28

116 9 8
                                        

Siang ini, keenam orang itu tengah berkumpul di rumah Keita. Mereka ialah ketiga sahabat Keita beserta Jongwoo, Zihao, ditambah satu orang lagi yang terlihat agak asing di lingkup mereka.

Suasana hening, tak satu pun yang mau bersuara setelah berkumpul secara lengkap 15 menit lalu. Hanya ada rintihan yang dikeluarkan Junhyeon sesekali ketika ia berusaha bergerak untuk mengubah posisi. Dirinya sudah cukup baik jika hanya untuk bangun tanpa peduli luka-luka ditubuhnya setelah kejadian semalam.

Jongwoo berdeham, berusaha mencairkan suasana. Ia merasa harus memulai pembicaraan ini mengingat ialah yang mengetahui titik permasalahan ini. Setelah sebelumnya dirinya memberitahu kejadian semalam kepada sahabatnya, Zihao. Sehingga saat ini anak itu ikut berkumpul di tempat ini karena tak mendapatkan penjelasan lebih lanjut dari Jongwoo.

"Okay, sorry, mungkin gue bikin kalian nunggu agak lama." Jongwoo membuka suara.

"Di sini kita akan bahas masalah semalam. Tapi gue rasa ada yang lebih berhak ngejelasin dari pada gue, berhubung orangnya juga ada di sini."

Keempat orang lainnya mengikuti arah pandang Jongwoo yang tertuju kepada satu sosok asing tadi. Sosok yang semalam berada di lokasi kejadian, yang tak lain adalah Ricky. Kini tengah duduk dengan canggung di antara mereka. Ia membalas tatapan kelima orang lainnya dan berhenti di salah satunya. Membuatnya mendengus pelan melihatnya.

"Okay, tapi sebelumnya gue mohon jangan tanya macam-macam dan berharap lebih ke gue. Karena posisi gue yang sebenernya gak terlibat secara langsung di permasalahan asli kalian," tuturnya membuka sesi penjelasan.

"Jadi semalam gue kebetulan lewat di jalan yang sama dengan yang lo dan temen lo lewati," ungkap Ricky menunjuk Junhyeon.

"Awalnya gue gak peduli waktu papasan sama kalian, meski sedikit heran kenapa lo bawa motor kenceng banget waktu itu. Sampai gue papasan sama satu mobil di belakang kalian yang jaraknya gak terlalu jauh.

"Gue sempet ngelihat orang yang ada di dalam mobil itu dari kaca mobilnya yang sedikit kebuka. Gue ngerasa gak asing sama wajahnya, tapi gue gak kenal siapa dia. Jadi gue mutusin buat tetep lanjutin perjalanan."

Ricky lanjut menjelasankan apa yang dirinya ingin lakukan semalam, sehingga tak menggubris hal itu. Ia memiliki urusan lain kala itu. Sampai terlintas di kepalanya wajah orang yang pernah ia lihat di cafe pada beberapa malam sebelumnya sama dengan orang di mobil tadi.

Menyadari hal itu, Ricky langsung memutar arah, menyusul mobil hitam yang berpapasan dengannya tadi. Ia tarik gas motornya sekencang mungkin mengingat posisinya yang sudah terlalu jauh.

Dan benar saja, ketika dirinya sampai di tempat itu, dilihatnya Keita yang sudah tak sadarkan diri diseret masuk ke dalam mobil. Ricky melajukan motornya mendekat ke arah Junhyeon yang telah terkapar setelah mobil hitam itu berjalan. Ia turun dari motornya dan segera menghubungi temannya untuk datang ke sana.

Sedangkan dirinya memutuskan untuk meninggalkan tempat itu, mengikuti mobil hitam tadi. Persetan dengan Junhyeon yang tengah terkapar di tengah jalan. Lagi pula ia sudah menghubungi orang yang lebih mengenalnya, dan yang terpenting sekarang ia harus mengejar mobil itu, pikirnya.

"Yah, menurut gue agak buang-buang waktu sih pas itu," ucapnya dengan dahi mengernyit mengingat kejadian semalam.

"Karena gue hampir kehilangan jejak mereka. Ya untungnya tuh orang bawa mobilnya gak terlalu kenceng, jadinya bisa gue kejar."

Jeonghyeon yang mendengar penuturan adik sepupunya itu melotot tajam. Bisa-bisanya anak itu punya pemikiran demikian di kala salah satu sahabatnya sedang membutuhkan pertolongan waktu itu. Sedangkan Haruto lagi-lagi hanya bisa menahan sahabatnya agar tak meledak. Meskipun ia juga tak habis pikir dengan pemikiran anak itu.

"Berarti lo berhasil ikutin mereka kan?" tanya Junhyeon lirih, ada tatapan berharap dari sana.

Ricky mengangguk, memberi respon terhadap pertanyaan tersebut dan berniat melanjutkan penjelasannya. Namun, ia urungkan ketika melirik meja di depannya. Tangannya bergerak menyahut gelas berisi minuman dari sana, kemudian meneguknya.

Tindakannya dihadiahi tatapan sinis dari kelima orang lainnya. Sedangkan Ricky masih fokus menghabiskan isi gelas itu. Tidak tahu saja mereka jika anak itu tengah menahan rasa gugup selama bercerita karena tatapan intimidasi yang ia terima dari manusia-manusia di sekelilingnya.

"Ky, cepet jawab!" gertak Jeonghyeon. "Lo berhasil ngikutin ke mana mereka? Dan lo tau siapa mereka?"

Ricky menatap sebal kakak sepupunya yang menghujaninya pertanyaan. Ia memutar matanya malas, sebab kakaknya ini tak pernah bisa mengerti dirinya.

"Ya! Gue berhasil ngikutin mereka. Seperti yang gue jelasin tadi gue sempet lihat sekilas salah satunya waktu papasan, dan orang itu orang yang sempat kita lihat bareng Krystian dan kedua temannya di cafe waktu kita jemput bang Levi di sini malam itu, bang," ujar Ricky sembari menatap Jongwoo. "Dan dua lainnya gue rasa temen Krystian sih kalau lihat dari posturnya."

Keempat orang lainnya kini mengalihkan pandangan ke Jongwoo. Berusaha menerka-nerka siapa orang itu sembari menunggu Jongwoo membuka suara.

"Jangan bilang, orang itu..."

"Ya, itu Han." Jongwoo menyahut ucapan Zihao yang menggantung.

Dan pernyataan singkat itu sukses membuat ketiga orang di depannya terkejut. Pasalnya tak pernah terbesit di kepala mereka jika ketua osisnya yang dikenal anak baik-baik itu akan terlibat dan melakukan hal seperti ini.















Sorry ya updatenya lama🙌🏻
Semoga kalian suka dan sorry kalau alurnya agak ribet jadi panjang ceritanya. Dan ya makasih buat yang masih luangin waktunya buat baca cerita ini padahal kapalnya udah gak tau di mana.


18 March 2025

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 18, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Look at Me, please!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang