Hay aku balik lagi,maaf baru up karna lagi banyak masalah,jadi aku mau up buat ngilangin beban walau dikit.
Dirinya yang memang pendiam harus menghadapi cristian yang terkesan agresif dan juga terlalu terang-terangan jika jatuh cinta.
"Tak ada kata terlambat untuk jatuh cinta apalagi mencintai kak,hanya waktu saja yang menunggu dan menentukan"liam bangun dari sandarannya dan menatap wajah sang kakak yang terlihat sendu.
"Em aku hanya belum bisa terlalu menjaga perasaannya,apalagi terbuka untuknya"ujarnya agak sendu.
Liam menggenggam tangan lie erat menyalurkan semangat dan menatap mata sendu itu dengan pandangan yang penuh kenyakinan.
Lie tersenyum manis membalas genggaman tangan liam,mengelus rambut itu lembut.
Kini ia yakin harus bagaimana dan mengambil langkah dengan berani tanpa ragu atau ia akan menyesal nantinya.
Biarkan lie dan cristian belajar bahwa kata cinta tak semudah itu,janji yang telah dibuat tak mungkin sedangkal itu.
Malam itu dihabiskan untuk saling mengerti dan memulai hati agar lebih kuat serta menaruh rasa percaya diatas segalanya.
Pagi ini terasa sama saja seperti hari-hari yang berlalu,leo tetap mengurus kakaknya dengan wajah ramahnya.
"Pagi kak jangan lupa untuk mandi,sarapan,dan segera perbaiki hubungan antara kak tian"leo memandang mata sendu kakaknya sebentar,dan memilih berlalu pergi.
Sedangkan lie mulai memeriksa ponselnya siapa tau cristian mengirinya pesan,namun beberapa kalipun ia membuka dan mematikannya,hasilnya nihil.
Menghela nafas pelan dirinya memilih mengumpulkan keberanian untuk berbicara pada tian,masalah yang terlalu terlarut bukanlah suatu keputusan baik.
Kakinya melangkah menuju kamar mandi,meletakkan kembali ponselnya di atas nakas.
Tian kini sedang melangsungkan sarapan paginya dengan suasana hati yang terasa gelisah.
"Dek jika masalahmu dengan lie tidak cepat kau selesaikan,takutnya akan semakin rumit"vian menasehati tian yang terlihat murung sejak kemarin malam.
"Kak salah tidak sie kalo rasa cemburu gue ini berlebihan,gue hanya takut kehilangan lie"sendunya mengingat kembali sifatnya pada sang kekasih.
"Wajar dek lagipula lo baru pertama kali jatuh cintakan,enggak semua hubungan itu selalu mulus tanpa adanya masalah"lembutnya memberi semangat untuk adeknya.
Tian hanya mengangguk dan ia juga harus segera menyelesaikan masalah ini,baru sadar bahwa kekasihnya merupakan casanova,apalagi penggemarnya sangat banyak.
Kini tian dan nathan sudah anteng nongkrong di depan kelas,menjaga pintu dipastiakn siswa-siswa lain tak berani lewat,apalagi tian memasang wajah datar nan dinginnya.
"Woy tian kita geserlah ya noh anak-anak pada mau masuk,kagak berani karna liat tampang garang lo"nathan memukul pundak tian pelan,mana berani yang ada dia ditendangkan nggak lucu.
"Bentarlah pacar gue belum nongol,heh kalo mau lewat pintu sampingkan ada,kalian pada pikun"nah tian udah ngamuk,baru deh tuh anak-anak pada melipir kabur.
Sedangkan nathan yang sudah tau dia menutup telinganya,sayang kalo ganteng masak budek.
Tak berselang lama lie datang dengan felri saling bercanda gurau,itu dimata tian padahal mah lie sedang menyalakan beberapa materi pada felri.
"Udah ya lie noh pacar lo kayak maung,selesainnya yang baik,gue kabur dulu by"felri langsung melipir lewat pintu samping.
Tian melangkah mendekati lie menarik tangannya lembut,melangkah berjalan menuju tempat yang lebih privat.
Lie mah nurut aja dia juga tidak mau berlama-lama diabaikan,apalagi rasa menganjal dan bersalahnya masih dia rasakan.
Benar kata leo hubungan itu antara dua orang yang saling mencintai,bukannya egoisnya satu orang yang selalu menjadi pendukung.
Tian membawa sang pujaan hati ke belakang kampus yang kebetulan menjadi taman,dan itu sedang sepi karna memang harusnya mereka sudah masuk kelas.
Tian mah kagak peduli juga soalnya yang ngajar tuh udah tua,mana kadang suka lupa materi,dan diulang dari awal lagi.
"Lie aku mau minta maaf mungkin terdengar egois,tapi kekasih mana yang tidak cemburu ketika orang yang mereka cintai berpelukan dengan orang lain"tian menunduk sambil menahan agar buliran air mata tidak terjatuh dipipinya.
Lie mengusap rambut tian pelan,mendongakkan wajah kekasihnya,diusapnya buliran airmata yang mulai mengalir.
"Mu ini bukan sepenuhnya salah kamu,tetapi memang aku yang kurang terbuka,bukannya aku tidak mencintaimu,tetapi aku bukan orang yang terlalu berekspresi,jadi mulai sekarang tolong jika ada hal yang tidak kamu suka bilang"lie merengkuh tubuh tian yang mulai terisak.
Dan ia merasakan anggukan pelan tanda bahwa mereka telah berbaikkan,ia berjanji mulai sekarang dia harus mulai terbiasa akan rasa cinta.
Mereka berdua memutuskan untuk memasuki kelas pelajaran kedua,setelah bertukar pikiran dan berbicara secara terbuka,mungkin dengan begitu hubungan keduanya akan makin erat.
"Udah kelarkan masalah kalian berdua kalo ada yang salah tuh selesain secara baik gitu,gak usah ngerepotin"nathan memilih mendekati bangku tian dan lie.
"Tumben lo dewasa sehat situ?"tanya sangsi tian dengan wajah sok bijak nathan.
"Heh gue udah pernah nyicip pacaran ya,lo aja yang kelamaan jomblo,eh tadi gue denger pak dion agak telat kayaknya"nathan cuman nyengir waktu ditatap sinis sama sahabatnya.
"Udah kak nat,mu kalian berdua tuh bisa akur sehari aja tanpa debat"lie capek sudah melihat setiap bertemu ada aja hal yang didebatkan.
"Nggak bisa pu dia tuh nyebelin jadi tiap ketemu tuh pengen adu fisik"tian memilih menarik lengan lie untuk dipeluk erat.
Nathan cuman memandang malas kedua pasangan yang semalam berjarak,sekarang nempel kayak parangko.
Tak lama dosen dion datang dengan agak tergesa,serta membungkuk untuk meminta maaf karna agak terlambat.
Lalu pelajaran berjalan seperti biasa,para siswa juga memperhatikan bukan apa tetapi karna kelas mereka cuman sedikit,jadi terlihat jelas jika tidak memperhatikan.
Apalagi dosen didepan mereka,walaupun terlihat ramah tetapi kalo sudah menyangkut pelajaran beliau sangat tegas.
Bel tanda berakhir pelajaran akhirnya berbunyi dan para siswa juga mulai keluar untuk istirahat.
Jangan lupakan vial yang kini dengan antengnya menunggu lie di depan pintu kelas,apalagi gedung fakultasnya saja sangat jauh.
Demi lie apa yang tidak bisa ia lakukan,cristian yang melihat vial muali kesal lagi,jadilah ia peluk erat-erat tangan lie.
Sedangkan nathan memilih melipir pergi daripada ia harus ditumbalkan nanti jika dua orang itu sudah mulai berdebat.
"Lie ke kantin bareng yok"vial maju kedepan dan merangkul lengan lie yang menganggur.
"Loh bukannya fakultasmu jauh dari sini,belum dapet temen"lie berjalan santai tanpa memandang ekspresi tian yang mulai keruh.
Oke sampai sini dulu jangan lupa vote dan komen oke luv you🥰
KAMU SEDANG MEMBACA
MY LITLE LOVE
Teen Fictionberandalan yang mendapatkan kekasih yang polos bxb jangan salah lapak
