21. Anara's Trauma

4.5K 324 77
                                        

Thea menghela nafas kasihan melihat tatapan kosong Anara yang sudah duduk manis di dalam mobilnya. Cewek itu menyampirkan selimut tebal pada bahu sahabatnya. Tangan Thea mengelus lingkar mata Anara yang sudah berubah merah menahan tangisnya.

Mengacak rambut Anara berulang kali, setelah itu menutup pintu mobilnya lalu berjalan menuju kemudi.

Di sepanjang jalan hanya ada keheningan yang menimpa kedua orang itu. Thea sesekali menoleh ke samping memperhatikan sahabatnya yang masih dalam posisi yang sama. Tatapan Anara terlihat penuh luka, gadis itu hanya terdiam tak seperti setahun yang lalu.

Thea berdehem sebentar dalam diamnya. Gadis itu lagi-lagi menoleh ke samping, kepalanya celingak-celinguk melihat keluar jendela mobilnya.

"Makan dulu, yok. Gue udah lama gak makan pecel lele," ucap Thea memecahkan keheningan.

Menoleh ke samping menatap Anara. Tak ada respon dari gadis di sampingnya ini. Thea menarik nafasnya panjang. Entah kejadian seperti apa yang baru saja menimpa Anara sampai membuatnya trauma seperti ini.

"Nar," panggil Thea pelan, cewek itu memelankan laju mobilnya. Anara menolehkan kepalanya menatap senduh.

"Makan, yok." Kali ini respon Anara menggelengkan kepalanya pelan. Tatapan mata Thea turun melihat tangan Anara mencengkram erat selimut yang menutupi tubuhnya.

Thea menarik nafasnya panjang. Tak punya pilihan lain, gadis itu kembali melajukan mobilnya sedikit kencang. Otaknya seolah berpikir keras, setelah menimbang-nimbang Thea membelokkan stir mobilnya menuju apartemen miliknya.

"Bawa gue pergi jauh dari sini, The." Thea menolehkan kepalanya terkejut, bahkan gadis itu menghentikan laju mobilnya secara tiba-tiba ke pinggir jalan.

"Apa?!" seru Thea, kedua bola matanya membulat sempurna mendengar kalimat tersebut.

Anara menoleh ke samping, mata serta hidung gadis itu sudah memerah menahan tangisnya. "Bawa gue pergi jauh dari sini. Gue pengen hidup tenang lagi kayak dulu."

"Gue takut," lirih Anara sambil memegang area dadanya yang sudah di raba oleh orang misterius itu.

Lagi-lagi Thea tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Bahkan rahang gadis itu sudah menganga lebar tak percaya. Kepala Thea menyandar pada kursi mobilnya, mengibaskan rambutnya ke belakang, merasa marah.

"What the fuck! Lo diapain, Nar?!" Thea dengan cepat mengangkup pipi Anara.

Melihat Anara yang terlihat tak bernyawa, membuat Thea seperti kebakaran jenggot. Thea mencengkram stir mobilnya erat, gadis itu kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

Marah, sangat marah. Rasanya Thea ingin meledak saat ini juga.

Mobil merah itu melaju dengan kecepatan tinggi membela jalanan ibu kota yang sepi. Bagaimana pun caranya, kali ini Thea harus melindungi sahabatnya ini.

Thea menekan earphone di telinga kanannya. "Halo, bisa temui gue di tempat biasa nggak? Sekarang!"

Tanpa menunggu balasan dari lawan bicaranya di seberang sana, Thea lebih dulu mematikannya. Ia menoleh ke samping, melihat Anara yang menangis dalam diam sambil melihat ke luar jendela mobil. Pemandangan itu semakin membuat Thea geram.

...

Suara pintu bergeser membuat Thea menolehkan kepalanya. Di sana terdapat Gerry yang datang dengan nafas memburu. Cowok itu terlihat panik setelah mendapatkan telepon dari Thea tadi, ia berpikir bahwa pujaan hatinya dalam bahaya.

Tapi itu semua di luar pikirannya, justru matanya sekarang terpaku pada gumpalan selimut yang ada di atas ranjang milik Thea.

Melihat Thea yang sedang menempelkan kompres plester pada kening seorang gadis yang hanya terlihat wajahnya saja. Tunggu, Anara? Gadis itu akhirnya kembali setelah satu tahun menutup diri dari sahabat-sahabatnya.

GEONARACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang