36

558 30 1
                                        

Hello ada yang kangen kkk perbanyak votenya ya,biar aku semangat namatinnya.

"Kenapa lie kenalanmu?"felri bertanya setelah melihat senyum lie yang mengembang.

"Aku akan kesana setelah pertandingannya selesai"lie akan langsung memeluk sahabatnya.

Lie mengenal baik lian di amerika,dia memang tak terlalu bisa langsung nyaman dengan lingkungan baru.

Tetapi setelah bertemu lian lie langsung mendapatkan banyak teman,dan lian yang paling dekat dengannya.

Setelah pertandingan yang cukup sengit antara lian,nathan,cristian,dan eillein,akhirnya balapan dimenangkan oleh cristian.

Pertandingan selesai semua anggota mulai mendekati cristian dan memeluk erat sang ketua.

Leo,felri dan lie berjalan dengan agak tergesa,untuk menghampiri cristian,sedangkan lie segera melepas topi dan kacamatanya.

Menghampiri seorang pria mungil yang begitu ia rindukan,sedangkan lian membuka helmnya,menyugar rambutnya ia tidak menunjukkan ekspresi yang bearti.

Ia merasa sedikit terkejut ketika ada yang memeluknya sangat erat,pria dengan tubuh tinggi,ketika lian ingin menolaknya,ketika itu ada suara yang familiar membuatnya membalas pelukan itu tak kalah erat.

"Kak lie gimana kabarnya,kenapa enggak pernah ngabarin liam"matanya mulai berkaca-kaca menatap orang yang selalu mendampinginya.

"Aku baik liam kamu sekarang kenapa jadi begini bisa cerita,dan maaf tidak memberi kabar,ponsel kakak rusak dan semua data penting hilang,termasuk kontak adek".

Liam mengangguk mengerti dan memilih untuk memeluk lie lagi,melepas rasa rindunya.

Cristian yang melihat lie berpelukan erat dengan liampun,sangat marah dia melangkah lebar dan cepat untuk menghampiri sang kekasih.

Tian melepas paksa pelukan itu lalu menarik tangan lie dan membawanya menjauh dari arena.

Sedangkan liam yang ingin mengejarpun segera dihentikan oleh leo,dengan beberapa anggota lainnya.

Sedangkan kini cristian melepaskan tarikkannya dan genggaman tangannya,setelah dirasa mereka jauh dari pandangan orang-orang.

"Jelassin kenapa lo peluk-peluk liam dan apa hubungan lo sama dia?"tian udah nggak peduli lagi dengan apa yang ia katakan,hatinya terlalu pedih saat ini.

"Mu tenang ya ini nggak seperti yang kamu pikirkan,liam itu sahabat aku di amerika dia sudah kuanggap seperti adekku,dan dia yang memang cocok jadi sahabatku"lie menjelaskan dengan lembut agar tian tak lagi emosi.

"Lie sebenarnya lo tuh nganggep gue pacar lo bukan sie,sadar nggak lo tuh nggak pernah terbuka sama gue,cerita siapa aja sahabat ataupun yang lainnya,sebenarnya kita tuh apa?"kesal tian mereka sudah berpacaran semingu dan lie tidak pernah bisa seterbuka itu,sedangkan dia sudah mencurahkan semua cerita hidupnya.

"Mu kan kamu tau aku tuh nggak tau soal pacar ataupun tentang bagaimana membangun sebuah hubungan,sebelum kita jadi sepasang kekasih aku bilang tuntun aku mu"lie dengan sabar mencoba meredakan emosi sang kekasih.

"Tapi lie lo bisa jujurkan atau seenggaknya cerita biar gue enggak salah paham kayak gini"tian memilih melemahkan nada bicaranya.

"Maaf oke sekarang aku bakal coba untuk menceritakan apapun yang kamu tanyakan"lie membawa tubuh sang kekasih untuk ia peluk.

Cristian membalas pelukan lie dengan hati yang sedikit perih,entah apa yang membuatnya begitu takut dan kecewa.

Takut kehilangan,kecewa tentang ia yang cepat emosi.

Ia seharusnya tau bahwa dialah yang menginginkan lie maka dia harus bisa menanggung antara sedih dan bahagia.

Tian melepaskan pelukan mereka memandang wajah tampan kekasihnya,mencoba berlapang dada tetapi entah mengapa sedikit sulit.

"Lie bisakah beri aku waktu sedikit,aku percaya padamu,terimakasih telah menjekaskannya"tian mencium labium merah lie dengan lembut.

"Mu maaf kamu cinta pertama dan kekasih pertamaku,jadi mungkin belum bisa menjaga perasaanmu"lie mencium kening tia dengan lembut.

Membiarkan tian melangkah pergi meninggalkannya,membiarkan kekasihnya istirahat,walaupun tidak ada kata perpisahan.

Biarkan waktu menyembuhkan,mendengar setiap luka perlahan memudar dan hal yang lebih baik.

Cristian kini memilih menjauh sejenak untuk menenangkan hatinya,wajar bukan jika kita takut kehilanagan.

Apalagi ini pertama kalinya ia melabuhkan hatinya,kepada seseorang yang bahkan belum di ketahuinya dengan baik.

"Huh aku yang pertama kali menyatakan cinta,menyukainya,memperhatikannya,dan lihat sekarang aku yang pertama kali terluka"tian berbisik lirih di bawah cahaya bukan.

Ditemani semilir angin malam yang dingin menusuk tulangnya,tak membuatnya ingin beranjak,biarkan ia merenungi semua ini untuk hari esok.

Sedangkan lie kini merasa agak hambar setelah mendengar ocehan panjang dari leo serta beberapa kalimat kasar dari anggota cristian.

Dia sadar kalo dia memang kurang peka terhadap sekitar,apalagi soal cinta mengerti saja tidak.

Liam memilih tinggal bersama kakaknya menyandarkan kepalanya di bahu lebar lie,sedangkan leo memilih untuk mengerti keadaan,sang kakak telah menjelaskan panjang lebar tentang pertemuannya dengan liam.

"Kak apa kamu sungguh mencintainya?"liam bertanya setelah lama terdiam.

"Sebenarnya sejak pertama bertemu,aku belum merasakannya,tetapi setelah bersama perlahan aku mulai mengerti dek"jelas lie singkat.

"Padahal dulu di amerika banyak sekali yang datang dan pergi untukmu,tetapi aku terkejut bahwa akhirnya hatimu mencair juga"balas liam agak lega jika lie akhirnya membuka pintu hatinya.

"Konyol bukan padahal dulu aku merasa bahwa hatiku telah mati,entah kenapa setelah bertemu dengan dia,hatiku terketuk"lie tersenyum tipis mengingat kembali tentang dirinya dan cristian.

Oke sampai sini dulu ya aku lagi nggak ada ide jangan lupa vote😊

MY LITLE LOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang