Jumat berkah, itu kalau kata Keita dan teman-temannya. Pasalnya di minggu yang biasa sibuk-sibuknya mempersiapkan ujian, hari ini para guru justru membebaskan mereka dari pelajaran. Entah apa alasannya, mereka tidak tahu. Guru-guru disana memang suka tidak jelas.
Sudah ada lima kali mungkin Keita dan temam-temannya berpindah-pindah tempat. Mulai dari kantin, tangga, sampai perpustakaan yang berakhir mereka diusir karena berisik. Ujungnya mereka pindah ke halaman belakang sekolah. Ya, tempat favorit mereka.
Cukup luas halaman kosong dibalik gedung bertingkat itu. Dengan rumput sebagai alas, juga pohon beringin kembar yang teduh menjadi tempat langganan anak-anak melarikan diri dari kegiatan sekolah. Jangan salah, meski terkesan sepi dan singup karena pohon tersebut, tempat itu sama sekali jauh dari kesan horor. Justru terasa nyaman karena suasananya yang sejuk.
Keempat anak itu merebahkan dirinya di sana, berbantalkan tas sekolah yang isinya hanya sebuah buku tulis dan jaket. Dengan mata tertutup sesekali berceletuk.
"Jam berapa gerbang dibuka?"
"Gak tau, gak ada kegiatan juga kenapa gak dipulangin aja."
Mereka terus membicarakan berbagai hal yang sekiranya terlintas di kepalanya, dan tetap di posisi semula. Entah kenapa tidak ada niatan untuk melompati pagar belakang sekolah saja.
"Jeong, gue tadi malem denger suara motor lo di rumah gue deh. Gue tunggu-tungguin tapi kok gak ada dateng ke rumah," celetuk Junhyeon.
"Halu kali lo?" timpal Haruto. "Kan lo biasanya kalau hujan-hujan gampang molor, kali aja mimpi."
"Enak aja! Orang gue semaleman mabar ama Bang Jiwoong."
"Ya tetangga lo kali?"
"Mana ada, orang suara motornya Jeonghyeon kok, hapal banget gue."
"Iya, itu gue habis nganterin tetangga lo noh," sahut Jeonghyeon.
"Hah siapa?"
"Tau, siapa."
"Ye, yang bener. Jongwoo? Eh, rumahnya jauh dari gue. Yujin? Kalau itu mah ujung rumahnya gak mungkin kedengeran, Bang Jiwoong juga mabar ama gue. Tetangga gue siapa sih," oceh Junhyeon mencoba menebak. "Lah perawan anaknya Pak RT, wah lo ngapelin anaknya Pak RT Jeong? Gila, masih SMP itu!"
"Ngawur! Samping kiri lo."
Junhyeon berpikir siapa tetangga sebelah kiri rumahnya.
"Anjir! Park Hanbin?" serunya sampai bangun dari posisinya. "Ngapain lo sama tuh orang?"
"Nganter pulang," jawab Jeonghyeon singkat.
Mendengar hal itu kedua temannya yang masih di posisi semula seketika berjengit dan bangkit menatap ke arahnya. Mendengar pergerakan itu membuat matanya ikut terbuka, memandang ketiga sahabatnya yang kini tengah menghujaminya dengan tatapan yang menusuk.
"Lo sejak kapan deket sama tuh osis?" tanya Haruto menuntut.
Jeonghyeon menatap malas setelah mendengar pertanyaan itu. Kemudian menjawab dengan santai bahwa ia tidak dekat sama sekali dengan Park Hanbin. Namun ketiga temannya merasa tidak puas dengan jawaban itu.
"Terus kenapa kalian bisa pulang bareng? Lo kan paling anti buat interaksi sama anak osis, ngaku gak lo!" bentak Junhyeon.
"Apaan sih, semalem tuh gue beli lalapan di deket taman. Nah, pas awal nyampe tuh gue lihat dia sama 3 orang yang pake item-item gitu, mereka kaya ngobrol serius. Gue sih bodo amat, lanjut masuk aja ke warung keburu laper. Tau sendiri lah anak broken home," jelasnya yang entah kenapa jadi curhat.
"Lumayan lama sih itu gue makan, tapi pas gue balik lagi yang pada saat itu udah turun hujan, dia masih duduk di sana sendirian. Emang goblok banget sih, udah tau hujan bukannya pulang malah cosplay jadi orang kesambet. Gue yang ngelihat sedikit takut tuh anak gak ada yang nolong kalau beneran kesambet, ya udah gue datengin dan gue anter balik," lanjutnya.
Menyimak ceritanya dengan sungguh-sungguh, kini ketiga sahabatnya mengernyit dan menatapnya penuh selidik. Sedangkan Jeonghyeon menaiknya alisnya seperti bertanya ada apa lagi. Dia sangat paham bahwa ketiga orang ini rasa ingin tahunya sangat tinggi. Ya, sama saja sebenarnya seperti dirinya. Makanya hampir tidak ada rahasia di antara mereka berempat.
"Ah, yang bener gitu doang?" tanya Junhyeon dengan nada menggoda. Dia sangat senang dengan hal seperti ini. Ditambah lagi ini sahabatnya, yang sifatnya tidak jauh beda dengan kanebo kering, kaku. Sedangkan Jeonghyeon hanya mendengus dan kembali menutup matanya. Namun, tidak begitu lama sampai matanya membelalak dan kemudian menyipit, membuat tiga orang lainnya sedikit takut.
"Eh, kok gue ngerasa kaya kenal ketiga orang itu ya. Gue gak tahu mukanya sih, tapi dari postur dan motornya gue kaya pernah ketemu," ujar Jeonghyeon sembari mengingat-ingat ketiga orang semalam.
"Temennya kali?" sahut Keita yang mendapat gelengan ribut. Tidak, mana mungkin anak seperti Park Hanbin mempunyai teman seperti itu? Ditambah lagi keadaan Hanbin setelah bertemu dengan mereka, pikirnya.
"Hm, gue jadi ikut curiga. Eh, penasaran dulu deng!" celetuk Junhyeon dengan meralat kalimatnya sendiri.
"Elah, kepo mulu lo Jun," ucap Keita yang benarkan Haruto.
"Kaya lo berdua kagak kepo aja. Coba deh mikir, siapa kira-kira tiga orang misterius yang ngobrol sama tetangga gue, si Park Hanbin ini. Secara nih ya, dia tuh anak rumahan banget. Bahkan gue hampir gak pernah ngelihat dia keluar rumah, karena gue aja sekolah berangkat belakangan pulang duluan," jelas Junhyeon yang disetujui oleh Jeonghyeon.
"Yang lo berdua kaya pengen tau banget tuh kenapa? Apalagi lo Jeong, tumben bener," ucap Haruto.
"Suka kali," ceplos Junhyeon dengan santai. Hening, hingga beberapa detik kemudian badannya terpental akibat dari tendangan Jeoghyeon.
Selanjutnya hanya ada perkelahian kecil antara kedua orang tadi, karena salah satunya justru gencar menggoda akibat dari respon yang diberikan si penendang. Tidak habis pikir, dua orang lainnya dengan santai menyaksikannya sembari merebahkan tubuhnya di atas rerumputan.
"Gawat, jangan sampai mereka tahu," gumam seseorang yang tengah berdiri dibalik tembok.
Di tempat lain tiga orang berbalut seragam SMA sedang menikmati kepulan asap yang keluar dari mulutnya. Bangunan yang sudah mulai sepi membuat mereka tenang berada di dalam sebuah ruangan yang seharusnya digunakan untuk menyimpan peralatan olahraga.
"Kasih tau dia, besok malem kita ketemuan. Tapi jangan di taman itu lagi, terlalu rame. Lo atur ajalah sekiranya aman," ujar salah satunya. Sedangkan yang diajak bicara hanya mengangguk sebagai responnya.
Hai, masih banyak juga ya yang baca. Pada bosen gak sih sama alurnya, kalau aku boleh tanya? Niat awal mau bikin pendek, gak banyak chapter. Eh, tapi ternyata kayanya bakal gak jelas kalau ceritanya gak runtut dan kompleks. Jadi mohon bersabar ya, dan makasih buat yang udah sempatin baca, maaf updateku lama. Hope you guys enjoy this story!
01 July 2023
KAMU SEDANG MEMBACA
Look at Me, please!
Teen Fiction"Lo kenapa mau sama gue?" "Karena kita sama" "Maksud lo?" "Sama-sama brengsek." For Zikei
