So, With Who 20: Rakha Zaidan Wahnan

15 0 0
                                        

Recomended song for this chapter

Rahasia Cintaku by Kahitna

Di tengah keheningannya, kedatangan seorang laki-laki dihadapannya membuat dirinya terkejut

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Di tengah keheningannya, kedatangan seorang laki-laki dihadapannya membuat dirinya terkejut.

"Permisi Za, boleh ikut duduk di sini?" suara itu membuat Zaura mendongakkan kepalanya–Rakha, lelaki itu tengah berdiri sambil tersenyum manis me arahnya.

Seketika pikirannya tentang Kenzo tadi seakan buyar begitu saja, menatap kembali lelaki yang ada di hadapannya dan membalas sennyumannya, lalu mengangguk mengiyakan. Rakha yang mendapat persetujuan dari gadis itu kemudian duduk di hadapannya.

"Lo apa kabar? Kayaknya udah lama ya kita gak ketemu," tanya nya dengan senyuman yang masih mengembang.

Zaura tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan rasa campur aduk yang masih mengganggunya setelah pertemuannya dengan Kenzo. "Iya, udah lama banget, Rakha. Gue baik, lo sendiri gimana?" balasnya, mencoba terdengar santai.

"Gue? Sama aja," jawab Rakha sambil menyandarkan punggungnya ke kursi. "Tapi nggak nyangka gue bisa ketemu lo di sini. Lo sering ke sini?"

Zaura menggeleng pelan. "Nggak juga, cuma kebetulan aja. Lagi nyari tempat buat tenang." Ia berhenti sejenak, menatap Rakha dengan sedikit ragu. "Tapi lo kok bisa di sini?"

Rakha tersenyum lebih lebar, tatapannya hangat. "Gue juga lagi nyari tempat buat ngopi sambil nyelesain tugas. Eh, nggak sengaja liat lo dari luar."

Zaura tertawa kecil, meskipun dalam hati ia masih merasa canggung. Kehadiran Rakha di tengah pikirannya yang kacau memberi sedikit kelegaan, meski ia tahu perasaan itu hanya bersifat sementara.

"Lo keliatan agak... capek. Ada yang lagi lo pikirin?" Rakha bertanya dengan nada lembut, tetapi penuh perhatian. Tatapan matanya seolah ingin memastikan bahwa Zaura baik-baik saja.

Zaura terdiam sejenak, mencoba menimbang-nimbang apakah ia ingin berbagi. "Hmm, nggak apa-apa kok. Cuma... ya, ada aja masalah biasa," jawabnya akhirnya, menghindari kontak mata.
Rakha tidak memaksa. "Yaudah, kalau lo mau cerita, gue di sini. Gue selalu siap dengerin lo, Za."

Zaura mengangkat pandangannya, menatap Rakha yang kini sibuk membuka laptopnya. Ucapan Rakha barusan, meski sederhana, terasa begitu tulus. Zaura merasa sedikit lebih tenang.

"Thanks, Rakha," ucapnya lirih.

Rakha hanya tersenyum kecil, lalu melanjutkan kesibukannya. Di antara mereka, ada keheningan yang terasa nyaman, seolah keberadaan Rakha cukup untuk menenangkan hati Zaura yang sedang gundah.
"Oh iya, setelah ini lo ada rencana mau ke mana?" tanya Rakha, memecah suasana hening di antara mereka.

"Hmm? Maksudnya ke mana?" Zaura mengernyit, sedikit bingung.

"Maksud gue, habis lulus sekolah nanti, lo mau lanjut ke mana? Kuliah mungkin?" Rakha menjelaskan dengan nada santai, mencoba memperjelas pertanyaannya.

Zaura mengangguk kecil. "Iya, gue rencana mau kuliah, tapi belum tahu kampus mana yang bakal gue pilih."

"Oh, sama sih gue juga masih mikir-mikir soal itu. Kalo gitu, semangat ya Za. Gue pamit duluan, gue masih ada urusan lain soalnya," ujar Rakha sambil tersenyum ramah, lalu berdiri dari kursinya. Zaura mengangguk lalu menatap Rakha yang kini mulai menghilang dari pandangannya.

Rakha berjalan meninggalkan kafe sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Di luar, angin sore berembus pelan, membuat dedaunan di sepanjang trotoar berjatuhan. Di balik senyuman ramahnya tadi, Rakha menyimpan berbagai pikiran yang terus bergelut di dalam kepalanya.

"Apa kabar gue? Hah, gue sendiri juga nggak tau," gumam Rakha pelan, suaranya hampir tertelan oleh deru kendaraan yang lewat.

Rakha sebenarnya sedang menghadapi banyak tekanan dalam hidupnya. Setelah lulus sekolah, keluarganya berharap ia melanjutkan kuliah di universitas ternama dengan jurusan yang sudah ditentukan—hukum. Namun, keinginan Rakha berbeda jauh. Ia ingin mengejar passion-nya di dunia seni visual, sesuatu yang tidak pernah mendapat restu dari keluarganya.

Dalam perjalanan pulang, Rakha memutuskan untuk mampir ke taman kota, tempat yang selalu menjadi pelariannya. Taman itu bukan hanya sekadar tempat, melainkan ruang di mana ia bisa melukis dan meluapkan segala keresahan di hatinya. Hembusan angin sore menyentuh wajahnya lembut saat ia duduk di bangku favoritnya, di bawah rindangnya pohon akasia.

Dengan gerakan santai, ia membuka tas kecilnya, mengeluarkan buku sketsa yang sudah penuh dengan coretan dan kenangan. Rakha mengambil pensil dan mulai menggambar suasana taman—sepasang anak kecil yang berlari mengejar balon, pasangan muda yang tertawa bersama, dan lanskap bunga yang bermekaran. Goresannya ringan namun tegas, memunculkan detail setiap objek. Namun, semakin ia mencoba fokus pada gambarnya, pikirannya malah melayang.

Zaura Alea Laura. Nama itu kembali muncul di benaknya, membuat dadanya terasa penuh. Gadis yang hanya beberapa kali ia temui, tetapi begitu mendalam meninggalkan kesan. Gadis dengan senyum hangat yang mampu mengacaukan pikirannya, dengan cara bicara yang membuat Rakha selalu ingin tahu lebih banyak.

Rakha berhenti menggambar, memandang kosong ke depan. Pertemuan singkat mereka waktu itu terulang kembali di pikirannya—tatapan Zaura, senyumnya, hingga cara ia tertawa. Ia sadar, ada sesuatu yang berbeda dengan Zaura. Ia seperti teka-teki yang sulit dipecahkan, namun semakin membuat Rakha ingin mendekat dan mengenalnya lebih jauh.

Dengan napas panjang, Rakha kembali menunduk ke buku sketsanya. Kali ini, ia membiarkan pensilnya bergerak tanpa berpikir, menggambar wajah yang akhir-akhir ini selalu memenuhi pikirannya. Goresan pensil itu perlahan membentuk senyum Zaura, tatapan hangatnya, dan rambut yang tergerai dengan sederhana.

“Kenapa gue nggak bisa berhenti mikirin dia?” Rakha bergumam, suaranya nyaris tak terdengar. Ia tahu, ini lebih dari sekadar pertemuan biasa. Ada sesuatu tentang Zaura yang membuat hatinya bergetar, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Saat bayangan sore mulai memanjang, Rakha menutup buku sketsanya dengan hati-hati, menatap hasil gambarnya sesaat sebelum memasukkannya kembali ke dalam tas. Dengan langkah yang lebih tenang, ia meninggalkan taman itu, membawa serta perasaan yang semakin sulit ia pahami—antara harapan untuk bertemu lagi dengan Zaura dan keraguan untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan.

 Dengan langkah yang lebih tenang, ia meninggalkan taman itu, membawa serta perasaan yang semakin sulit ia pahami—antara harapan untuk bertemu lagi dengan Zaura dan keraguan untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Khusus dibuat untuk di ganteng, Rakha

With love, zha💗

So, With Who? Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang