27

2.3K 247 33
                                        

Ujung jari mengambang sesaat sebelum jatuh mengenai permukaan empuk, bergerak kesana kemari merasai dan membayangkan betapa ramainya nanti jika tempat tidur ini telah berpenghuni bayi kecilnya.

Susunan boneka yang berbaris rapi di samping membuatnya menggigit bibir menahan gemas yang melanda. Lagi-lagi membayangkan tangan-tangan kecil halus nan gemuknya bermain bersama boneka-boneka itu.

Renjun sudah tak sabar menanti hari kelahiran Logan.

"Sudah selesai ku pasang, berbaliklah." Seiring lengan kekar yang melilit pinggang, suara berat menjumpai runggu miliknya.

Sesuai arahan, Renjun berbalik tetapi tak mudah sebab Jeno enggan melepas rengkuhnya barang sedetik pun. Alhasil Renjun bergerak patah-patah, sedang Jeno memulai aksi jahilnya yang tak henti beri istrinya kecupan-kecupan ringan penuh sarat cinta.

"Wah.. bagus sekali. Apa itu bisa menyala?"

Jeno mengangguk di ceruk leher Renjun, masih sibuk mencium dan menghirup aroma manis dari sang istri.

"Itu memang lampu tidur, sayang. Berbeda dengan yang lain yang hanya pajangan semata."

Apa yang mereka bahas ialah tentang kamar bayi Logan. Bertemakan pesawat, setiap sudut berhias pesawat, bersusun mainan-mainan pesawat, Jeno berambisi Logan menggilai pesawat seperti dirinya.

Asal jangan memiliki kelainan menikahi pesawat... gosh.

Tidak cuma itu, warna cat kamar yang dipilih pun sebiru langit, terdapat detail-detail lukisan awan awan putih mengelilingi. Langit-langit kamar juga tak luput dari ketelitian mata Jeno yang menginginkan serupa keadaan ketinggian 38.000 kaki di atas permukaan bumi.

Berbentuk amat mirip namun tentu palsu, Jeno hias langit-langit kamar Logan menggunakan gumpalan-gumpalan kapas yang ia buat sendiri.

Berbentuk amat mirip namun tentu palsu, Jeno hias langit-langit kamar Logan menggunakan gumpalan-gumpalan kapas yang ia buat sendiri

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Begitu detail, begitu bagus, begitulah rasa cintanya untuk anaknya, Logan.

Jeno berlutut, menghadap perut besar Renjun yang sebentar lagi akan melakukan persalinan, tinggal menghitung hari.

"Hey, nak. Uang-uang Papa banyak habis untuk membuat kamarmu ini. Jadi ketika kau lahir nanti Papa harap kau betulan ingin menjadi pilot seperti Papa ya," Jeno menangkup perut Renjun kemudian bergerak memutar mencari keberadaan posisi sang bayi. "Dia sudah seturun ini?"

Renjun mengangguk, tangannya menuju bawah perutnya. Besar dan berat. "Posisinya sudah benar tapi kenapa aku belum merasakan kontraksi apapun ya? Kata Haechan bisa saja aku langsung melakukan operasi tanpa menunggu kontraksi, karena ini sudah sembilan bulan lebih juga. Bagaimana menurutmu?"

Lantas Jeno kembali berdiri. Menaruh tangannya di punggung bawah Renjun lalu memijatnya pelan, area situ yang sering Renjun keluhkan pegal.

"Kalau Haechan bilang begitu berarti memang sudah aman bayinya maupun dirimu. Jika kamu memang yakin, aku juga setuju." Dengan punggung tangan Jeno membelai pipi Renjun.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 06, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Mr. Pilot || NORENTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang