala pelayan untuk menghadap ku segera." perintah nya karena ingin segera mencari kan kamar untuk Ghea, atau dirinya yang tak memiliki kamar karena di kuasai oleh nya.

"Baik, tuan akan segera saya sampai kan." jawab prajurit itu segera menjalani perintah.

"Kau, cari kan satu ruangan kamar luas yang kosong, bersihkan dan hias sebaik mungkin. " perintah Agra langsung pada kepala pelayan yang menghampiri nya.

"Ya tuan, akan saya carikan, jika boleh tau untuk siapa ya tuan?!" tanya kepala pelayan itu sedikit heran.

"Adalah kau tak perlu tau, untuk sementara kau rahasiakan ini dulu dari siapapun."

"Baik tuan."

"Hem, pergi sana segera kau lakukan tugas mu, ku beri waktu 30 menit untuk kau menyiapkan nya."

"Ya tuan." jawab pelayan itu dan segera melaksanakan perintah.

"Tinggal mencari alasan, jika nantinya keberadaan Ghea di pertanyakan, Hu..bikin repot saja." rungut Agra kesal.

"Dia si enak, tinggal perintah, padahal aku putra mahkota nya lo, tapi dia tetap saja seenaknya." 

_______________

"Bagaimana?"

"Tidak ada jejak tuan, nona tidak kami temukan di mana pun." lapor salah satu prajurit pada Ziander.

"Yang benar saja, kalian yang sebanyak itu tak ada satu pun yang menemukan keberadaan nya?"

"Maaf taun, kami sudah berusaha."

"Dasar tidak berguna."

GheaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang