"Setelah badai lumayan mereda, tanpa sengaja kami menemukan daratan tak berpenghuni. Dan yah.. kami bertahan di situ selama tiga hari hingga tim penyelamat datang."
Kisah yang Jaemin tuturkan tak pernah Jeno tahu sejak ia tak sadarkan diri di perahu. Bahkan sampai tiga hari terdampar Jeno sama sekali tidak merasakannya. Tidurnya begitu panjang saat itu, dan ia terbangun ketika tim penyelamat berhasil menemukan mereka.
Entah bagaimana caranya ia bisa bertahan selama itu, padahal lukanya begitu parah, darahnya juga terus merembes keluar. Namun yang pasti Jeno amat bersyukur, sedikitnya Tuhan memberikan kesempatan padanya.
"Baik, terima kasih atas informasinya Pak Jeno, Pak Jaemin." Petugas kepolisian membuka sebuah file.
"Ini masih dugaan tapi kami curiga ini adalah sabotase. Kami menerima laporan maintenance pesawat yang anda gunakan dan sama sekali tidak ada kerusakan sebelum take off. Saat ini kami bersama kepolisian London bekerja sama melakukan penyelidikan dan memeriksa rekaman CCTV di bandara sana."
"Dugaanku ke arah situ juga. Ledakan yang terjadi sangat tidak wajar." Jeno menambahkan. Dahinya mengkerut mengingat kejadian itu. "Tangki bahan bakar juga mendadak bocor padahal sebelum terbang semua dalam keadaan baik."
Petugas kepolisian nampak berpikir. "Mengingat ketatnya penjagaan bandara sana, dan kalau memang benar ini sabotase. Pelakunya mungkin orang dalam." Dia lalu menatap Jeno. "Ini agak aneh tapi apakah anda memiliki musuh Pak Jeno?"
"Musuh?" Tanya Jeno ragu.
"Iya, kami pernah mendapat beberapa kasus seperti itu. Melihat latar belakang Pak Jeno bisa saja ada orang yang tidak menyukai anda."
Keterdiaman Jeno setelahnya menjadi akhir sesi interogasi.
"Jen..."
Panggilan lembut dari Renjun lekas buat Jeno sadar. Matanya langsung terfokus pada obsidian indah yang penuh kekhawatiran. Sentuhan halus dilengan juga Jeno rasakan dari jemari mungil milik istrinya.
Renjun memang ikut menemaninya ke kantor polisi, bersama Donghae tentunya.
"Ada apa? Sudah selesai bukan?" Pertanyaan yang keluar tak sepenuhnya masuk telinga. Otaknya penuh dugaan akan siapa jika memang ada musuh yang berniat mencelakai.
"Iya, sudah selesai. Kita bisa pulang sekarang." Jawab Jeno, tapi Renjun tahu ekspresinya berkata lain.
Donghae juga sadar perubahan raut anaknya, namun ia lebih memilih bertanya pada Jaemin. Ia tahu kalau anaknya belum bisa mengeluarkan apapun yang ada di benak.
Pinggang Renjun terasa berat oleh tangan Jeno yang bertengger. Genggamannya sedikit kuat tapi tidak sampai bikin Renjun tidak nyaman.
Dari kantor polisi menuju parkiran Jeno hanya diam. Di padangan Renjun Jeno terlihat sangat waspada, matanya melirik kesana kemari.
Sampai dimobil Jeno tak bisa untuk tak segera menarik Renjun ke pangkuan dan memeluknya. Wajahnya ia sembunyikan di ceruk leher sang istri. Dan Renjun bisa merasakan betapa beratnya tarikan napas Jeno.
"Jeno..."
"Tolong begini sebentar, Ren."
Renjun diam. Tangannya terangkat guna mengusap kepala Jeno, dan ia merasa dekapan Jeno semakin erat.
Cukup lama mereka dalam posisi seperti itu sampai akhirnya Jeno melepas pelukan lebih dulu. Jemari besarnya melabuh di pipi Renjun, menangkupnya lembut sebelum membawa wajah ayu itu mendekat dan menciumnya.
Ritme ciuman tidak tergesa, malah lambat penuh penghayatan di setiap buaiannya. Renjun selalu suka ketika Jeno menciumnya selembut ini.
"Petugas kepolisian menduga adanya sabotase," sejenak Jeno bergeming sebab memuja manik indah Renjun. Sudut bibir Renjun kembali Jeno kecup. "Kemungkinan ada seseorang yang tak menyukaiku dan ingin mencelakaiku."
KAMU SEDANG MEMBACA
Mr. Pilot || NOREN
FanfictionSLOW UPDATE || VERSI HAPPY ENDING! Jeno berjanji pulangnya adalah Renjun, juga anaknya yang sedang bertumbuh di perut istrinya. Tapi saat tragedi itu terjadi, pulangnya tetap pada Renjun atau dia menuju 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 yang lain... Pilot jn x model rj ...
