Sampai juga di part ini wkwkw
⚠️ Mengandung unsur dewasa ⚠️
Diharapkan baca di malam hari.
[Happy reading]
...
Malam ini, langit Jakarta nampak cerah. Gemerlap lampu jalan berpendar di antara gedung-gedung tinggi, menciptakan siluet indah yang membingkai langit malam. Hiruk-pikuk kendaraan masih memenuhi jalanan, deru mesin hingga klakson saling bersahutan.
Di sebuah gedung apartemen mewah yang gelap, hanya terpancar sinar lampu dari luar kaca jendela dan layar tv yang menyala di depan seorang pemuda.
Pemuda itu menatap lekat rekaman CCTV yang disiarkan langsung di hadapannya. Nafasnya tercekat melihat gadis yang ada di layar membuka baju yang dikenakannya. Bahkan, Anara melepaskan pengait pakaian dalam bagian atasnya.
Pemuda itu membuka tiga kancing teratas kemejanya sambil memperbaiki posisi duduknya yang gelisah. Kepalanya mendongak, bersandar pada kursi. Tatapannya yang semula sayu perlahan menajam dalam temaram, sementara bibirnya sedikit terbuka, menikmati sensasi yang hanya dia sendiri yang mengerti.
Terus memperhatikan Anara yang masih sibuk mencari pakaian atasnya dalam keadaan setengah telanjang, pemuda itu terpaku di tempatnya. Tanpa sadar jemarinya turun membuka resleting celananya. Pemuda itu menggerakkan tangannya dengan cepat, mulutnya terbuka menggeram rendah sembari membayangkan Anara yang menggantikan tangannya.
Memikirkan itu membuat miliknya semakin membesar. Tubuh pemuda itu menegang, urat lehernya menimbul, keringat mengalir dari dahi dan lehernya. Geraman berat semakin keluar dari belah bibirnya, matanya sesekali terpejam.
Mata tajamnya terbuka, terpaku pada layar di depannya. Napasnya semakin berat, seiring ritme yang kian meningkat. Saat sensasi itu mencapai puncak, rahangnya mengeras, tubuhnya menegang, dan desahan serak lolos dari bibirnya yang sedikit terbuka. Hening sesaat menyelimuti ruangan, sebelum akhirnya ia meraih beberapa lembar tisu di mejanya.
Sial! Bukan hanya sekali, setiap kali Anara melakukan sesuatu yang tak terduga, ia selalu berakhir seperti ini, terjebak dalam hasratnya yang tak bisa ia kendalikan.
Menyugar rambutnya ke belakang, ia terkekeh singkat, sambil mengatur nafasnya yang masih memburu. "Kamu diam aja, udah bikin aku gila sayang."
Melihat Anara yang telah mengenakan bajunya kembali. Tatapannya tetap tak teralihkan, sangat mendambakan. Memperhatikan gerak-gerik Anara yang sedang mencari ponsel miliknya. Setelah mendapatkannya, Anara menghidupkan layar ponselnya, langsung saja komputer yang berada di samping tv menyala menampilkan layar hp Anara seolah mencerminkan setiap gerakannya.
Sudut bibirnya tertarik, matanya tak lepas dari layar komputer yang kini bergerak dengan sendirinya. Tampilan di depannya menunjukkan layar ponsel Anara bergerak mengikuti setiap sentuhan pemiliknya.
Ia menyaksikan bagaimana gadis itu membuka aplikasi pesan, membaca isi chat yang ingin dikirimkan kepada temannya. Namun, jantungnya tiba-tiba berdebar lebih kencang saat Anara menggulir layar ke bawah hingga akhirnya berhenti pada satu nomor-kontaknya.
Suara dering hp nya membuat pemuda itu mengumpat kesal. Tapi tetap berdiri dari duduknya, berjalan menuju sofa yang berada di dekatnya.
Berdehem sebentar, sebelum suara dari seberang sana lebih dulu terdengar.
"Hallo! Udah beres. Mau di apain anaknya?"
Cowok itu menyeringai mendengarnya, sembari berjalan menuju mejanya kembali. Matanya kembali menatap lurus ke layar di hadapannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
GEONARA
JugendliteraturLevel tertinggi dalam cinta adalah ketika kamu melihat seseorang dengan keadaan terburuknya dan tetap memutuskan untuk mencintainya. -𝓽𝓾𝓵𝓲𝓼𝓪𝓷𝓭𝓲𝓷𝓪, Geonara. ••• Dalam dunia yang tampak sempurna, Geovaro Gerald Kalzero memegang kendali. Geo...
