Hari kedua babak penyisihan. Setiap tim bermain semakin sengit. Itu membuat pertandingan berjalan semakin seru.
Hasil dari pertandingan ini juga merupakan penentu juara grup. Tim dengan jumlah skor tertinggi akan menjadi juara grup yang nantinya akan lolos menuju babak semifinal.
Di pertandingan sebelumnya dimenangkan oleh SMA Taruna Jaya yang membawanya menjadi juara grup sementara. Tinggal menunggu hasil pertandingan yang kedua, SMA manakah yang akan menang dan menambah skornya untuk menjadi juara grup.
Sorak sorai semakin riuh ketika salah satu pemain dari SMA Putra Bangsa menggiring bola ke arah lawan. Kakinya yang pendek namun gesit mampu menerobos pertahanan lawan dengan mudah. Lawan terkecoh, ketika dengan lincahnya ia melewati posisi anchor.
"GOAL!!" teriak komentator bayaran yang diambil panitia dari tribun suporter melalui mikrofon.
Ya, pivot SMA Putra Bangsa, Terazono Keita mampu merobek gawang lawan.
Tidak lama setelah terjadinya goal, tim lawan mengganti salah satu pemainnya. Namun, belum juga pemain tersebut mendapatkan bolanya, wasit telah lebih dulu meniup peluit panjang.
Pertandingan berakhir dengan skor 3-1 untuk SMA Putra Bangsa. Dengan ini menjadikannya sebagai juara grup B dan lolos ke babak selanjutnya.
Semua pemain dan pelatih berlari ke dalam lapangan merayakan kemenangan. Para suporter juga semakin keras menyanyikan chants mereka. Termasuk panitia yang melompat kegirangan.
"Kei,"
Yang merasa namanya dipanggil menoleh. Sedikit kaku mengetahui si pelaku.
"Selamat ya! Kamu keren bisa cetak 2 gol buat tim," ucapkan dengan tersenyum manis.
"Yaelah, yang diucapin selamat cuma Keke nih?"
"Hehe, iya selamat juga buat kalian. Kamu juga Jun, bisa amanin gawang kamu."
"Ya iya lah, orang gue kiper!" dumel Junhyeon pelan.
"Yaelah, protes aja lo. Jeonghyeon yg cetak 1 gol aja diem aja," ucap Haruto.
"Eh, lo mau pulang Zi?" tanya Haruto yang diangguki Zihao.
"Yaudah Kei elo beresin duluan aja biar bisa bareng Zihao," lanjutnya.
Keita mendelik mendengar ucapan Haruto. Sedangkan Zihao masih dengan senyumnya menunggu respon Keita.
Tanpa peduli reaksi Keita, Junhyeon udah lebih dulu mendorong Keita agar segera pulang. Lagi pula kalau gak pulang-pulang nanti malah ribet sendiri gimana mau pulangnya.
Akhirnya mereka berdua pulang bareng. Masih sama seperti sebelumnya, Keita tidak terlalu banyak bicara. Zihao jadi khawatir, takutnya kenapa-kenapa.
"Kei, kamu marah ya sama aku gara-gara waktu itu?" tanya Zihao di perjalanan pulang.
Keita hanya menggelengkan kepalanya. Bisa Zihao lihat dari kaca spionnya.
"Terus kenapa diemin aku gini? Sebelumnya kamu gak pernah kaya gini, malahan selalu kamu yang gak bisa diem kalau ketemu aku. Kalau emang gara-gara itu, aku bener-bener minta maaf sampai bikin kamu nangis."
"Zihao kenapa malah jadi cerewet sih sekarang? Segala pakai aku-kamuan juga." ucap Keita sedikit ketus.
Namun, di mata Zihao itu justru lucu. Wajahnya yang kecil dengan ekspresinya yang cemberut. Zihao sedikit terkekeh melihatnya.
"Nyetir yang bener, jangan lirik-lirik spion mulu!" seru Keita setelah memukul pundak Zihao.
"Sok tau!"
"Ya emang aku tau! Udah yang fokus, jangan bikin aku masuk got malem-malem ya."
Ah, Zihao sedikit lega mendengar Keita mengomel seperti itu. Sepertinya ia harus berbuat sesuatu agar Keita mengomel lagi.
Ketika Keita melepaskan pegangannya dari pundak Zihao sebentar untuk membenarkan tas, tanpa aba-aba Zihao menarik gasnya dengan kuat. Membuat Keita secara spontan memeluk tubuh Zihao.
"Wang jamet Zihao elo mau bikin gue mental ke aspal apa gimana anjir!" teriak Keita.
Jantungnya hampir copot. Kalau dia gak cepat narik jaket Zihao tadi mungkin dia sudah mental kebelakang. Sedangkan pelakunya tertawa geli
"Udah Kei gak apa-apa, kalau mau peluk mah peluk aja gak usah malu-malu gitu."
"Malu pala lo. Awas aja lo kalau udah sampai gue cekik leher lo!" ancam Keita dengan posisinya yang masih sama.
Zihao semakin menambah kecepatannya mendengar Keita yang terus mengomel. Padahal motor itu sudah terasa terbang bagi Keita saking cepatnya.
"Zihao, stop!"
"Belum nyampe rumah,"
"Gue bilang stop! Gue mau mampir ke dulu ke minimarket," teriaknya.
Zihao menghentikan motornya. Keita segera turun dan mengulurkan kedua tangannya ke arah Zihao. Benar saja dia mencekik leher Zihao dengan kuat.
"Elo bener-bener ya!" makinya.
"Kei, lepasin!" ucap Zihao susah payah. "Sakit, aduh mau mati rasanya."
"Biarin! Lo kira gue gak mau mati itu tadi gara-gara lo," kata Keita marah.
"Iya minta maaf. Akh, tolong lepasin"
Akhirnya Keita melepaskan cekikannya. Wajah dan leher Zihao merah akibat ulahnya.
"Dimaapin" ucap Keita ketus.
"Udah sana pergi!"
"Kok ngusir?"
"Ya mau ngapain juga disini?" kesal Keita.
"Nungguin kamu lah,"
"Gak usah, rumah udah deket. Sana pulang atau mau gue cekik lagi" ancam Keita yang membuat Zihao terpaksa menurutinya.
"Yaudah jangan lama-lama, buruan pulang. Udah malem, bahaya anak kecil diluar malem-malem."
"Zihao!"
Zihao langsung menarik gasnya kabur. Keita ingin menyumpah serapahinya namun tidak jadi. Ia lebih memilih masuk ke minimarket sebelum bertabrakan dengan seseorang.
"Eh, sorry" ucap orang itu kemudian mengernyit.
"Lo pacarnya Levi ya?"
Keita ikut mengernyit bingung. Siapa Levi?
"Sorry, salah orang" ucap Keita ingin meninggalkan orang itu namun ditahan.
"Orang yang bonceng lo, dia Levi."
"Gue bilang lo salah orang, dia Zihao bukan Levi!" ujar Keita ketus.
"Lo tau casingnya doang, si brengsek itu bukan Zihao pacar lo"
Keita semakin emosi mendengarnya. Ia ingin menonjok orang di depannya ini sebelum seseorang menahannya dari belakang dan merangkulnya.
"Gue lihat lo tadi mau bunuh Levi ya? Kayaknya kita sama deh, ikut yuk"
Makasih ya buat yang udah menyempatkan membaca cerita ini.
Hope you guys enjoy this story, and sorry for any mistakes. See you!
11 May 2023
KAMU SEDANG MEMBACA
Look at Me, please!
Genç Kurgu"Lo kenapa mau sama gue?" "Karena kita sama" "Maksud lo?" "Sama-sama brengsek." For Zikei
