25

2K 246 35
                                        

"Tolong kurangi aktivitas intim kalian untuk sementara waktu," Haechan melirik bergantian pada Jeno dan Renjun. "Selain karena Renjun masih di trimester pertama, kondisinya yang sempat mengalami stres dulu bisa membahayakan kandungannya. Beruntung perdarahannya tidak parah, tetapi Renjun harus bedrest selama beberapa hari."

"Aku mengerti." Sahut Jeno cepat, sedari tadi mendengarkan penjelasan Haechan dengan seksama. Jeno duduk di pinggir kasur, tatap dan genggam tangannya tak lepas dari Renjun yang tampak pucat.

Pagi tadi, di saat Jeno berharap disambut oleh senyum manis sang istri kala membuka mata, justru ia yang dibuat panik setengah mati ketika mendapati Renjun merintih sambil memegangi perutnya. Insting Jeno menyuruh membuka selimut yang menutupi tubuh polos itu, dan benar saja rasanya jantung Jeno berhenti berdetak beberapa saat ketika melihat rembesan darah dibagian bawah Renjun.

Beruntung akal sehatnya masih berfungsi baik, segera Jeno bawa Renjun ke rumah sakit. Selama di perjalanan menuju rumah sakit Renjun tak berhenti meringis dan memegang tangan Jeno erat. Wajah Jeno pun lebih pucat daripada Renjun, sangat khawatir akan keadaan sang istri. Dalam benak Jeno memaki dirinya tanpa henti, ini pasti gara-gara dirinya yang lepas kendali tadi malam sehingga membuat dampak pada buah hatinya di dalam perut Renjun.

Haechan yang sudah berjaga di lobby depan dengan cepat melakukan penanganan. Untung saja hasil pemeriksaan Renjun tidak terlalu mengkhawatirkan. Hanya pendarahan kecil.

"Keadaanmu sudah cukup stabil, bila masih merasa nyeri hubungi saja aku. Nanti aku resepkan obat."

"Terima kasih, Haechan." Tutur Renjun lemah, senyumnya pun dipaksakan.

Sudut bibir menaik, ikut tersenyum meski tipis. Haechan lagi-lagi melirik bergantian pada Jeno dan Renjun, mengingat cerita Jaemin mengenai aktivitas dewasa dua orang itu yang terbilang brutal dan tidak tahu tempat, Jaemin dengan kurang ajarnya ingin menjadikan mereka panutan untuk aktivitas dewasa-nya bersama Haechan yang tentu setelahnya Jaemin mendapat pukulan keras di mulutnya. Tidak sopan sekali membicarakan kegiatan ranjang orang lain. Tapi dari situ juga Haechan bisa mengambil kesimpulan untuk keselamatan Renjun dan bayinya kedepannya.

Usai Haechan pamit bertugas menangani pasien lain, Jeno senantiasa duduk di samping Renjun. Entah itu untuk menggenggam tangan sembari mencium punggung tangan Renjun, mengusap peluh dari kening Renjun, dan terus berucap maaf akan dirinya yang membahayakan Renjun juga buah hatinya.

"Berhenti meminta maaf, Jeno. Aku baik-baik saja, sudah tidak terasa nyeri lagi. Kata Haechan kita bisa pulang setelah infus ini habis. Mending kamu cuci muka sana atau mandi sekalian, wajahmu kusut sekali. Eh, kamu belum sarapan bukan? Makan dulu, beli di kafetaria—" Tiba-tiba Renjun menangkap pergelangan tangan Jeno, matanya sontak melebar, terkejut melihat tangan kanan Jeno bengkak.

"Jeno! Tanganmu?! Ini pasti gara-gara kamu gendong aku kan. Tangan kamu yang belum pulih bengkak lagi. Ini harus segera diperiksa." Renjun panik, ia hendak bangkit dan melihat lebih jelas seberapa parah namun sigap Jeno menahannya agar tetap berbaring.

Mata Jeno merah, bukan karena menahan sakit ditangan, walaupun benar tangannya terasa sakit dan bengkak. Jeno menahan emosinya sedari tadi, ia ketakutan setengah mati melihat Renjun berdarah dan kesakitan.

"Jantungku rasanya berhenti berdetak, paru-paruku seolah menyusut, lupa  caranya bernapas. Aku kalut, aku.. aku.."

Sontak Renjun tertawa, nyaring juga kencang, menggelegar hingga membuat Jeno menaikkan satu alisnya.

Apa yang pantas ditertawakan?

Ia sangat ketakutan dan beginilah respon sang istri?

Renjun menghentikan gelak tawanya susah payah usai melihat Jeno mendelik sinis, menyisakan kekehan ringan dengan sorot penuh kelembutan.

Mr. Pilot || NORENTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang