20. Scared

3.6K 277 33
                                        

⚠️ Sedikit Dewasa ⚠️

...

Satu tahun telah berlalu. Tak terasa waktu begitu cepat berjalan. Setelah hari kelulusan itu, Anara menjalani hidupnya sendirian. Sahabat-sahabatnya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, tertinggal dirinya lah sendiri yang masih berusaha bertahan hidup.

Anara memuntahkan isi perutnya yang terasa mual akibat menahan lapar seharian. Ia mengira bahwa asam lambungnya kembali naik. Cewek itu berjongkok sendirian di pinggir jalan yang sepi dan gelap.

Sama seperti jaman SMA dulu, hidupnya masih menyedihkan. Anara, gadis itu berdiri sambil mengelap bibirnya menggunakan punggung tangan miliknya. Memilih menekan tombol on pada ponselnya guna melihat pukul berapa sekarang.

22.43 WIB

Memilih untuk menjauh dari kehidupan teman-temannya membuat Anara merasa sedikit tenang. Ia tak pernah terpikir untuk menjauh dari Thea maupun Geo sebelumnya, tetapi setelah melakukannya, ia justru merasa jauh lebih damai.

Beginilah hidupnya setelah sekolah menengah atas berlalu, hidup dalam kesendirian dan kesunyian. Anara kembali berjalan menuju kost-an yang ia sewa di pinggir kota Jakarta.

Senang, karena orang serba hitam yang dulu sering mengikutinya, sekarang tak lagi mengikutinya.

Anara memutar kunci rumahnya, menekan saklar lampu yang terpasang di samping pintu masuk. Langsung saja ruangan yang gelap berubah menjadi remang-remang. Anara masuk ke kamarnya, langsung merebahkan tubuhnya ke atas ranjang tanpa melepaskan sepatu ataupun bergegas membersihkan tubuhnya.

Tangan gadis itu menggulir satu persatu kenangan yang tersimpan di galeri hp nya. Kalo saja masa itu bisa di ulang lagi, Anara dengan suka rela menyerahkan dirinya agar kembali ke masa SMA. Ia tahu sahabat-sahabatnya sudah berulang kali menghubunginya bahkan menemuinya, tapi ia tetap pada pendiriannya. Tak ingin lagi merepotkan mereka.

Mata itu perlahan terpejam, membawa gadis mungil tersebut masuk ke alam tidurnya. Dalam tidurnya Anara merasa seseorang mengawasi dirinya, lalu orang itu perlahan naik ke atas ranjangnya yang kecil.

Orang misterius itu perlahan menaiki tubuhnya. Tubuh Anara bergerak gelisah; ia ingin membuka kedua matanya, tetapi rasanya sulit sekali. Mulutnya pun seakan terkunci, tak mampu berteriak untuk meminta pertolongan.

Merasa sebuah kain panjang menutupi kedua matanya yang masih berusaha agar terbuka. Kain itu melingkari kepalanya, lalu terikat di belakang kepalanya.

Air mata Anara perlahan mengalir dari celah-celah kain yang menutupi matanya. Merasakan tangan orang itu perlahan meraba inti sensitifnya. Apakah ini yang dinamakan ketindihan? Siapapun tolong dirinya sekarang juga.

Ketakutan semakin menguasai gadis itu saat ia merasakan kepala seseorang masuk ke dalam ceruk lehernya. Bibir orang itu menyentuh tulang selangkanya berulang kali, membuat tubuhnya semakin gemetar. Anara mengepalkan kedua tangannya yang tak bisa bergerak; keinginannya untuk mendorong dan memukul orang itu membabi buta semakin kuat.

Tapi kenapa tubuhnya terasa lumpuh?! Seakan dengan mudah di lumpuhkan oleh makhluk yang berada di atasnya saat ini.

Nafas Anara memberat tertahan. Ketika bibir orang yang menindihnya ini semakin turun ke bawah.

"T-tolongh.. jangan..!" Suara itu akhirnya keluar dari bibir Anara dengan lirih. Nafas gadis itu semakin berat. Tapi tunggu—aroma yang menusuk hidungnya terasa familiar. Anara seperti mengenalinya. Tapi siapa?!

Kedua kakinya di paksa terbuka oleh orang yang berada di atasnya. Bibir Anara terus melirih menyuruh agar orang misterius itu tidak melakukan hal-hal yang tak diinginkan olehnya.

GEONARATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang