Haiii
Happy to see you again 😍😍
Hope you guys doing well and still have a smile to see this story
Tapi, aku mau minta maaf dulu😃
Kalau bab ini akan membuat kamu sedih tapi berujung tertawa yaa hehehehehe
Yuk vote dan comment 🤗🤗
Happy reading🫶🏻
🫀
Kalau sedari awal Dea tahu bakalan serumit ini mengurus administrasi dan rencana pindahan mereka, sepertinya Dea akan memutuskan di sini saja. Biarkan Sean yang terbang ke sana, sementara mereka bisa menyusul di kemudian hari.
Setelah tidak aktif bekerja, maksudnya dalam jam kerja rutin di kantor, Dea lebih banyak punya waktu luang, yang ia habiskan di apartemen, kadang ke rumah orang tuanya, ke toko atau ke rumah sakit.
Dea bersandar di sofa dengan tubuh kecapekan, belakangan mudah lelah, entah itu karena hormon atau memang badannya yang semakin terasa berat. Terkadang kondisi mentalnya pun rapuh dan banyak menangis untuk hal-hal kecil yang sebenarnya tidak jadi masalah.
Akhir-akhir ini rasanya berlebihan, capek, dan tidak berjalan seperti harapannya. Namun, di luar semua hal yang membuatnya letih itu, syukurnya, kandungannya baik-baik saja. Dea menyunggingkan senyum tipis kala menyentuh perutnya.
Pernah Dea berpikir, kenapa hadiah ini mesti ia terima sekarang, di saat ia merasa belum siap sepenuhnya. Rupanya ia diminta untuk tekun dan bersabar dari hari ke hari, yang hampir tidak ada habisnya.
Dea membuang napasnya berat. Ia mulai melankolis lagi. Sekali lagi, ia menghela napasnya. Kemudian masuk ke kamar dan meletakkan tasnya di meja rias. Langsung bersih-bersih sebelum menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Berhubung hari sudah sore, dan tidak ada kegiatan lain yang akan ia lakukan di luar lagi, Dea memanfaatkan waktunya untuk menggambar.
Desain yang ia kerjakan beberapa hari terakhir adalah baju bayi, berharap anaknya kelak yang akan menggunakannya. Dea begitu fokus dengan aktivitasnya sampai tidak sadar bahwa seseorang sudah pulang.
"Hello."
Dea mengangkat wajahnya sebentar, dan ia tersenyum lebar saat melihat Sean.
"Boleh nggak nih saya marahin kamu? Handuknya masih di sini."
"Sorry." Dea terkekeh, karena biasanya ia yang akan memergoki Sean melakukan itu. Ia langsung mengambil buku sketsanya ke mari saat ide muncul di kepala, mengabaikan handuknya yang berakhir tergeletak di sebelahnya.
"Kenapa tidak pakai meja di luar? Atau ruang kerja saya? Penerangan di sana lebih bagus." Sean masih heran karena ia melihat Dea beberapa kali menggunakan walk-in closet sebagai tempat untuk menggambar.
Dea mengangkat bahunya. Mungkin karena di sekelilingnya ada baju dan berlatar fashion, sehingga banyak ide yang datang di kepalanya?
"Lebih suka di sini." Dea menutup buku sketsanya. Ia belum mau menunjukkan karya tangannya pada sang suami. "Sudah makan malam?" tanyanya.
"Belum. Kamu sudah lapar? Biar kita makan."
"Boleh." Dea menyimpan buku sketsanya di meja rias. Kemudian menerima uluran tangan Sean dan mereka berjalan ke luar.
Dea duduk di kursi sementara Sean dengan sukarela menyiapkan piring dan mangkoknya. Sesuai permintaan Dea hari ini, makan malam dengan sop buntut yang hangat. Sean membelikannya dan selalu memenuhi keinginan makanan Dea.
"Selamat makan," ujar Dea sebelum meneguk minumannya. Ia menikmati setiap sendok yang masuk ke mulutnya. Rasa segar dan gurih, sedikit asam, lalu lembut dari daging yang lumer di lidahnya, kian menambah nafsu makannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
DPD (Tamat)
ChickLitDPD (Sequel Dosen Bucin & DSM) ♥️Yuk Follow Dulu Sebelum Baca♥️ --- Deaby Emma Ellona Putri Brahmana (Dea), seorang desainer muda berbakat yang karyanya pernah digunakan oleh model ternama dunia. Kepulangannya ke Jakarta ialah untuk meneruskan usaha...
