[Pemberitahuan]
Butuh waktu lama di bagian ini untuk meng-upload, karena saya harus riset terlebih dahulu soal kebahasaan. Maaf ya, kalo ada kesalahan dalam penyebutan, karena saya sendiri bukan berasal dari daerah yang disebutkan. (Dengan nada formal)
[Happy reading]
....
Kalimat yang terlintas di benak Anara saat ia tiba di tanah kelahiran ibunya, Wonosobo; "In another life, ibu gak boleh nikah sama Ayah, harus dapet laki-laki yang lebih baik. Harus dapat kebahagiaan yang selama ini gak bisa ibu dapatin. Punya hidup enak dan gak repot soal anak-anak. Gak masalah kalo aku gak lahir, asalkan ibu dicintai dan gak pernah ngerasa dikhianati sama ayah."
Angin dingin menerpa tubuhnya yang hanya terbalut cardigan rajut dan celana tidur. Tatapannya kosong, menembus kabut tipis yang menggantung di puncak gunung. Di depan sana, hamparan alam membentang luas, tapi hatinya tetap terasa sempit.
Tak pernah terpikirkan olehnya akan merasakan suasana pedesaan ini lagi setelah 15 tahun berlalu.
Saat ini, ia berada di atas genteng rumah neneknya. Anara meniup telapak tangannya yang terasa dingin. Cuaca di Wonosobo dan Jakarta jelas berbeda jauh dan tubuhnya belum bisa beradaptasi dengan lingkungan ini.
Anara meraba kalung yang melingkar di lehernya, jemarinya menggenggam liontin kecil yang terpasang. Napasnya bergetar, suara lirih keluar dari bibirnya. "Kangen, Ibu di mana?"
Matanya menerawang ke langit malam. Angin Wonosobo berhembus lembut, membelai kulitnya yang dingin.
"Aku di Wonosobo, lho. Kalau kita berjodoh, semoga aku bisa lihat Ibu lagi. Mau lihat keluarga impian yang dulu gak bisa ibu dapetin sama ayah." Suaranya semakin pelan, seolah berbicara pada semesta, berharap angin membawa doanya pada seseorang di masa lalu.
Anara terkekeh pelan, meski air matanya tetap jatuh tanpa bisa ia tahan. Dengan ujung jemarinya, ia menghapus jejak bening yang mengalir di pipinya. "Aku udah maafin Ibu, karena kasih aku ke Tante Mira sama Om Fahri..." Suaranya bergetar, matanya menatap kosong ke kejauhan. "Tapi Ibu tau gak sih? Om Fahri pernah mau jual Nara."
"Ternyata aku pernah jadi anak kecil nya ibu juga, ya,"
Anara tersenyum miris di tengah isakannya. Seolah baru menyadari, dulu ia juga pernah ada dalam dekapan hangat seorang ibu, sebelum takdir mengubah jalan hidupnya menjadi sekeras dan menyedihkan seperti ini.
"Kalo Ayah mah masih kayak dulu, suka selingkuh, masih kasar. Masak terakhir aku minta uang, Ayah marah-marah—"
"Dek, uwis bengi lho. Kowe ora gelem mudun terus mangan?" teriakan neneknya memotong ucapan Anara. Gadis itu cepat-cepat mengalihkan wajahnya, menghapus jejak air matanya sebelum neneknya melihat.
Artinya: Dek, sudah malam lho. Kamu gak mau turun terus makan?
"Iya, Nenek, Nara turun," sahut Anara dari atas. Gadis itu perlahan menuruni tangga kayu.
"Kowe kuwi bocah wedok, ora oleh suwe nang njaba. Mengko ditresnani jin," ujar Nenek Sekar sambil merangkul pinggang Anara begitu gadis itu sampai di pijakan terakhir.
Artinya: Kamu itu anak perempuan, nggak boleh kelamaan di luar. Nanti disukai jin.
Anara berdecak pelan, tapi tangannya mengandeng lengan neneknya berjalan menuju pintu samping. "Nenek, Nara gak ngerti lagi bahasa Jawa."
"Kamu sih, sudah berapa lama tidak ke sini? Berapa? 17 tahun," balas Sekar, sambil menghitung dengan jarinya.
Anara terkekeh kecil. "Bukan 17 tahun, tapi 15 tahun, Nek."
KAMU SEDANG MEMBACA
GEONARA
Novela JuvenilLevel tertinggi dalam cinta adalah ketika kamu melihat seseorang dengan keadaan terburuknya dan tetap memutuskan untuk mencintainya. -𝓽𝓾𝓵𝓲𝓼𝓪𝓷𝓭𝓲𝓷𝓪, Geonara. ••• Dalam dunia yang tampak sempurna, Geovaro Gerald Kalzero memegang kendali. Geo...
