[Happy reading]
Akhirnya setelah sekian lama, aku mengeluarkan part ini. Genre cerita yang memang aku inginkan dari dulu wahahaha.
...
"Pinter ya, aktingnya," ucap Andra, matanya menatap lurus pada seseorang dengan tatapan marah
Ketegangan langsung menyelimuti ruangan. Semua orang secara refleks mengikuti arah tatapan Andra. Dalam sekejap, ekspresi mereka berubah. Terkejut dan bingung menjadi satu.
Namun, sosok yang menjadi pusat perhatian tetap diam. Tak ada reaksi berlebihan, tak ada ekspresi keterkejutan seperti yang lain. Ia tetap duduk, bertumpu pada sikunya, menatap Andra dengan tatapan datar dan tenang.
Sunyi. Hanya terdengar suara napas berat yang tertahan. Tak ada yang berani bersuara, seakan takut memperkeruh suasana. Semuanya terjadi begitu cepat.
Gerry mengatupkan mulutnya yang terbuka. Ia masih berharap Andra, saat ini hanya dalam mode bercanda. Tapi melihat dari tatapan kecewa dan amarah dari matanya, membuat Gerry menggertak giginya. Ia tahu, saat ini Andra sedang serius.
"Ndra?!" panggil Gerry, suaranya penuh ketidakpercayaan.
Andra tidak bergeming. Pandangannya tetap lurus ke depan. Dan saat itu juga, mereka menyadari sesuatu. Mereka telah salah mengangkap orang. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, pelaku sebenarnya ada di dekat mereka
Sangat dekat.
Gerry menghembuskan nafasnya kasar. Orang-orang disekitarnya ini kenapa?! Kenapa hal sekecil dan sesimpel itu harus membohongi banyak orang? Seakan mereka harus bermain drama berepisode-episode.
"Lo kenapa sih?!" tanya Kezel, mengeluarkan pertanyaan yang berkeliaran di benaknya.
"Ndra, lo tau sesuatu?!" tanyanya lagi, semua orang menoleh pada Kezel lalu pada Andra seolah menuntut penjelasaan. Namun, Andra tetap diam. Pemuda itu tetap pada pendiriannya menatap lurus kedepan dengan pandangan marah.
Sedangkan yang di tatap di ujung sana, hanya tersenyum miring di sudut bibirnya. Cowok itu menyandarkan kepalanya ke sofa sebelum akhirnya berdiri, tak sedikit pun menanggapi pernyataan Andra bahkan untuk membela dirinya sendiri.
Dengan satu tangan menenteng ransel, ia melangkah santai. Pemuda itu berjalan melewati bahu Andra tanpa mengucapkan sepatah katapun. Suasana tegang semakin menyelimuti mereka, ketika Andra memegang bahu pemuda tersebut dan membalikkan badannya kasar.
"Lo pikir bisa pergi gitu aja, setelah semua ini?!" geram Andra. Kekecewaan jelas terpancar dari matanya.
Nakula yang sejak tadi diam ikut bersuara, suaranya penuh ketidakpercayaan. "Ndra?!"
Tapi Andra tidak bergeming. Tatapannya tetap terkunci pada orang yang ada di depannya, menunggu pembelaan apa yang akan keluar dari belah bibir temannya ini.
Melihat tampang datar dan tenang temannya, Andra menghelakan napasnya kasar, emosinya semakin tersulut. "Ternyata selama ini lo cinta sama Anara. Kenapa hal sekecil itu aja lo bohongin banyak orang?! Pake cara kotor lagi."
"Stalker itu, ternyata lo orangnya, Ge!" Suara Andra menggema, memenuhi ruangan dengan kemarahan yang tak bisa lagi ditahan. Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Geo.
Terkejut, semua orang yang ada di ruangan itu membeku di tempatnya. Tidak ada yang berani menyela. Geo masih diam. Tidak ada ekspresi keterkejutan di wajahnya, tidak ada usaha membela diri. Ia hanya menatap Andra dengan mata yang tetap tajam dan tenang seperti seseorang yang sudah memperhitungkan semua kemungkinannya sejak awal.
KAMU SEDANG MEMBACA
GEONARA
Teen FictionLevel tertinggi dalam cinta adalah ketika kamu melihat seseorang dengan keadaan terburuknya dan tetap memutuskan untuk mencintainya. -𝓽𝓾𝓵𝓲𝓼𝓪𝓷𝓭𝓲𝓷𝓪, Geonara. ••• Dalam dunia yang tampak sempurna, Geovaro Gerald Kalzero memegang kendali. Geo...
